Suatu siang, Bubu si burung terbang menuju sebuah pohon mahoni yang rindang. “Panas sekali hari ini!” katanya. “Permisi pohon, apakah aku boleh berteduh di daun-daunmu yang rindang itu?” tanya Bubu. “Tentu saja boleh,” jawab si pohon mahoni. “Terima kasih!” seru Bubu bahagia. “Tapi, sebagai gantinya, apakah aku boleh minta tolong padamu?” tanya si pohon mahoni. “Tentu saja boleh,” jawab Bubu. “Maukah kau membantu menolong temanku yang bernama Keke. Dia sedang sedih,” jelas si pohon mahoni. “Baiklah, aku akan menolongnya,” kata Bubu.

Setelah mengucapkan selamat tinggal pada si pohon, Bubu segera terbang menuju rumah Keke, setelah sebelumnya diberi tahu si pohon mahoni. “Itu dia rumah Keke. Wah, rupanya dia pembuat kembang api!” kata Bubu yang melihat tabung-tabung mesiu yang banyak di dalam rumahnya. Rupanya, suara Bubu didengar Keke dan dia pun segera keluar dari rumahnya. “Aku diminta Bubu untuk membantumu Keke,” kata Bubu. Tapi Keke yang melihat Bubu masih menunjukkan wajah sedih. “Maafkan aku, Bubu. Seharusnya aku senang dan berterima kasih karena kau mau membantuku. Tapi aku jadi khawatir karena masalahku cukup besar. Aku takut akan membahayakanmu,” jelas Keke. “Nah, aku tidak akan tahu sebelum kau menceritakannya padaku!” kata Bubu.

Akhirnya, Keke menceritakan masalahnya pada Bubu. “Di desaku ada gunung berapi bernama Pipa. Sudah lama dia tidak meletus, dan orang-orang desa menganggapnya tidak berbahaya. Tapi belum lama ini dia bergolak, dan penduduk desa terpaksa mengungsi. Padahal sebentar lagi tahun baru. Aku tak ingin mereka bersedih. Tujuanku satu, yaitu ingin membujuk si gunung untuk memberikan letusannya menjadi kembang api yang membuat bahagia, bukan bencana yang membuat penderitaan,” cerita Keke. “Aku akan berbicara pada Pipa. Aku bisa berbicara pada gunung karena umurku cukup tua,” kata Bubu.

Bubu berbicara dengan Pipa. “Pipa, aku tahu kau sudah lama berada di sini. Tapi sekarang waktu sudah berlalu, dan di kakimu banyak ditinggali oleh manusia. Ada desa yang indah dan mereka hidup tenang dan bahagia. Kumohon jangan membuat mereka bersedih. Aku juga tahu kau bangga dengan letusanmu yang hebat. Namun sayang sekali tidak ada yang bahagia melihat letusanmu. Tapi ada satu cara agar kau bisa bangga. Bagaimana kalau kau menyerahkan apimu pada manusia bernama Keke? Keke akan membuat kembang api dari apimu dan dengan begitu, letusanmu akan dikagumi,” kata Bubu. “Bubu, kau burung kecil yang berani dan baik hati. Terima kasih karena kau, aku jadi tahu kalau banyak manusia yang tinggal di sekitarku. Aku tak ingin membuat mereka menderita. Aku akan menyerahkan apiku pada Keke,” kata Pipa. “Terima kasih, Pipa!” kata Bubu sangat gembira.

Keke lalu membuat kembang api besar dari api Pipa untuk menyambut tahun baru. Penduduk desa yang gembira karena terbebas dari bencana, sudah menantikan kembang api itu. Ketika kembang api buatan Keke meledak di langit desa, penduduk bersorak gembira. Pohon mahoni, Bubu, dan Pipa menyaksikan kembang api itu dengan kagum. “Indah sekali! Keke memang hebat!” seru mereka. “Tidak, ini karena kebaikan hati kalian semua,” kata Keke penuh rasa terima kasih.

 

 

 

Cerita: Seruni  Ilustrasi: Agung

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *