Sudah tiga hari ini bengkel Pak Maman tutup. Padahal, hampir setiap hari dia bekerja. Pagi-pagi sekali dia sudah membuka bengkel tambal ban miliknya dan baru pulang menjelang petang.

“Oh, saya tidak tahu. Mungkin Pak Maman ada keperluan penting atau sakit,” kata penjual toko kelontong di samping bengkel Pak Maman ketika Ramzi bertanya.

Hari berikutnya, bengkel Pak Maman masih tetap tutup. Bengkel yang biasanya selalu ramai, kini menjadi sepi. Tidak terlihat lagi tukang sol sepatu, tukang isi korek, tukang reparasi payung keliling, dan pejalan kaki yang beristirahat di bengkelnya.

Maklum, letak bengkel Pak Maman di bawah pohon beringin yang rindang. Letaknya tak jauh dari sekolah Ramzi.

Ramzi dan teman-temannya juga merasa kehilangan Pak Maman. Orangnya baik dan pandai melucu. Bahkan, kalau anak-anak sekolah menambal ban sepedanya pada Pak Maman, Pak Maman selalu menolak dibayar.

Hampir setiap jam istirahat, Ramzi dan teman-temannya bermain di bengkel Pak Maman. Kalau kebetulan tidak ada orang yang menambal ban, Pak Maman kerap bercerita tentang dirinya. Dari cerita ini akhirnya Ramzi tahu, dulunya ayah Pak Maman juga penambal ban sepeda. Semasa kecil, Pak Maman biasa membantu ayahnya. Lambat laun Pak Maman mempunyai keterampilan seperti ayahnya. “Pak Maman bersyukur bisa menjadi tukang tambal ban. Senang sih senang bekerja di kantoran. Tapi kalau semua orang bekerja di kantoran, atau menjadi guru, lalu siapa yang menambal ban bocor? Tapi, Pak Maman ingin Taufik anak Pak Maman, kelak bekerja di kantoran,” ungkap Pak Maman.

“Itu sebabnya, anak Pak Maman dilarang membantu di bengkel?” tanya Ramzi.

“Oh, tidak begitu, Nak. Pak Maman anjurkan agar Taufik belajar di rumah, atau membantu ibunya. Ya, anak cuma satu,” kata Pak Maman sambil tersenyum.

Sekarang sudah dua pekan bengkel Pak Maman tutup. Selembar triplek bekas menutupi pintunya. Juga ada iris-irisan ban dalam digantungkan di terasnya.

Dua pekan, tiga pekan, bengkel Pak Maman tetap tutup. Ini membuat Ramzi sedih. Ramzi ingin ke rumah Pak Maman, tapi dia tidak tahu alamat persisnya. Katanya sih rumahnya harus menyeberangi rel kereta api.

Sebulan kemudian, bengkel Pak Maman buka kembali. Waktu istirahat, buru-buru Ramzi ke bengkel Pak Maman. Akan tetapi rasa senang Ramzi hanya sesaat. Soalnya, bukan Pak Maman yang ditemui, tetapi orang lain. Orangnya persis Pak Maman. Tangannya berotot. Tubuhnya gempal. Jari-jarinya besar. Ternyata dia adalah Pak Soleh, adik Pak Maman. “Pak Maman ke mana, Pak?” tanya Ramzi.

“Sedih juga ditinggal Pak Maman, ya Nak? Tapi memang sudah jalan hidupnya begitu,” jawabnya ramah.

“Pak Maman meninggal?” potong Ramzi.

“Oh, tidak. Maksudnya, sudah jalan hidup Pak Maman berhenti menjadi tukang tambal ban. Kamu belum tahu kalau Taufik, anak Pak Maman sudah sarjana? Dia bekerja di Departemen Keuangan. Sekarang ini Pak Maman dan istrinya ikut anaknya,” kata Pak Soleh.

Ramzi tercengang. Anak Pak Maman sudah sarjana. Hebat! Ramzi salut sama Pak Maman. Ternyata dari pekerjaannya menambal ban, ia bukan saja menghidupi keluarganya, tapi juga membiayai anaknya kuliah. Jerih payahnya sekarang membuahkan hasil.

Ramzi menanyakan alamat rumah Pak Maman. Untungnya Pak Soleh tidak keberatan. “Saya ingin mengirim surat, Pak,” kata Ramzi sambil mencatat alamat rumah Pak Maman.

Tiga bulan kemudian datang sepucuk surat balasan dari Pak Maman. Ada selembar foto Pak Maman dan istrinya mengapit anaknya yang mengenakan toga. Dalam suratnya, Pak Maman mengabarkan ia baik-baik saja. Sekarang tak punya kegiatan selain duduk-duduk dan menonton televisi. Di akhir suratnya, Pak Maman menulis, “Nak, bapak rindu menjadi tukang tambal ban lagi.” (Teks: Just For Kids/ Ilustrasi: Fika)

 

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *