2 Tahun Perempuan Pelestari Budaya dan 11 Tahun Dian Oerip Berkarya

Kekayaan budaya Indonesia dari Sabang sampai Merauke demikian banyaknya. Mulai dari tarian daerah, busana, kuliner, dan banyak lagi. Alangkah baiknya sebagai bangsa Indonesia, kita turut melestarikan keberlangsungan hidupnya, ya, teman-teman.

Seperti yang selama ini dilakukan oleh komunitas Perempuan Pelestari Budaya (PPB) sejak awal berdirinya pada tahun 2017 lalu. Para perempuan yang tergabung dalam komunitas ini berkomitmen untuk menjaga serta melestarikan budaya tradisional dan nilai luhur bangsa Indonesia.

Nah, pada Sabtu, 2 November 2019 lalu. Komunitas Perempuan Pelestari Budaya berulang tahun yang ke-2. Mereka menggelar acara bertajuk “Merayakan Cinta Budaya” di Jambuluwuk Thamrin Hotel, Jakarta Pusat, dengan menggandeng Dian Oerip, desainer tenun wastra nusantara sekaligus pemilik label Oerip Indonesia. Selain merayakan ulang tahun ke-2 PPB, gelaran tersebut juga dilakukan guna merayakan 11 tahun Dian Oerip berkarya serta soft launching Jambuluwuk Thamrin Hotel.

“Kami berkolaborasi untuk satu tujuan, melestarikan budaya Indonesia yang begitu kayanya. Misalnya Jambuluk dari segi sajian kulinernya atau desain interior hotelnya, Mba Dian Oerip dengan karya fashion tenun wastra (kain tradisional), dan Perempuan Pelestari Budaya dalam hal melestarikan budaya Indonesia, entah itu lewat tarian, mengenakan baju tradisional ke kantor atau mal, dan sebagainya,” buka Ibu Diah Kusumawardhani Wijayanti, pendiri komunitas Perempuan Pelestari Budaya.

Fashion show koleksi Oerip Indonesia

Acara ‘Merayakan Cinta Budaya” tersebut dimeriahkan dengan agenda menarik, seperti fashion show para Mama memakai koleksi Dian Oerip berhadiah wisata ke Thailand, diskusi wastra dan tutorial Lilit Wastra bersama Dian Oerip serta penampilan tari tadisional Maumere dan Batak. Wah, dari awal kedatangan, para Mama tersebut sudah tampil sangat cantik, lho. Mereka mengenakan pakaian berbahan wastra yang sangat cantik, mulai dari motif, warna hingga modelnya.

Ya, kain tradisional atau wastra adalah peninggalan turun menurun leluhur yang menjadi salah satu kekayaan budaya negara kita Indonesia. Misalnya ulos, songket, batik besurek, tenun buna NTT, tenun Tuban, tenun Sumba, dan sebagainya.

“Kita pengen jadi influencer untuk menginspirasi perempuan-perempuan lain dan juga anak-anak untuk mencintai wastra Indonesia,” lanjut Ibu Diah yang mengatakan bahwa dalam waktu dekat komunitas Perempuan Pecinta Budaya yang saat ini beranggotakan 28 orang akan buka cabang di Bali dan Jerman.

Selama ini, komunitas PPB sudah banyak melakukan kegiatan antara lain mendanai sekolah tari di Nusa Tengara Timur, melakukan pementasan seni tari Indonesia ke beberapa negara, hingga kegiatan amal untuk para penderita AIDS.

Terkait jumlah anggota yang masih terbilang minim, Ibu Diah mengatakan bahwa mereka sangat menyaring ketat para perempuan yang ingin masuk komunitas. “Proses penyaringannya rada unik. Kita lihat jejak digital sosial medianya, suka nyebar hoax gak, terlibat SARA tidak, itu udah pasti gak kita masukin. Lalu, untuk menjadi anggota setidaknya memiliki misi sama, mencintai budaya tradisional Indonesia. Mungkin sama-sama suka kain tradisional Indonesia, mendukung merek lokal, misalnya,” terang Ibu Diah seraya menjelaskan bahwa anggota komunitas Perempuan Pelestari Budaya terdiri dari beragam profesi, seperti notaris, pengacara, wartawan, dan sebagainya.

(kiri – kanan) Marchella Purwanaika, VP. Marketing Jambuluwuk Thamrin Hotel, Diah Kusumawardhani Wijayanti, pendiri komunitas Perempuan Pelestari Budaya, Dian Oerip, Desainer tenun wastra nusantara dan pemilik label Oerip Indonesia, dan Susan Puspadewi, pendiri komunitas Perempuan Pelestari Budaya dalam acara “Merayakan Cinta Budaya” di Jawuluwuk Thamrin Hotel, Jakarta (2/11/19).

Sementara itu, Dian Oerip yang telah mengharumkan nama Indonesia lewat desain kain batik, tenun, songket, sarung serta busana nusantara dan dikenal hingga mancanegara seperti Austria, Belanda, Yunani, Jerman, Amerika Serikat dan Afrika, sangat menyambut baik kolaborasi ini.

“Tanpa Oerip lovers, Oerip Indonesia juga bukan apa-apa, tidak akan bisa sejauh ini. Oerip Indonesia adalah sebuah karya wastra nusantara, menggabungkan kain-kain nusantara menjadi sebuah baju. Terima kasih kepada Oerip lovers yang setia mencintai karya-karya kami sehingga penenun-penenun di seluruh tanah air tetap bisa bertahan,” katanya.

Dalam menghasilkan karya wastra nusantara, Dian Oerip bekerja sama dengan penenun dari seluruh Indonesia, paling banyak berada di Nusa Tenggara Timur (NTT). Tak hanya itu, demi mengajarkan generasi muda daerah untuk mencintai wastra, Dian Oerip punya konsep fashion show yang juga unik.

“Fashion show Oerip Indonesia tidak pernah di panggung. Fashion show-nya di alam terbuka dekat rumah-rumah penenun. Hal ini juga untuk sekaligus menanamkan kepada anak-anak mereka untuk mencintai hasil tenunan ibu mereka,” tutupnya.

Foto: Efa, Istimewa

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *