Kropi adalah seekor anak katak. Ia hidup bersama dengan saudara dan kawan-kawannya di sebuah kolam di tengah padang rumput yang luas. Di situ terdapat banyak sekali katak. Yang membuat Kropi terkenal adalah karena dia merupakan katak yang sombong. Memang sih Kropi mempunyai kelebihan, ia merupakan anak katak yang paling besar dan kuat. Dia merasa kalau tidak ada anak katak lainnya yang dapat mengalahkannya.

Kakak Kropi sebenarnya sudah menasehati agar Kropi tidak bersikap sombong. Kepada teman-temannya atau kepada siapa pun juga. Tetapi, nasehat kakaknya tersebut tidak pernah dihiraukannya. Hal ini yang menyebabkan teman-teman mulai menghindarinya. Hingga kini Kropi tidak mempunyai teman bermain lagi.

Pada suatu pagi, Kropi sedang bermain sendirian di padang rumput. Ia belajar melompat. Saat itu juga ada seekor anak sapi yang sedang bermain. Anak sapi itu ditemani ibunya. Sesekali, anak sapi itu mendekati ibunya untuk menyedot susu. Anak sapi itu gembira sekali. Dia berlari-lari sambil sesekali memakan rumput segar. Secara tidak sengaja, lidah anak sapi yang dijulurkan terkena tubuh si Kropi.

“Huh, berani benar si anak sapi ini mengusikku,” kata Kropi dengan perasaan marah. Kropi mencoba menjauhi anak sapi itu. Sebenarnya, anak sapi itu tidak berniat untuk mengganggunya. Kebetulan pergerakannya sama dengan Kropi, sehingga menyebabkan Kropi menjadi cemas dan melompat untuk menyelamatkan diri.

Sambil terengah-engah, Kropi sampai di tepi kolam. Melihat Kropi yang kecapekan, teman-temannya nampak sangat heran. “Hai Kropi, mengapa kamu terengah-engah, mukamu juga kelihatan sangat pucat sekali,” tanya teman-temannya.

“Tidak ada apa-apa. Aku hanya cemas saja. Lihatlah di tengah padang rumput itu. Si anak sapi itu sangatlah sombong. Anak sapi itu hendak menelan aku,” kata Kropi.

Kakak Kropi pun ikut khawatir. Namun ia menjelaskan. “Kropi, anak sapi itu tidak jahat. Mereka memang biasa dilepaskan di padang rumput ini setiap pagi.”

“Tidak jahat? Kenapa kakak bisa bilang seperti itu? Kropi hampir-hampir ditelannya tadi,” kata Kropi.

“Ah, tidak mungkin. Sapi tidak makan katak atau ikan. Ia hanya makan rumput dan daun-daunan hijau,” jelas kakaknya lagi.

“Aku tidak percaya kakak. Tadi, aku dikejarnya dan hampir ditendang olehnya,” potong Kropi. “Wahai teman-teman, sebenarnya aku bisa melawannya dengan menggembungkan diriku,” kata Kropi dengan bangga.

“Lawan saja, Kropi! Kamu pasti menang,” teriak anak-anak katak beramai-ramai.

“Sudahlah, Kropi. Kamu tidak akan dapat menandingi anak sapi itu. Perbuatan kamu berbahaya. Hentikan!” kata kakak Kropi berulang kali. Tetapi Kropi tidak mempedulikan nasehat kakaknya. Kropi terus menggembungkan dirinya, karena dorongan dari teman-temannya. Sebenarnya, mereka sengaja hendak memberi pelajaran pada Kropi yang sombong itu.

“Sedikit lagi, Kropi. Teruskan!” Begitulah yang diteriakkan oleh teman-teman Kropi. Setelah perut Kropi menggembung dengan sangat besar, tiba-tiba Kropi jatuh lemas. Perutnya sangat sakit dan perlahan-lahan dikempiskannya. Melihat keadaan adiknya yang lemas, kakak Kropi lalu membantu.

Untunglah Kropi tidak apa-apa. Dia sembuh seperti sedia kala. Namun dengan kejadian itu, sikapnya telah banyak berubah. Kropi malu dan kesal dengan sikapnya yang sombong. Sejak saat itu, Kropi tidak sombong lagi. Dan ia sekarang mempunyai banyak teman untuk bermain bersamanya.

 

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *