Puteri Nadina adalah puteri tunggal Ratu Juwita, Ratu Kerajaan Lembayung di Pulau Lembayung. Pada suatu hari, setelah ulang tahunnya yang ke-17, Puteri Nadina menemukan sebuah peta tua di gudang istana. Peta itu adalah peta Pulau Lembayung yang dikelilingi lautan. Tapi ada sebuah pulau kecil yang tidak pernah muncul di peta-peta yang pernah dilihat Puteri Nadina sebelumnya. “Aneh sekali,” gumam Puteri Nadina.

Puteri Nadina menyimpan peta tua itu dan pada suatu kesempatan menunjukkannya pada Ratu Juwita. “Ibu, mengapa peta ini lain dari peta kerajaan yang biasanya? Pulau apa ini?” tanya Puteri Nadina sambil menunjuk pulau kecil yang tergambar dalam peta.

Wajah Ratu Juwita berubah pucat pasi, lalu berkata dengan suara bergetar marah, “Jangan pernah tanyakan pulau itu lagi. Pulau itu sangat berbahaya dan tidak berpenghuni. Lupakan pulau itu!” Puteri Nadina bingung dengan reaksi Ibunya, dan dia tak berani bertanya lebih lanjut.

Suatu hari, Puteri Nadina tak sengaja mendengar percakapan para pengurus taman istana. “Kasihan sekali, Tona si pengurus gudang diusir dari istana! Kudengar Puteri Nadina menemukan peta yang harusnya tidak boleh ada. Ini menyangkut masa lalu Ratu yang ditutupi!” kata mereka. Puteri Nadina terkejut. Mengapa Ibunya tidak pernah menceritakan apapun padanya?

Sejak itu Puteri Nadina murung, hatinya gundah, dan satu-satunya teman bicaranya adalah burung gagak peliharaannya yang bernama Hitam. “Apa yang harus kulakukan Hitam? Kuharap kau bisa menolongku,” keluh Puteri Nadina sedih. Keesokan harinya Hitam menghilang, dan tak ada seorang pun di istana yang tahu dimana Hitam berada.

Putus asa, Puteri Nadina duduk sedih di taman. “Puteri,  Hitam ada di Pulau Batu,” sebuah suara mengejutkan Puteri Nadina. Rupanya itu Tona si pengurus gudang istana. Dia diam-diam datang menemui sang Puteri. “Aku tidak bermaksud jahat padamu, aku hanya ingin bertemu dengan kakak kembarku yang sudah lama terpisah, dan dia ada di Pulau Batu. Dulu sebelum menjadi milikmu, Hitam milik kakak kembarku,” kata Tona. “Kalau begitu, ini adalah jawaban dari kegundahan hatiku!” seru Puteri Nadina.

Puteri Nadina pergi bersama Tona ke Pulau Batu. Ternyata, tidak ada bahaya apa pun di pulau itu. Ratu Juwita berbohong pada Puteri Nadina. Di pulau itu hidup orang-orang pecinta damai dan baik hati. Pemimpin mereka adalah Tonia, saudara kembar Tona. Hitam yang dicari Puteri Nadina bertengger dengan tenang di bahu Tonia. “Ibuku Ratu Juwita menyembunyikan sesuatu dariku, dan aku ingin mendengar kebenaran,” kata Puteri Nadina pada Tonia.

“Sebelum jadi kerajaan, Pulau Lembayung dihuni oleh orang-orang yang mencari keselamatan karena ditindas di negeri mereka. Orang-orang ini termasuk nenek moyangmu dan kami, Puteri Nadina. Lalu Pulau Lembayung menjadi makmur karena tanahnya yang subur, dan sebuah kerajaan yang kuat menjajah Pulau Lembayung.  Ibu kami berjuang bersama Ibumu mengusir penjajah. Kemerdekaan akhirnya bisa diraih dan negeri Lembayung menjadi kerajaan dengan Ibumu sebagai Ratu. Tapi setelah menjadi Ratu, Ibumu mulai takut kalau Ibu kami mencuri kekuasaannya. Lalu Ibumu mengasingkan Ibu kami dan orang-orang yang sudah ikut berjuang bersamanya ke Pulau Batu. Ibumu memisahkan aku dan saudara kembarku. Tona diambil sebagai sandera dan dipaksa bekerja di istana agar Ibuku tidak menyerang Kerajaan Lembayung. Ratu melarang semua orang mengetahui Pulau Batu, dan karena sedih, Ibu kami meninggal di pengasingan,” cerita Tonia.

Tiba-tiba, Hitam mengepak-ngepakkan sayapnya gelisah. Rupanya, rombongan Ratu Juwita mengejar Puteri Nadina sampai ke Pulau Batu! “Beraninya kau melanggar perintahku, Nadina! Kembali ke istana sekarang juga karena aku akan menghancurkan Pulau Batu beserta semua yang tinggal disini!” seru Ratu Juwita marah. “Aku tidak akan pulang, Ibu. Aku sudah mendengar kebenaran dari mereka. Aku akan tinggal di sini. Berikanlah takhta kerajaan pada Tonia. Ini keputusanku sebagai anak yang sudah dewasa,” kata Puteri Nadina.

“Anak tidak tahu diri, lebih baik aku juga menghancurkanmu!” seru Ratu Juwita mengambil anak panah dan hendak memanah Puterinya sendiri. Tapi, sebelum sang Ratu sempat melepaskan tali busur panah, tiba-tiba kilat menyambar dari langit, dan Ratu Juwita berubah menjadi batu.

Inilah hukuman dewa atas kejahatan Ratu Juwita. Rakyat Kerajaan Lembayung dengan senang hati menyambut Tonia yang jujur, sederhana, dan baik hati sebagai Ratu mereka. “Kau tidak sama dengan Ratu Juwita yang jahat, kembalilah ke Kerajaan Lembayung,” pinta Tona pada Puteri Nadina. “Aku tidak bisa. Bagaimanapun juga, Ratu Juwita adalah Ibuku, dan jika dia dihukum aku juga harus menerima hukuman,” kata Puteri Nadina.

Puteri Nadina pun menjadi seorang pertapa di Pulau Batu. Keputusan itu diambilnya tanpa penyesalan. Tapi dia tidak sendiri. Hitam si gagak memutuskan tinggal bersama Puteri Nadina, dan dia mengajak teman-teman binatangnya untuk menemani Puteri Nadina yang baik hati.

 

 

 

Cerita: Seruni     Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *