Setelah lama belajar dari rumah karena adanya pandemi yang menyeramkan, akhirnya Wina bisa belajar di sekolah lagi. Memang belum semua murid bisa masuk, satu kelas hanya bisa diisi oleh 15 orang murid saja, dan itu hanya yang orangtuanya memperbolehkan masuk. Winda senang karena sahabatnya, Elis termasuk yang diizinkan masuk oleh Mama dan Papanya, sama seperti dirinya.

Hari Senin, Elis melambai pada Wina dari ruang kelas. “Wina!” sapa Elis. “Elis! Akhirnya kita bisa belajar di sekolah bersama lagi, ya!” kata Wina senang. “Iya, aku senang sekali!” ujar Elis segera duduk dekat Wina.

Wina dan Elis lalu mengobrol dengan seru. Tiba-tiba, dari lantai di atas mereka, terdengar suara. Wina dan Elis terdiam. “Suara apa itu, ya?” tanya Elis. Wina berkonsentrasi mendengarkan. “Seperti suara kursi dan meja yang digeser…,” jawab Wina. Kemudian teman-teman sekelas mereka mulai berdatangan. Suasana kelas mulai ramai karena suara mereka, dan yang paling aneh adalah, suara dari lantai atas kelas juga bertambah kencang, seakan tidak mau kalah! Kemudian seorang teman sekelas mereka, Adi menyadari suara itu. “Itu suara apa, sih?” tanyanya. Sebelum Wina dan Elis sempat menjelaskan, Ibu Guru masuk ke ruang kelas dan suara itu tiba-tiba berhenti.

Setengah jam kemudian, Adi meminta izin Ibu Guru untuk pergi ke toilet, dan Ibu Guru mengizinkan. Lalu, Ibu Guru minta tolong Elis untuk mengambilkan buku di perpustakaan, untuk bahan pelajaran. Tapi, sepuluh menit berlalu dan keduanya belum kembali.

Terdengar suara langkah di luar ruang kelas dan Pak Ben penjaga sekolah mengatakan kalau Elis terkunci di dalam perpustakaan! Teman-teman sekelas langsung ribut. Tapi Ibu Guru segera menenangkan mereka. Wina meminta izin untuk ikut karena Elis adalah sahabatnya, lagipula tugas mencatat dari papan tulis Wina sudah selesai.

Ibu Guru mengizinkan Wina ikut. Wina, Ibu Guru, dan Pak Ben segera pergi ke perpustakaan di lantai dua. Mereka baru saja selesai naik tangga ketika melihat Elis berlari kencang sambil melihat ke belakang. “Elis!” seru Wina. “Wina, Bu Guru, Pak Ben!” seru Elis. Elis berhenti berlari sambil mengatur napasnya. “Elis, kamu sudah bisa keluar dari perpustakaan?” tanya Bu Guru. “I..iya, Bu Guru. Aku takut, Bu! Ada kejadian aneh…,” kata Elis dengan suara lirih.

Tapi, belum sempat Wina, Bu Guru, dan Pak Ben mencerna perkataan Elis, tiba-tiba teman sekelas mereka, Aldo datang. “Bu Guru, maaf aku keluar kelas! Tapi ini gawat, Bu, Adi juga terkunci di toilet!” kata Aldo.

Wina dan Elis bisa mendengar suara Adi yang berteriak minta tolong dari toilet. Kali ini banyak anak-anak yang berkerumun di depan toilet, berusaha membuka pintu dan menolong Adi. Pak Ben dan Bu Guru berusaha membuka pintu toilet, tapi sia-sia. “Adi! Tenang dan berdoa! Aku berhasil keluar karena itu!” tiba-tiba Elis berseru. Rupanya, Adi mendengar Elis dan dia berhenti menggedor-gedor pintu. Dan tak lama kemudian, Adi pun berhasil keluar. Semua bersorak gembira.

Pintu perpustakaan dan toilet diperiksa tapi anehnya tidak ditemukan kerusakan apapun. Kemudian Wina mendengar cerita Elis dan Adi. Mereka berdua mengalami kejadian yang sama. Ketika hendak keluar dari perpustakaan dan toilet, tiba-tiba pintu menutup sendiri, padahal tidak ada angin. Dan ketika berusaha membuka pintu, mereka mendengar suara seperti kursi dan meja yang digeser. Tapi ada suara lain yang menyeramkan, yaitu suara tawa. Tawa anak-anak.

Kata Pak Ben, sekolah sudah lama kosong karena anak-anak libur akibat pandemi. Sekolah yang sudah kosong terlalu lama membuat ‘anak-anak lain’ menempatinya. Sepertinya mereka tidak suka Wina dan teman-temannya kembali bersekolah. Entah apakah hal ini harus dipercayai atau tidak. Tapi Wina tahu kalau Elis dan Adi tidak pernah berbohong….

 

 

 

 

 

Cerita: Seruni       Ilustrasi: Novi Chrisna

 

 

 

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *