Hari Minggu pagi, terdengar bel pintu rumah Wendi. Rupanya ada kiriman paket. “Wah, asyiik, ada jeruk dari Nenek dan Kakek!” seru Kak Ana, kakak Wendi. Wendi seharusnya senang mendapat kiriman buah jeruk dari Kakek dan Nenek. Tapi tidak bisa, karena Wendi takut makan jeruk. Dia tidak ingin di dalam perutnya nanti tumbuh pohon jeruk! Cukup sekali saja Wendi menelan biji jeruk.

Sebelum Wendi menelan biji jeruk, dia sangat suka makan jeruk, dan buah-buahan. Suatu hari, dia membawa jeruk-jeruk kiriman dari Kakek dan Nenek ke sekolah. Wendi membagikan jeruk-jeruk itu ke teman-temannya. Wendi mendengar seorang temannya bercanda dan dia tertawa. Saat itulah sebuah biji jeruk tertelan oleh Wendi. Wendi khawatir dan menceritakan ini pada Kak Ana.

Kak Ana memandang Wendi dengan prihatin. Dia lalu menunjukkan sebuah foto yang mengerikan. Di foto itu ada orang terbaring di rumah sakit,  dengan pohon jeruk yang tumbuh dari perutnya. “Tenang saja, kamu kan hanya menelan satu biji jeruk, tidak akan jadi seperti ini,” kata Kak Ana menghibur. Tapi hal itu cukup membuat Wendi tidak ingin lagi makan buah, baik jeruk, ataupun buah lainnya.

Suatu hari, Nela teman baik Wendi menelepon Wendi. Nela bertetangga dengan Wendi, walaupun tidak satu sekolah, tapi mereka berteman akrab. “Halo, Wendi! Hari Minggu nanti main ke rumahku, ya. Kita makan semangka bareng, yuk!” ajak Nela antusias. “Wa..Waah makasih Nela, aku pasti datang!” kata Wendi. Wendi sangat panik. Bagaimana ini? Semangka kan banyak bijinya! Tapi mana mungkin Wendi menolak ajakan Nela?

Hari Sabtu wajah Wendi sangat murung. “Kok, cemberut saja?” tanya Mama yang ternyata memperhatikan Wendi. “Kenapa sih Ma, buah harus ada bijinya?” keluh Wendi. Mama bingung mendengar keluhan Wendi, lalu bertanya apa yang terjadi. Wendi pun menceritakan semua pada Mama. Setelah mendengar cerita Wendi, Mama tersenyum penuh pengertian.

“Wendi, kalau memang benar biji buah-buahan bisa tumbuh di perut, Mama sudah jadi pohon sekarang! Mama sudah sering menelan biji buah waktu kecil dulu,” kata Mama. “Jadi, itu hanya cerita bohong? Tapi Kak Ana punya fotonya!” kata Wendi. Terdengar suara tawa Kak Ana. “Tentu saja itu juga bohong!” kata Kak Ana di sela tawanya. Rupanya foto itu hanya buatan, dan Kak Ana menemukannya di internet.

“Kak Ana iseng sama aku!” gerutu Wendi. “Makanya, mulai sekarang hati-hati. Kamu harus mulai menumbuhkan sikap kritis, Wendi. Dengan begitu kamu tidak akan mudah dibohongi,” nasihat Kak Ana. “Mama setuju dengan Kak Ana,” kata Mama. Kak Ana menjelaskan kalau di dalam perut kita ada senyawa yang bisa menghancurkan biji buah yang tertelan. ”Jadi kamu tidak perlu khawatir. Hanya saja berhati-hatilah kalau makan, jangan sampai tersedak,” kata Mama. “Iya, Ma!” angguk Wendi.

Hari Minggu, dengan bahagia Wendi datang ke rumah Nela. Wendi membawa jeruk yang didapatnya dari Kakek dan Nenek, dan dua sahabat itu makan jeruk dan semangka bersama tanpa khawatir tertelan biji!

 

 

 

 

Cerita: Seruni    Ilustrasi: Agung

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *