Hari ini Bu Titut mengirim Angel mengikuti lomba vokal. Suaranya memang bagus. Indah dipilih mengikuti olimpiade Matematika. Sementara Atila mengikuti olimpiade IPA. Sahabat-sahabatnya memang pandai. Syakira menghela napas panjang. Sesungguhnya, Syakira sangat ingin mempunyai prestasi seperti sahabat-sahabatnya.

Syakira merenung di depan teras rumahnya. Ia berpikir apa yang dapat dilakukannya untuk keluarga dan sekolahnya. Ia ingin menjadi kebanggaan Bu Titut, teman-teman, dan Mamanya.

“Mikir apa, sih, Kira? Ada masalah?” tegur Mama sambil meletakkan sepiring pisang goreng di hadapan Syakira. Dengan sedih, Syakira menceritakan keinginannya.

“Kenapa tidak Syakira tanyakan saja pada Bu Titut? Pasti ada alasannya Bu Titut memilih teman-temanmu. Setiap orang kan punya kelebihan masing-masing. Mama yakin, Syakira juga punya kelebihan. Dan yang penting, Syakira harus jaga kesehatan,” kata Mama mencolek hidung Syakira.

Esok harinya, di sekolah, Syakira mendekati Astrid. Ia komandan peleton baris berbaris di sekolah. “Trid, aku ikut dong, lomba baris berbaris,” rayu Syakira.

“Jangan, Kira, lombanya berat, lho! Nanti asmamu kambuh,” kata Astrid sambil meminta maaf pada Syakira. Syakira sedih mendengarnya.

Penyakit asma Syakira memang sering kambuh. Hari Sabtu lalu, ia memaksakan diri berlari mengelilingi lapangan. Syakira ingin bisa mewakili kelasnya dalam lomba lari antar kelas. Namun akhirnya, ngik..ngik..Syakira gemetar bersandar di pagar sekolahnya. Pak Yanto bergegas membawa Syakira ke ruang UKS.

Waktu itu, Bu Titut segera memberi obat pada Syakira. Bu Titut juga berpesan, agar Syakira tidak memaksakan diri. Syakira sangat sedih memikirkan tubuhnya yang begitu lemah. Ia mengerti, semua orang peduli padanya. Namun, ia tidak ingin dianggap lemah. Ia tidak ingin penyakitnya menjadi halangan untuk maju. Syakira ingin membuktikan bahwa ia juga mampu.

Suatu hari, Bu Titut mengumumkan siswa yang akan tampil mengikuti Pesta Besar Siaga kali ini. Syakira kecewa karena ia tidak terpilih. Syakira menuangkan kekesalannya saat membuat tugas menulis puisi. Goresan penanya di kertas mengungkapkan perasaannya. Syakira tidak sadar apa saja yang telah ditulisnya. Saat bel berbunyi, Syakira mengumpulkan tugasnya di meja Bu Titut.

“Puisimu bagus sekali,” puji Bu Titut keesokan harinya. “Coba kamu tulis puisi yang lain. Kirim ke majalah sekolah kita,” saran Bu Titut. Syakira mengangguk gembira. Ia tak sabar ingin menceritakan pengalamannya pada Mama.

Beberapa minggu kemudian, Syakira, Angel, dan Indah berjalan memasuki perpustakaan. Indah tiba-tiba menarik tangan Syakira.

“Kira..coba lihat ini!” seru Indah, menunjuk pada salah satu artikel di majalah dinding. Syakira tak mempercayai apa yang dilihatnya. Itu puisi yang dikirimnya beberapa minggu lalu. Syakira sangat gembira dan menceritakan hal itu pada Bu Titut.

“Prestasi bukan hanya bagi mereka yang pandai atau berbakat di bidang olahraga. Kamu sudah membuktikan bahwa dirimu berprestasi. Puisi-puisimu itu, adalah karya yang membanggakan,” puji Bu Titut.

Dua minggu kemudian, puisi Syakira kembali dimuat. Kali ini di majalah bulanan sekolahnya. Bu Titut memanggil Syakira.

“Tulisanmu bagus. Puisimu banyak menghiasi mading dan majalah kita. Ibu ingin kamu mengikuti lomba membaca puisi pada perayaan Hari Kemerdekaan minggu depan,” ujar Bu Titut.

“Tapi, saya belum pernah melakukannya, Bu,” kata Syakira. “Tunjukkan kemampuanmu. Masih ada kesempatan, Syakira!” ujar Bu Titut lagi.

Setibanya di rumah, Syakira menceritakan tawaran Bu Titut pada Mamanya. “Betul! Jangan berkata tidak bisa, sebelum mencoba. Kesempatan sudah di depan mata. Tunjukkan pada setiap orang bahwa Syakira pantas dibanggakan,” ujar Mama memberi semangat.

“Betul, masih ada kesempatan!” tandas Syakira tersenyum penuh keyakinan dan harapan.

 

Cerita: JFK   Ilustrasi: JFK 

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *