Kerajaan Uka dan Kerajaan Uki dulunya adalah satu kerajaan, namanya Kerajaan Ukaki. Raja di  Kerajaan Ukaki adalah Raja terbaik  yang pernah ada. Rakyat mencintai dan menghormati Raja Ukaki, karena dia adalah pemimpin yang bijaksana dan selalu mementingkan kesejahteraan rakyat.

Raja Ukaki juga pemimpin yang pintar. Negeri Ukaki kaya dengan sumber daya alam. Raja Ukaki melindungi sumber daya alam di negerinya dan mencerdaskan rakyatnya, menjadikan mereka terampil mengolah sumber daya alam itu, sehingga tidak ada kerajaan lain yang bisa merebut kekayaan alam Ukaki dengan curang.

Namun zaman berganti, begitu juga dengan sifat Raja yang menjadi pemimpin Ukaki. Raja yang baru, sangat egois dan menjual sumber daya alam Kerajaannya pada Kerajaan lain, dan menggunakan uang hasil penjualan ini untuk dirinya sendiri.

Sang Raja tidak lagi peduli pada kesejahteraan rakyatnya. Dia lebih menghargai orang asing yang membawa uang daripada rakyatnya.  Adik sang Raja yang membenci sifat buruk kakaknya, lalu mendirikan kerajaan sendiri yaitu  Kerajaan Uki. Sedangkan kakaknya menamakan daerah kerajaannya yang tersisa, Kerajaan Uka.

Kerajaan Uki dan Kerajaan Uka tidak pernah akur sampai sekarang. Bahkan Kerajaan lain menjadikan mereka bahan ejekan. Saat ini, Raja Uki sedang mencari alasan untuk menyerang Kerajaan Uka. Begitu juga dengan Raja Kerajaan Uka. Perang sepertinya akan terjadi lagi.

Di suatu tempat yang jauh dari pusat kota Kerajaan Uki dan Uka, 3 orang bertemu secara rahasia. Yang seorang adalah tetua Kerajaan Uka dan Kerajaan Uki yang punya kekuatan istimewa. Dua orang yang lain adalah jenderal-jenderal kepercayaan Raja Uka dan Raja Uki. Mereka sudah bosan dan benci dengan perang, karena hanya akan menimbulkan kerusakan alam dan penderitaan bagi rakyat.

“Bagaimana cara menghentikan perang?” tanya Jenderal Uki. “Itu mudah saja. Siapa yang ingin berperang?” tanya Jenderal Uka. “Tentu saja Raja Uka dan Raja Uki,” jawab Jenderal Uki. “Kita suruh mereka yang berperang, bukan rakyat,” kata Jenderal Uka. “Serahkan caranya padaku,” kata sang tetua.

Raja Uka dan Raja Uki sangat terkejut ketika bangun tidur keesokan harinya. “Kenapa kau ada di sini?!” seru Raja Uka marah pada Raja Uki. “Harusnya aku yang bertanya padamu!” teriak Raja Uki marah. “Kalian berdua belum mandi dan memakai piyama tidur, sama-sama memalukan. Berhenti bertengkar,” kata sebuah suara ketiga yang menggema menakutkan, membuat Raja Uka dan Raja Uki terdiam ngeri.

Sosok pria tua perlahan mendekati mereka. “Aku adalah tetua kerajaan kalian. Umurku lebih dari 100 tahun. Berpuluh-puluh tahun lamanya aku menjauhi kehidupan mewah dan mendekat pada alam. Saat ini perang kalian telah merusak keseimbangan alam. Kalian ada di sini karena kemarahan alam. Kalian diharuskan berperang satu sama lain sampai musnah!” kata sang tetua.

Bersamaan dengan itu tiba-tiba muncul senjata-senjata menakutkan. “Pilih senjata itu, dan berperanglah,” kata si pria tua mengancam. “Tidak mau!” seru Raja Uki dan Uka bersamaan. Wajah mereka pucat. “Kenapa? Kalian takut? Tidak seperti rakyat yang harus mengungsi dan jadi korban, prajurit atau jenderal yang berperang di garis depan, dan alam serta makhluk hidup lain yang malang, kalian hanya duduk dan memberi perintah! Ayo rasakan sendiri penderitaan mereka!” seru si tetua.

Tapi, Raja Uki dan Raja Uka malah menangis meraung-raung. Mereka kini saling berpelukan, menyesal dan berjanji akan berdamai untuk selamanya. “Maafkan kebodohan kami!” tangis Raja Uka dan Raja Uki.

Rakyat terkejut dan gembira ketika Raja Uka dan Uki memutuskan untuk menghentikan perang. Mereka menyatukan kembali Kerajaan Uka dan Uki sehingga namanya menjadi Ukaki lagi. Semua penghuni kerajaan belajar dari masa lalu dan bersama-sama meninggalkan kepentingan pribadi mereka untuk membangun Kerajaan Ukaki yang baru dan kuat, sehingga Kerajaan yang tadinya dipandang sebelah mata oleh Kerajaan lain, menjadi dihormati dan disegani.

Sang tetua dan kedua jenderal yang berjasa membentuk kedamaian, menolak posisi penting yang ditawarkan pada mereka. “Keinginan kami hanya perdamaian dan kemakmuran di Negeri ini, dan sekarang itu sudah tercapai,” jawab mereka.

 

 

 

 

Cerita: Seruni    Ilustrasi: Agung

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *