Mungkin kamu dulu belum pernah membayangkan, bahwa kegiatan sekolah bisa dilakukan dari rumah. Ya, di era Adaptasi Kebiasaan Baru ini, banyak hal yang berubah, ya, Kids? Pandemi Covid-19 memaksa kita semua untuk bisa melakukan semua kegiatan dari rumah.

Termasuk juga sekolah. Dengan istilah BDR (Belajar Dari Rumah), kini sekolah pun melakukan sistem PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Kebiasaan baru, tentu menghadirkan tantangan tersendiri, Kids. Berbagai permasalahan bermunculan, mulai dari masalah sarana dan prasarana seperti gadget dan kuota internet, masalah kesehatan, maupun masalah psikologis seperti rasa bosan, tertekan, dan lain sebagainya.

Nah, untuk bisa menghadapi dan beradaptasi dengan kebiasaan baru ini, tentu dibutuhkan fisik yang sehat dan mental yang tangguh. Untuk itulah pada Sabtu, 26 September 2020, didukung oleh Kemendikbud dan Badan POM, Frisian Flag Indonesia bekerjasama dengan PT. Cahaya Inspira Adiwangsa, menggelar acara virtual bertema “Menjadi Orang Tua Tangguh di Era Adaptasi Kebiasaan Baru” #SELALUMINUMSUSU yang diikuti oleh ratusan orang tua dan guru.

Acara yang dimoderatori oleh Kak Nucha Bachri (Pendiri Parentalk.id) ini menghadirkan para pembicara yaitu; Ibu Dewi Prawitasari (Direktur Pemberdayaan Masyarakat dan Pelaku Usaha BPOM RI), Prof. Dr. Sandra Fikawati (Pakar Gizi Kesehatan Masyarakat, Guru Besar FKM UI), Ibu Melly Kiong (Motivator, Penulis Parenting, dan Pemerhati Anak), serta Prof. R. Eko Indrajit (Pakar Teknologi dan Edukasi Digital). Spesial hadir memberikan kata sambutan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Bapak Nadiem Makarim dan Bapak Andrew F. Saputro, Corporate Affairs Director PT Frisian Flag Indonesia.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nadiem Makarim

“Saya sangat mengapresiasi, siswa, guru, dan orang tua yang mau mencoba hal baru. Merdeka berkolaborasi. Kemerdekaan yang menghasilkan efisiensi dan banyak kreativitas. Banyak coba dan banyak karya,” ucap Bapak Nadiem Makarim dalam sambutannya.

Keamanan Pangan

Berbicara masalah kesehatan, maka harus ditunjang dengan makan makanan yang bergizi, ya. Menurut Ibu Dewi Prawitasari dari Badan POM (Pengawasan Obat dan Makanan), tak hanya bergizi, makanan yang kita konsumsi juga harus aman. Sesuai dengan Undang-Undang No.18 Tahun 2012 tentang keamanan pangan, baik itu makanan dalam kemasan maupun makanan yang kita siapkan sendiri. “Makanan yang aman, terbebas dari pencemaran biologi, fisik, maupun kimia. Pencemaran biologi misal bakteri, pencemaran fisik misal makanan yang di-straples dimana besi straples-nya yang kecil sangat berbahaya jika termakan dan nyangkut di tenggorokan,  sedangkan pencemaran kimia misalnya zat-zat pewarna maupun pengawet pada makanan. Usia di bawah lima tahun, jangan biasakan makan makanan mengandung pemanis buatan,” ucap Ibu Dewi. “Kuncinya adalah KLIK. Cek Kemasannya apakah dalam kondisi yang baik. Cek Label-nya apakah memiliki label yang lengkap seperti informasi nilai gizi dan mudah dipahami isinya. Pastikan Izin edar-nya seperti dari BPOM (MD=Makanan Dalam atau ML=Makanan Luar). Dan terakhir, cek tanggal Kadaluarsa-nya,” tambahnya memberikan tips.

Dewi Prawitasari (Direktur Pemberdayaan Masyarakat dan Pelaku Usaha BPOM RI)

Pengetahuan Gizi yang Baik

Pakar Gizi Kesehatan Masyarakat, Prof. Dr. Sandra Fikawati juga mengatakan bahwa kita pun harus memiliki pengetahuan gizi yang baik agar kesehatan tetap terjaga untuk belajar di rumah. “Pastikan selalu sarapan setiap hari, karena sarapan memberikan energi dan zat gizi penting untuk siap belajar, aktif, dan tetap sehat. Makan makanan beraneka ragam sesuai Pedoman Gizi Seimbang dan Isi Piringku. Jangan lupa, sediakan air minum dan biasakan minum air putih yang cukup saat belajar di rumah. Siapkan buah dan sayur sebagai makanan selingan saat belajar di rumah. Dan baik juga saat belajar diselingi minum susu minimal segelas untuk memastikan seluruh kebutuhan zat gizi terpenuhi,” papar Dr. Sandra. “Jangan begadang, cukup tidur/beristirahat untuk menjaga stamina tubuh. Walaupun di rumah, aktivitas fisik tetap harus dilakukan. Setelah belajar beberapa jam, ambil waktu istirahat untuk meregangkan badan. Pada waktu senggang, tanpa harus ke luar rumah, kita pun dapat berolahraga dengan melakukan virtual gym,” paparnya kemudian.

 

Prof. Dr. Sandra Fikawati (Pakar Gizi Kesehatan Masyarakat, Guru Besar FKM UI)

Isi Piringku

Cara mudah untuk menganekaragamkan makanan yang kita makan adalah dengan menerapkan pepatah “ciptakan pelangi di piring makanmu”. Minimal harus ada 3 warna dalam piring makan kita. Bila dalam piring sudah berwarna seperti pelangi berarti makanan tersebut sudah beranekaragam.

Dalam sekali makan, Isi Piringku harus berisi: Sepertiga bagian makanan pokok, sepertiga bagian lauk pauk dan buah, sepertiga bagian sayuran, dan air putih. Mengapa harus beranekaragam? Karena, agar tubuh sehat dan berfungsi normal, diperlukan seluruh jenis zat gizi setiap hari.

Perlu diingat, bahwa tidak ada satu pun makanan yang memiliki kandungan zat gizi yang lengkap. Secara alami, setiap jenis makanan akan memiliki kandungan zat gizi tertentu yang tinggi tetapi rendah untuk zat gizi lainnya.

Sebagai contoh: nasi, singkong, jagung, ubi, tinggi karbohidrat tetapi rendah protein, vitamin, dan mineral. Ikan, telur, ayam, udang, tinggi protein tetapi rendah karbohidrat. Sayur dan buah tinggi vitamin dan mineral tetapi rendah lemak dan protein. Mengonsumsi beranekaragam makanan setiap kali makan, agar mendapatkan seluruh zat gizi yang diperlukan oleh tubuh.

Logo “Pilihan Lebih Sehat”. Berarti produk pangan telah memenuhi kriteria untuk dapat dikelompokkan sebagai pilihan yang lebih sehat dibandingkan dengan pangan olahan sejenis.

Pedoman Gizi Seimbang

Pedoman Gizi Seimbang terdiri dari 4 pilar utama yaitu: 1. Makan makanan beranekaragam. 2. Membiasakan perilaku hidup bersih. 3. Melakukan aktivitas fisik secara teratur. 4. Memantau dan mempertahankan berat badan normal.

Kalau kita tidak menerapkan gizi seimbang, jika kekurangan konsumsi dapat menyebabkan kurus dan menurunkan kekebalan tubuh sehingga tubuh mudah terkena penyakit infeksi seperti diare, thypus, dan lain-lain. Sedangkan kelebihan konsumsi dapat menyebabkan kegemukan dan meningkatkan risiko penyakit degeneratif (penyakit jantung, diabetes, stroke, darah tinggi, dan lain-lain).

Melly Kiong (Motivator, Penulis Parenting, dan Pemerhati Anak)

Pribadi Tangguh

Ibu Melly Kiong seorang Motivator, Penulis Parenting, dan Pemerhati Anak mengatakan bahwa pendidikan itu tidak hanya di sekolah, tapi juga di dalam keluarga dan lingkungan. “Pendidikan di sekolah 33,3%, di rumah/keluarga 33,3%, dan lingkungan 33,3%. Jadi, 66,6%-nya itu ada di rumah/lingkungan. Pendidikan yang baik sekarang, sangat penting untuk 20 tahun yang akan datang dimana anak akan menjadi pribadi yang tangguh,” tandasnya. “Kunci dalam pendidikan ada lima. Pertama, pegang telinga. Kita harus mendengar penuh perhatian dan bicara pada anak dengan empati. Bicara sejajar, tatap mata, dan lihat wajahnya. Kedua, tutup mulut alias tidak menghakimi. Ketiga, kendalikan emosi diri karena anak-anak perekam yang ulung. Keempat, adil dan bijaksana yaitu berikan sesuai dengan kebutuhan. Dan kelima, welas asih yaitu mencintai dan mengasihi,” tambah Ibu Melly.

Prof. R. Eko Indrajit (Pakar Teknologi dan Edukasi Digital)

Permasalahan gadget dan kuota internet yang kini mengemuka, dipandang Prof. R. Eko Indrajit seorang Pakar Teknologi dan Edukasi Digital, justru harusnya kita semua bersyukur ada IT. “Teknologi merupakan konsekuensi logis saat ini karena sedang pandemi. IT itu ibarat pupuk bagi tanaman, kelebihan akan mati, kekurangan juga tidak akan tumbuh. Oleh karena itu, kita harus tahu porsi yang pas. Jangan sampai kegiatan belajar mengajar terhenti dan manfaatkanlah teknologi yang ada sebaik mungkin,” ucapnya.

Foto: Novi

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *