Selama pandemi dan belajar di rumah, Rebi  dan sahabatnya Deba, berkenalan dengan seorang anak istimewa di media sosial, namanya Elisa. Saat itu, Rebi dan Deba mulai jenuh dengan belajar online di rumah.

“Rebi, kamu cape nggak sih harus melihat layar terus setiap belajar?” tanya Deba suatu hari Sabtu. “Iya! Setuju! Kita memang sahabat akrab ya, kalau kamu cape aku pasti cape juga,” jawab Rebi. “Gimana ya caranya supaya kita nggak cape?” keluh Deba.

Kemudian Rebi dan Deba menemukan akun media sosial milik Elisa. Saat itu Rebi sedang mengetik ‘cara supaya tak cape belajar online’ di internet. Dari hasil pencarian, muncullah akun sosial milik Elisa. Di akun sosial miliknya, Elisa banyak memberi tahu cara-cara supaya tidak lelah dan jenuh kalau belajar online.

Rebi dan Deba mengikuti apa yang ditulis Elisa. “Elisa hebat ya!” seru Rebi kagum. “Iya karena dia biasa menggambar, menggambar juga membuat lelah,” kata Deba. Elisa pintar menggambar, Rebi dan Deba juga ikut belajar menggambar dari Elisa.

Rupanya, gambar-gambar Rebi dan Deba bagus dan mereka mendapat pujian dari teman dan keluarga masing-masing. Ini membuat Rebi dan Deba bahagia. Mereka jadi penggemar Elisa.

Rebi dan Deba jadi suka berbincang online dengan Elisa. Suatu ketika mereka membicarakan tentang sekolah. “Menurutku, cara yang tepat agar kita tidak bosan dan lelah ya, kembali ke sekolah lagi!” kata Deba. “Oh iya, katanya sudah ada vaksin untuk kita! Wah, senang ya!” seru Rebi.

Tapi, Elisa tidak setuju. Dia lalu mengatakan hal yang mengejutkan. “Vaksin itu sebetulnya berbahaya,” kata Elisa. Elisa lalu bercerita hal-hal aneh tentang pandemi yang sebetulnya dibuat. Rebi dan Deba bingung bukan main. Setelah pembicaraan mereka dengan Elisa selesai, Rebi berkata pada Deba, ”Kamu percaya perkataan Elisa?” Deba memandang Rebi dan berkata, ”Iya!”

Keadaan gawat karena sekarang Deba dan Rebi bermusuhan. Sejak tahu kalau Elisa punya pandangan aneh tentang vaksin dan pandemi, Rebi jadi tidak suka padanya. Sebaliknya, Deba  percaya kata-kata Elisa.

Rebi minta pendapat Ayah dan Ibunya soal pertengkarannya dengan Deba. “Mama dan Papa senang Rebi sudah punya pemikiran yang bijaksana, tapi kamu tidak boleh benci Elisa dan Deba. Mereka jadi begitu karena ketakutan. Rebi harus memberi pengertian pada mereka,” kata Papa dan Mama. Rebi mengangguk penuh pengertian. Dia akan menjalankan nasihat Papa dan Mama.

Ketika berjalan mendekati rumah Deba, Rebi melihat ada dua orang anak sedang berdiri saling berhadapan. Satu dari anak itu adalah Deba. Makin mendekat, Rebi terkejut melihat anak yang satu. “Elisa!” seru Rebi.

Elisa menengok ke arah Rebi. Dia tersenyum dan melambai. Rebi berlari ke arah Elisa dan Deba. “Rebi! Ternyata Elisa tinggal dekat dengan kita! Hebat, kan?!” kata Deba senang. “Aku ingin minta maaf pada kalian karena sudah berkata kalau vaksin itu berbahaya dan pandemi hanya bohong,” kata Elisa.

Rupanya, ada kenalan keluarga Elisa yang bekerja sebagai tenaga kesehatan, dan dialah yang memberi penjelasan pada Elisa. Rebi senang dan lega, dia pun berbaikan dengan Deba.

Rebi, Deba, dan Elisa menjadi sahabat. Ketika program vaksinasi untuk anak-anak mulai dijalankan di daerah mereka, tiga sahabat itu dengan bersemangat menjadi pendaftar pertama. Kemudian ada kabar yang mereka nantikan, sekolah mulai dibuka lagi. “Akhirnya, kita kembali ke sekolah!” seru tiga sahabat itu gembira.

 

 

 

Cerita: Seruni    Ilustrasi: Agung

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *