Istilah depresi tidak asing bagi kita. Depresi adalah perasaan sangat sedih atau suasana hati yang buruk. Sebagian besar dari kita pernah merasakannya. Pada sebagian orang, depresi dapat reda dan tidak berdampak, namun bagi yang lain, depresi dapat menjadi gangguan berat hingga berdampak pada kesehatan mentalnya dan perlu diwaspadai kemungkinan menderita Gangguan Depresi Mayor.

Dalam ilmu kedokteran jiwa atau psikiatri, untuk mendiagnosis seseorang mengalami gangguan depresi mayor perlu diketahui apa saja gejala-gejala yang dialami. Gangguan depresi mayor tidak hanya merupakan gangguan emosional atau suasana hati, namun umumnya juga menunjukkan gejala fisik, psikis, dan sosial yang khas. Beberapa gejala gangguan depresi mayor adalah rasa sedih yang terus menerus, pesimis, rasa tidak berdaya, gampang tersinggung, insomnia, sulit makan, menarik diri hingga melakukan usaha untuk bunuh diri.

Sebagai suatu peyakit, gangguan depresi mayor dapat ditangani dengan benar oleh tenaga medis atau tenaga kesehatan jiwa profesional. Selain itu, keluarga dan pendamping berperan penting dalam kesembuhan pasien. Penanganan gangguan depresi mayor mungkin membutuhkan kombinasi dari psikoedukasi, psikoterapi, pengobatan atau farmakoterapi (menggunakan antidepresan yang tersedia dalam bentuk tablet, semprotan hidung (nasal spray), dan sebagainya), dan neurostimulasi-dimana contoh neurostimulasi adalah repetitive Transcranial Magnetic Stimulation (rTMS) dan Electroconvulsive Therapy (ECT).

Dedikasi Johnson & Johnson

Selama lebih dari 60 tahun, Johnson & Johnson telah berdedikasi untuk meningkatkan tingkat kesembuhan penderita gangguan jiwa. Selama setengah abad terakhir, Janssen Pharmaceutical Companies of Johnson & Johnson telah menemukan, mengembangkan, dan meluncurkan banyak perawatan inovatif untuk kondisi yang memengaruhi otak dan sistem saraf pusat.

Untuk diketahui, kesehatan jiwa bisa berdampak pada kesehatan fisik, sosial, dan ekonomi individu serta masyarakat di seluruh dunia. Lebih dari tiga perempat orang yang menderita penyakit jiwa tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah dimana akses untuk perawatan kesehatan jiwa yang berkualitas, sangat terbatas. Bahkan lebih dari 75% orang dengan gangguan jiwa, tidak mendapatkan perawatan sama sekali.

“Berdasarkan temuan utama dari dokumen white paper di wilayah Asia Pasifik bertajuk “Rising Social and Economic Cost of Major Depression: Seeing the Full Spectrum” yang disponsori oleh Johnson & Johnson Pte. Ltd. dan dilakukan oleh KPMG di Singapura, terdapat kurang dari separuh pasien yang berjuang melawan gangguan depresi mayor (Major Depressive Disorder/MDD) di kawasan Asia Pasifik menerima diagnosis yang tepat, dengan 71% pasien MDD menderita gejala yang memburuk karena pengobatan tidak disesuaikan dengan kebutuhan mereka,” terang Devy Yheanne, Country Leader of Communications and Public Affairs PT Johnson & Johnson Indonesia.

“Data dari White Paper tersebut mengungkapkan bahwa Asia Pasifik memiliki tingkat penyakit depresi dan penyakit jiwa yang jauh lebih tinggi daripada bagian lain dunia. Dokumen tersebut menyoroti bahwa orang yang hidup dengan depresi, 40% kurang produktif daripada individu yang sehat, sedangkan harapan hidup seseorang dengan MDD adalah 20 tahun lebih pendek dari rata-rata,” tambah Devy.

Penyebaran eksponensial dari pandemi COVID-19 juga bertindak sebagai faktor pendorong dalam pertumbuhan segmen tele-health di Indonesia. Ini sangat bermanfaat bagi pasien serta profesional terlatih dalam domain perawatan kesehatan mental karena memungkinkan individu untuk memanfaatkan konsultasi profesional tanpa harus mengunjungi rumah sakit atau pusat perawatan primer. Dengan peningkatan penetrasi internet di seluruh negeri, memungkinkan psikiater dan terapis terlatih untuk melayani lebih banyak pasien tanpa dibatasi oleh geografi. Ini juga dapat memecahkan masalah kekurangan tenaga profesional terlatih dalam jangka pendek.

Menurut dr. Nalini Muhdi Agung, Sp.KJ(K), FISCM, Ketua Seksi Kesehatan Jiwa Perempuan di PDSKJI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia), berdasarkan data riset kesehatan dasar dari Kementerian Kesehatan Indonesia pada tahun 2018, sebanyak 6.1% penduduk berumur setidaknya 15 tahun di Indonesia menderita depresi. “Tidak ada data persis mengenai berapa banyak dari populasi ini yang menderita gangguan depresi mayor, namun diasumsikan bahwa proporsinya cukup besar. Selanjutnya, berdasarkan Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Indonesia tahun 2019, terdapat 1800 jiwa/tahun yang meninggal akibat bunuh diri, dimana 23.2% dari kalangan ini menyandang penyakit jiwa,” ucapnya.

dr. Nalini pun mengungkap data yang cukup mengejutkan dimana setiap hari ada 5 orang di Indonesia yang meninggal karena bunuh diri. “29 persen perempuan, 71 persen laki-laki. Termuda usia 10 tahun dan tertua usia 87 tahun. Sebanyak 47.7 persen pelaku bunuh diri adalah usia 10-39 tahun,” ungkapnya.

Menurut dr. Nalini salah satu upaya pencegahannya adalah dengan meningkatkan resiliensi atau kemampuan untuk mengantisipasi dan merespons segala perubahan yang terjadi, baik sekarang maupun di kemudian hari. “Tetap terkoneksi dengan keluarga dan teman terutama di saat krisis dan segera pergi ke tenaga profesional untuk mencegah depresi bertambah buruk untuk mendapatkan terapi jangka panjang,” ujarnya.

Melihat ada anak usia 10 tahun yang sudah melakukan bunuh diri, dr. Nalini menyarankan agar melatih mental anak sejak dini sehingga anak memiliki mental yang kuat. “Saya selalu bilang pada banyak orang tua kalau anak itu dari kecil sudah harus diperkenalkan dengan perasaan ketidaknyamanan. Anak yang terus dimanja dan dijauhkan dari ketidaknyamanan, saat tiba-tiba terkena musibah cukup besar, ia tidak terlatih punya resiliensi. Perkenalkan anak dengan rasa kecewa, gagal, ataupun frustrasi. Namun jika anak misal mendapat nilai jelek, jangan dimarahi karena dia pun sudah merasakan rasa kecewa atau gagal. Karena kalau dimarahi tidak memberikan resiliensi yang baik. Karena isu nasional saat ini adalah bagaimana membuat anak bahagia, mendidik anak bukan mendidik anak untuk sukses, tapi mendidik bagaimana seorang anak bahagia sehingga yang lain-lainnya mengikuti,” jelasnya.

Terakhir, jika Anda atau keluarga atau teman Anda mengalami gejala-gejala yang disebutkan di atas dan mencurigai adanya gangguan depresi mayor, terutama bila ada niat untuk melukai diri sendiri dan atau bunuh diri, segeralah berkonsultasi pada tenaga kesehatan jiwa profesional, seperti psikiater, dokter umum, atau psikolog.

Foto: Novi

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *