“Tino, pulang sekolah jangan main kemana-mana, bantu Ibu buat kolak biji salak untuk buka puasa nanti ya!” perintah Ibu Tino. “Baik, Bu. Aku langsung pulang ke rumah nanti,” sahut Tino sambil mencium tangan Ibunya sebelum berangkat ke sekolah.

Sampai di sekolah, Tino menuju kelasnya yang berada di lorong paling ujung. Ia melewati teman-teman perempuan yang bergerombol di depan pintu. Kuping Tino tidak sengaja mendengar obrolan mereka mengenai menu buka puasa.

Berbagai macam hidangan buka puasa yang dibicarakan teman-temannya, sungguh menggiurkan dan membuat air liurnya hampir menetes. “Bagaimana ya rasanya kolak biji salak yang mau dibuat Ibu nanti? Biji salak kan keras sekali. Hem… mungkin mau dimasak pakai panci presto kali, biar empuk,” gumam Tino.

Beberapa teman Tino yang tidak menjalankan puasa, sedang asyik makan salak di pojok ruangan kelas. “Albert, nanti biji salaknya dikumpulin ya,” pinta Tino. “Bijinya mau ditanam ya?” tanya Albert. “Tidak kok, mau dibuat kolak untuk buka puasa nanti sore,” jawab Tino. Albert yang masih bingung atas permintaan Tino pun hanya mengangguk-angguk saja.

Sore hari usai bangun tidur siang, Tino segera menuju dapur sambil membawa plastik berisi biji salak yang dia minta dari Albert di sekolah tadi. “Bu, ini aku bawakan biji salak untuk tambah-tambah kolak biji salak nanti. Mana salak yang harus aku kupas dan ku ambil bijinya?” ucap Tino.

Ibu Tino terdiam sejenak setelah menerima biji salak dari Tino, kemudian tertawa terpingkal-pingkal. “Ibu, kenapa menertawaiku? Apa ada yang salah dengan ku?” tanya Tino bingung. “Kolak biji salak yang akan Ibu buat itu tidak menggunakan bahan dari biji salak, tetapi dari ubi yang dikukus lalu dibentuk kecil-kecil sebesar biji salak,” terang Ibu. “Ohhh… ku kira biji salaknya mau di-presto lalu dibuat kolak,” sahut Tino tersipu malu.

Saat tiba berbuka puasa, di depan Tino telah terhidang semangkok kolak biji salak hangat. “Kolak biji salak ini memang enak, tapi kalau dibuatnya pakai biji salak beneran, bisa sakit gigiku,” ucap Tino terkikik dan Ibu pun tertawa.

 

 

Cerita: JFK    Ilustrasi: JFK

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *