Guga adalah seekor anjing Maltese yang sangat dimanjakan oleh pemiliknya. Jika dia berjalan-jalan dengan tuannya, Guga tidak dibiarkan berjalan di jalanan kompleks. Dia digendong tuannya. Guga juga diberikan makanan khusus yang mahal, dan setiap seminggu sekali dia dibawa ke salon untuk dimandikan. Guga yang hidup dengan kemewahan dan kemudahan, bersifat lugu.

Suatu hari setelah diajak berjalan-jalan oleh tuannya, Guga dikunjungi seekor anjing bernama Mili. “Hai Guga, kau penghuni baru di wilayah kami, ya? Selamat datang! Namaku Mili, ayo kita berteman!” sapa Mili ramah. Guga yang belum punya teman, senang sekali bertemu dengan Mili. “Hai, Mili! Aku senang menjadi temanmu!” kata Guga.

Guga mengobrol banyak dengan Mili. Dia juga bercerita banyak mengenai rumahnya. “Hati-hati dengan kucing liar bernama Piko, Guga. Dia itu jahat. Piko juga sangat berani. Dia suka berkelahi dan mencakar!” kata Mili pada Guga. Guga merasa takut. “Apa yang harus kulakukan jika suatu saat nanti bertemu dengan Piko?” tanya Guga. “Tenang saja, kau pasti aman. Tuanmu selalu menggendongmu, kan? Piko tidak akan bisa berbuat jahat padamu,” kata Mili.

Beberapa hari setelah Mili bercerita tentang Piko, sesuatu terjadi di rumah Guga. Pot-pot bunga di rumah Guga pecah berantakan. Guga terkejut. Majikan Guga sangat marah, dan dia mengira Guga-lah yang memecahkan pot-pot bunga itu. Guga sangat sedih. Dia tidak diajak berjalan-jalan lagi oleh tuannya. Guga hanya bisa memandangi jalanan di luar rumahnya dengan sedih.

Mili datang dan menghiburnya. Guga menceritakan kejadian yang dialaminya. “Itu pasti ulah Piko!” kata Mili yakin. Entah kenapa mendengar ini, Guga yang tadinya takut dengan Piko merasa sangat marah. Kesedihan Guga karena dimarahi tuannya membuatnya berani. “Jika kau bertemu dengan Piko, tolong beritahu aku. Aku akan membuat perhitungan dengannya!” kata Guga.

Mili memberitahu Guga dimana dia bisa bertemu dengan Piko. Guga diam-diam keluar rumah dan menemui kucing itu. “Piko! Kau kucing jahat pemecah pot bunga! Kau membuat tuanku marah dan membuatku dimarahi!”seru Guga.

Tapi, Piko tidak menyerang Guga. Dia hanya memandang Guga sambil mencoba mengingat sesuatu, sebelum akhirnya berkata pada Guga, “Oh, kau adalah anjing di rumah yang banyak tikusnya!” Kini giliran Guga yang bingung. “Tikus?” tanya Guga. “Ya, maaf kalau waktu itu aku memecahkan pot bunga di rumahmu. Aku mengejar tikus. Kalau di rumahmu ada tikus, bisa gawat. Hal terburuk, dia bisa menyebabkan listrik di rumahmu mati,” kata Piko.

“Piko…kau ternyata tidak jahat!” kata Guga. Lalu, kenapa Mili mengatakan kalau Piko jahat? “Mili iri padamu. Kau sangat dimanjakan oleh tuanmu, Guga. Aku pernah melihatmu digendong oleh tuanmu. Mili berusaha membuatku membencimu, dan kau membenciku,” kata Piko. Mendengar ini, Guga terkejut dan sedih. “Mulai sekarang aku tidak akan jadi anjing manja lagi,” janji Guga. “Itu bagus,” kata Piko. Sejak saat itu, Guga dan Piko bersahabat.

Suatu hari, Piko meninggalkan bangkai tikus di dekat Guga dengan pot yang terguling. Majikan Guga mengetahui kalau ada tikus di rumahnya dan pot yang terguling akibat usaha untuk menangkap tikus.

Guga tidak lagi dimarahi dan sebagai permintaan maaf, majikan Guga membiarkan anjing itu berlaku sesuka hatinya. Hal ini digunakan Guga untuk mandiri. Mili yang melihat perubahan Guga, tidak lagi iri padanya. Guga juga sudah memaafkan Mili. Rupanya, Mili sering diabaikan oleh pemiliknya, jadi dia bersikap jahat. Tapi, sekarang Guga dan Piko menjadi teman Mili dan anjing itu berubah menjadi baik!

 

 

 

 

Cerita: Seruni     Ilustrasi: Agung

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *