Eli menghela napas sedih. Hari ini, dia tidak bisa masuk sekolah karena penyakitnya kambuh. Eli punya penyakit alergi udara dingin yang parah. Kalau udara dingin menyerang, Eli sesak napas dan harus istirahat. Inilah yang terjadi pada Eli sekarang, sehingga ia harus beristirahat di rumah.

Keesokan harinya, hujan masih turun, tapi karena sudah minum obat dan istirahat cukup, Eli bisa mengerjakan tugas sekolahnya, walaupun belum bisa masuk. Ketika Eli melihat ke jendela, ia melihat Eca temannya melambai. “Eli, kau sakit lagi, ya?” tanya Eca. “Iya, makanya aku nggak bisa masuk sekolah,” jawab Eli. “Aku hari ini juga nggak masuk, bantu kakak mengantar makanan,” timpal Eca.

Eli dan Eca tidak merasa sepenuhnya bahagia. Eli sakit-sakitan, sedangkan keadaan ekonomi Eca kurang baik. Kalau pesanan makanan sedang sepi, Eca tidak bisa membeli apa-apa.

Suatu hari, teman sekelas Eli mengiriminya video melalui gadget. Video itu tentang seorang anak cacat di luar negeri yang tidak punya tangan dan kaki, tapi bisa melukis dengan menggunakan mulutnya. Lukisannya sangat indah dan dibeli banyak orang. “Hebat sekali!” seru Eli.

Tiba-tiba, Eli teringat sesuatu. Dia membuka lemari bajunya dan mengambil sebuah kaos. Di kaos itu ada gambar Eli dan Eca. Kaos itu hadiah dari paman Eli yang punya usaha percetakan. “Paman bilang, gambarku dan Eca bagus sekali,” gumam Eli. Paman Eli pernah minta pada Mama dan Papa Eli agar ia membuat gambar untuk disablon di kaos dan dijual. Papa dan Mama tidak mau, karena menurut mereka Eli masih terlalu kecil dan sakit-sakitan. “Tapi, itu kan dulu, sekarang aku sudah besar,” tepis Eli.

Eli pun menyeritakan keinginannya mendapat uang dengan cara menggambar pada Eca dan kakaknya. Mereka senang dan setuju. “Sekarang aku harus membujuk Papa dan Mama!” tekad Eli.

Ketika makan malam, Eli bicara pada Papa dan Mama. “Eli ingin belajar menghasilkan uang sendiri, Ma, Pa. Lagipula, ada teman yang ingin Eli bantu,” pinta Eli. “Tapi, bagaimana dengan kondisimu yang sakit-sakitan?” tanya keduanya khawatir. Sebagai jawaban, Eli menunjukkan video yang dikirimkan temannya pada Papa dan Mama. Papa dan Mama sangat terkesan dan akhirnya setuju dengan permintaan Eli.

Waktu berlalu, Eli dan Eca kini sudah bisa menghasilkan uang dan menabung. Dibantu Papa, Mama, dan Paman Eli, mereka membuka Kedai Kaos, toko khusus yang menjual hasil karya mereka dan kafe tempat kakak Eca menjual makanan. “Ayo buat Kedai Kaos di seluruh negeri!” seru Eca. “Aku yakin bisa, asal kita mau berusaha,” tandas Eli penuh semangat.

 

 

 

 

 

Cerita: Seruni    Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *