Seekor burung kutilang terjatuh dari sarangnya sewaktu belajar terbang. Dia terpisah dari saudaranya. Si burung yang tersesat kemudian ditemukan oleh seorang petani. Pak Petani yang baik membawa anak burung itu ke rumahnya. Berkat perawatan Pak Petani, kutilang kecil itu kembali sehat. “Kau kuberi nama Pipi,” ucap Pak Petani. “Terima kasih, Pak Petani!” seru Pipi bahagia.

Pak petani hidup seorang diri karena istri dan anaknya sudah lama meninggal. Dia pun merawat Pipi dengan penuh kasih sayang hingga tumbuh menjadi burung yang cantik dan bersuara merdu.

Suatu hari, Pipi terbang berjalan-jalan melihat pemandangan. Tiba-tiba, seekor burung memotong jalur terbangnya. “Hei!” seru Pipi marah. Dia pun mengejar si burung misterius. Burung itu hinggap di sebuah dahan pohon. Pipi terkejut melihat seekor burung kutilang yang mirip dengannya. “Sudah lama aku memperhatikanmu. Namaku Pila. Aku adalah saudaramu yang terpisah,” katanya.

Mendengar pengakuan burung tersebut, kemarahan Pipi hilang. “Namaku Pipi. Bagaimana kalau kau tinggal bersamaku?” ajak Pipi. “Kau yang harus tinggal bersamaku,” kata Pila. “Aku tidak bisa meninggalkan Pak Petani yang telah merawat dan menyayangiku sejak kecil,” tolak Pipi. “Jadi kau lebih suka menjadi peliharaan orang daripada tinggal di alam bebas? Suatu saat nanti, si petani akan membuangmu!” seru Pila dengan penuh kebencian, lalu terbang meninggalkan Pipi.

Keesokan harinya, Pipi terkejut melihat sawah Pak Petani mendadak rusak. “Kenapa sawahnya jadi gersang dan hitam?” gumam Pipi sedih. Kemudian terdengar suara kicau serak yang sinis. “Pila! Apakah ini perbuatanmu?” seru Pipi. “Ya, akulah yang merusak sawah ini dengan meminjam kekuatan penyihir. Ikutlah denganku! Dengan begitu sawah ini akan kembali seperti semula!” jawab Pila.

Pipi merasa tak punya pilihan lain. Dia mengepakkan sayap, bersiap pergi mengikuti Pila. “Jangan pergi!” terdengar suara Pak Petani memanggil Pipi. Ternyata dia mendengar pembicaraan Pipi dan Pila. “Petani, kalau kau harus memilih antara sawahmu dengan Pipi. Mana yang akan kau pilih?” tanya Pila. “Aku bisa berkebun, jadi aku memilih Pipi. Pila, memendam kebencian hanya akan membuatmu menderita. Aku ingin menolongmu,” kata Pak Petani.

Pila terkejut dan terharu mendengar niat tulus Pak Petani. “Setelah apa yang kulakukan kau tidak membenciku?“ tanya Pila terharu. Ia pun bercerita kenapa dirinya membenci manusia kepada mereka. “Dulu, aku pernah ditangkap oleh pecinta burung sewaktu mencari Pipi. Awalnya aku disayang karena kicauanku merdu. Tapi, suaraku berubah serak, dan aku dibuang,” cerita Pila.

Pak petani dan Pipi sedih mendengarnya. “Ayo tinggal bersama di rumahku, Pila. Aku tidak peduli dengan suara indah dan akan menyayangi kalian seperti keluargaku sendiri,” ucap Pak Petani. Akhirnya Pila melupakan kebenciannya dan hidup bahagia bersama Pipi dan Pak Petani.

 

Cerita: Seruni   Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *