Trotoar jalan depan SD Tunas Mandiri, biasa menjadi tempat mangkal seorang pengamen buta paruh baya. Ia biasa menggelar kain berwarna gelap sebagai wadah uang. Rega yang bersekolah di SD Tunas Mandiri, setiap hari melihat pengamen berkacamata hitam tersebut menyanyi. Dalam hati, ia menyimpan rasa iba pada pengamen itu. Namun, untuk memberikan sebagian uang jajannya, ia masih sedikit ragu.

Walaupun bukan berasal dari keluarga kaya, Rega selalu diajarkan orang tuanya untuk berbagi. Seperti misalnya, ia seringkali berbagi bekal makanan dengan temannya yang tidak membawa uang saku. Bahkan, ketika ia dibawakan bekal ikan, ia juga berbagi dengan kucing di sekolahnya. Akan tetapi, untuk memberikan uang, ia sedikit ragu karena ia hanya diberi Rp 3000 oleh Ibunya. Itu pun hanya untuk naik angkutan ketika berangkat dan pulang sekolah.

Esok harinya, seperti biasa, Rega turun dari angkutan membayar Rp 1500, dan sisa uangnya tinggal Rp 1500. Ia masih bertekad untuk bisa memberikan sebagian uangnya kepada si pengamen. Tapi, jika ia memberikannya, bisa-bisa ia harus pulang berjalan kaki. Hal itu pun terpikir sepanjang pelajaran berlangsung.

Ketika bel istirahat berbunyi, ia membuka bekalnya dan seperti biasa menawarkan temannya mencicipi bekal roti buatan Ibunya. “Yo, kamu mau coba roti buatan Ibuku, nggak? Enak, lho,” ujar Rega kepada Yoyo. Yoyo yang tak membawa uang saku, menyambut gembira tawaran Rega. Rega membagi rata roti tersebut dan memakannya bersama Yoyo.

Sepulang sekolah, Rega masih juga bingung dengan uang yang ia pegang. Setelah menguatkan tekad, ia meletakkan uang logam Rp 500 di kain si pengamen. Rencananya, ia akan jalan kaki sampai rumah dan sisa uangnya akan dibelikan minum di tengah jalan. Namun, setelah meletakkan uang logam tersebut, bukannya kata terima kasih yang ia terima. “Yah, uang logam Rp 500 sekarang nggak dapat apa-apa. Dasar anak-anak,” gumam si pengamen buta.

Rega terkejut mendengar perkataan si pengamen. “Lho, kok dia bisa tahu aku kasih Rp 500? Padahal tidak bisa melihat,” Rega bertanya-tanya dalam hati. Lalu, ia kembali dan meletakkan uang seribu yang rencananya untuk membeli minum. “Ini, Pak. Semoga bermanfaat, ya,” ujar Rega.

Sesampainya di rumah, Rega segera masuk ke dalam rumah dan menenggak air putih banyak-banyak. “Rega, kamu kok haus banget kelihatannya? Keringatnya juga banyak sekali, Nak,” tanya Ibu. “Rega pulang jalan kaki, Bu. Haus sekali, di luar terik,” jawabnya terengah-engah.

Akhirnya, Rega menceritakan kejadian sebelumnya kepada Ibu. “Apa sebenarnya dia tidak buta, ya, Bu? Aku jadi menyesal sudah membantunya,” kata Rega masih penasaran. Ibu hanya menggeleng-gelengkan kepala dan membelai rambut anaknya.

“Ibu bangga sama kamu, Nak. Walaupun tidak berlebihan, kamu mau mengorbankan uang sakumu demi orang lain,” ucap Ibu. “Kalaupun dia hanya pura-pura buta agar dikasihani orang, itu bukan urusan kita. Biar Tuhan yang membalas. Yang penting kamu tulus dan ikhlas membantu,” nasihat Ibu. Rega berusaha mengerti nasihat Ibu dan mengikhlaskan uang yang telah ia berikan kepada pengamen tersebut.

 

 

Cerita: JFK        Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *