KOKALI, Kopi Kaki Lima yang Merakyat ala Raffi Ahmad Hadir di Lippo Mall Puri

“Ini kopi untuk Papa, dan ini susu untuk Dita,” kata Mama sambil menyiapkan sarapan. “Wah, kopi buatan Mama memang yang paling nikmat. Pasti Papa semangat kerja seharian,” ujar Papa setelah menyeruput kopi hitam yang asapnya masih mengepul. Dita yang setiap hari melihat Papanya meminum kopi hitam, jadi penasaran dengan rasanya.

“Setiap Dita lihat Papa minum kopi, sepertinya enak sekali. Dita jadi ingin mencoba seperti apa rasanya,” kata Dita. “Ini kan minuman orang dewasa, Dit. Kamu minum susu saja, supaya pintar,” kata Papa memberi pengertian. “Sudah hampir jam 7, nih. Ayo berangkat, nanti kamu terlambat,” seru Papa, memutus rasa penasaran Dita. Dita pun mengikuti Papa naik mobil, sambil memasukkan kotak makan berisi roti yang belum sempat ia makan.

Rasa penasaran Dita tidak hilang begitu saja. “Vin, kamu pernah coba kopi nggak?” tanya Dita pada Alvin teman sekelasnya. “Pahit, Dit! Tapi, aku heran, kenapa orang dewasa suka sekali  minum kopi,” jawab Alvin. “Ah, masa pahit? Kata Papaku, kopi buatan Mamaku paling nikmat. Berarti kan pasti rasanya enak,” sangkal Dita. “Huh, ya sudah, kamu coba saja sendiri!” seru Alvin kesal.

“Assalamualaikum…,” Dita memberi salam ketika masuk ke dalam rumah. Melihat Mama sudah berdandan rapi, Dita penasaran. “Mama mau ke mana? Kok rapi sekali,” tanya Dita. “Mama ada urusan sebentar ke rumah Tante Ira. Mama sudah siapkan makan siang. Jangan lupa makan, ya, sayang,” pesan Mama.

Karena siang itu matahari terik sekali, Dita merasa tenggorokannya kering. Ia pun segera menenggak habis 1 gelas air dingin. Rencana yang tak terpikirkan sebelumnya, seketika muncul saat Dita melihat toples yang bertuliskan “KOPI”.

Rasa penasaran, membuatnya iseng untuk membuat kopi sendiri. Berbekal melihat Mamanya membuat kopi untuk Papa, Dita melakukan hal yang sama. 3 sendok kopi mendarat sempurna di gelas yang biasanya diisi dengan susu. Biasanya Mama menggunakan air yang baru mendidih dari teko, namun Dita tak bisa menyalakan kompor. Tak kehabisan ide, ia menggunakan air panas dari dispenser. “Yang penting sama-sama air panas,” batinnya.

Setelah mengisi gelas tersebut dengan air panas, Dita pun mengaduknya. Mulai tercium aroma khas kopi. “Hmm, wanginya sama seperti buatan Mama,” pikirnya. Perlahan, ia meniup permukaan kopi buatannya sambil mencium aromanya. Sama seperti yang dilakukan Papa ketika minum kopi.

Setelah dirasa tak terlalu panas, Dita mulai menyeruput kopi buatannya. “Slurrpp…” Dita terdiam sejenak merasakan air berwarna hitam pekat menyentuh lidahnya. “Pffftt, kok begini, ya, rasanya? Pahit banget!” seru Dita jengkel. “Kok Papa doyan sekali minum kopi setiap pagi, ya?” lanjutnya. Kemudian, Dita segera mencuci gelasnya dari sisa-sisa kopi.

Esok harinya, seperti biasa Papa menyeruput kopinya. “Kamu masih mau coba kopi Papa?” tanya Papa. “Nggak! Nih lihat, susuku menunggu untuk diminum,” jawab Dita,  lalu menenggak habis susu cokelat hangatnya. Kejadian kemarin membuatnya tak penasaran lagi dengan rasa kopi dan memang benar kata Alvin, kalau kopi rasanya pahit.

 

Cerita & Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *