Hari sudah pagi, saatnya Bimo bangun dan berangkat ke sekolah. Namun ada hal yang berbeda pagi ini. Bimo berangkat ke sekolah dengan raut wajah yang sangat kesal. Kenapa? Ya, karena hari ini sangat spesial bagi Bimo. Hari ini dia berulang tahun.

Namun, sayangnya, kedua orangtuanya tak ada yang memberinya kado. Jangankan kado, ucapan selamat saja dia tidak terima. Ibunya yang biasanya sangat perhatian, masih sibuk mengurus Sherly, adik semata wayangnya yang baru berusia 1 tahun. Sedangkan ayahnya, hanya sibuk membaca koran setelah selesai sarapan.

“Huh! Ayah dan Ibu sama saja. Nggak inget kalau hari ini ulang tahunku. Apa iya, gara-gara Sherly mereka jadi melupakan ulang tahunku. Sebel!” ucapnya sambil menggerutu kesal. Bahkan, sampai kesalnya, Bimo tak mau berpamitan atau mengucap salam.

Selama di sekolah, Bimo tidak konsentrasi dengan pelajaran yang diberikan Bu Rahayu, wali kelasnya. Raut mukanya masih sama seperti tadi pagi. Bahkan lebih kesal lagi. Karena, teman-temannya, tak satu pun yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Termasuk Bu Rahayu yang tak pernah lupa dengan ulang tahun siswanya, juga mendadak lupa. Semakin tambah kesallah Bimo. Bahkan, saat teman-temannya bertanya hal kecil padanya, ia mendadak jutek.

Sepulang sekolah. “Kok Pak Sapri yang jemput saya, memang Ayah ke mana?” tanya Bimo pada Pak Sapri, sopir keluarganya. “Em, Bapak lagi ada rapat, Mas. Jadi nggak bisa jemput,” jawab Pak Sapri sambil terbata-bata.

“Terus, Ibu?” tanya Bimo. “Ibu lagi di rumah, jaga mbak Sherly,” jawab Pak Sapri. “Ugh, kenapa sih orang-orang hari ini pada nyebelin banget! Nggak di rumah, nggak di sekolah, pada nyebelin semua. Padahal kan Bimo sekarang ulang tahun. Kenapa nggak ada yang baik-baik sama Bimo. Jangankan kasih kado, kasih ucapan selamat aja nggak ada. Pokoknya nyebelin banget hari ini. Udah, Pak, kita jalan. Bimo laper, tapi jangan pulang ke rumah!” seru Bimo kesal. “Terus kalau nggak ke rumah, ke mana dong, Mas?” tanya Pak Sapri. “Ke mana aja deh! Pokoknya Bimo mau makan tapi nggak di rumah,” seru Bimo lagi.

Agak kaget juga Pak Sapri saat Bimo marah. Sebab, ia jarang sekali melihat putra kesayangan majikannya ini marah-marah. Pak Sapri berfikir sejenak. Tak lama kemudian, ia tersenyum.

“Mas, gimana kalau makan di rumah makan yang biasanya Mas sama Ayah Ibu makan. Itu lho yang di sana,” tunjuk Pak Sapri ke pusat kota. Bimo menengok tajam ke arah Pak Sapri. “Memang Pak Sapri punya uang?” ujar Bimo. “Hehehe, enak aja, biarpun cuma sopir, kalau cuma buat bayarin Mas Bimo, uangnya Bapak juga masih banyak. Memang Mas Bimo mau makan berapa porsi? Yah, anggap saja ini kado buat Mas. Gimana?” tanya Pak Sapri.

Tanpa babibu, Bimo pun langsung mengiyakan. Seketika ia tersenyum ceria. “Terima kasih, Pak Sapri. Biar pun Bapak bukan orangtua saya, tapi Bapak udah kayak Ayah. Nanti kalau Bimo udah gede, terus bisa cari uang sendiri, Bimo ganti deh, Pak,” ucap Bimo senang. Mendengar itu, Pak Sapri tersenyum haru.

Setiba di rumah makan favoritnya, Bimo langsung berlari meninggalkan Pak Sapri yang berjalan pelan di belakangnya. Namun, saat ia membuka pintu, tara……….

“Selamat ulang tahun, kami ucapkan. Selamat panjang umur kita kan doakan. Selamat sejahtera, sehat sentosa. Selamat panjang umur dan bahagia,” Ayah, ibu, Sherly, Bu Rahayu, dan semua teman-temannya menyanyikan lagu itu untuk Bimo. Khusus untuknya.

Ternyata, sikap mereka tadi hanya berpura-pura. Tak terasa, air mata Bimo pun jatuh. Ia malu karena telah berburuk sangka dengan kedua orangtuanya, guru, dan teman-temannya.

Kejutan ini terasa lebih spesial bagi Bimo. Bahkan sangat spesial. Melebihi ucapan selamat atau kado. Selamat ulang tahun, Bimo.

 

Cerita: JFK    Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *