Kasur Tua Misterius

“Bunda, aku mau pakai kasur yang ada di loteng itu. Kasurnya bagus dan empuk. Boleh ya, Bund?”  tanya Mimi sambil merajuk dan memaksa ijin Bunda. “Kamu kan sudah punya kasur,  Mi,” jawab Bunda sedikit bingung dengan permintaan Mimi.

Kasur yang dimaksud Mimi memang kasur tua yang sudah lama disimpan di loteng. Bunda keberatan jika Mimi ingin memakai kasur itu. Kasur itu terlihat berdebu dan kotor. Namun Mimi tetap memaksa ingin memakai kasur itu. Akhirnya, Bunda mengabulkan permintaan Mimi. Bunda menyuruh Mang Udin untuk menurunkan kasur dari loteng.

Ember kecil berisi air dan selembar kain dipakai Mimi untuk membersihkan kotoran yang menempel di kasur tua itu.  Mimi senang sekali dan sudah tidak sabar tidur di atas kasur itu.

“Uhh! Kenapa sih noda ini tidak mau hilang juga? Padahal sudah dibersihkan dengan detergen!” ucap Mimi putus asa dan membiarkan saja noda di kasur tua itu.

Sprei pink sudah terpasang rapi di atas kasur. Mimi pun tersenyum senang. Ia sudah tidak sabar ingin merebahkan badan di atas kasur. Mimi segera pergi ke kamar mandi membersihkan badannya.

Hup!! Mimi dengan cepat merebahkan badannya di kasur tua. Semilir angin berhembus dari jendela kamar, membuat mata Mimi terpejam. Mimi pun tertidur pulas.

“Hei, anak kecil!! Kenapa kamu tidur di kasurku?” ujar seorang perempuan dengan pakaian Noni Belanda. Ia terlihat sangat marah pada Mimi. Mimi terperanjat kaget dan takut. “Ini kasurku!” ujar Mimi tak mau kalah. Ia berusaha mempertahankan kasur tua miliknya itu.

Noni Belanda itu pun semakin marah. Tangannya mengacungkan payung untuk dilempar ke arah Mimi. Mimi segera terbangun karena Bunda mengguncang-guncangkan tubuhnya.

“Mimi, kamu kenapa marah-marah sambil tidur? Kamu tidak berdoa dulu, ya? Bangun, Nak. Tidak baik saat Maghrib tidur,” ujar Bunda.

Mimi bangun dari tidurnya dan menunaikan sholat Maghrib. Namun, ia masih memikirkan Noni Belanda yang marah padanya tadi. “Dimana dia sekarang?” pikir Mimi.

“Bunda, kasur tua yang aku pakai itu sebenarnya punya siapa?” tanya Mimi serius. “Itu kasur Kakakmu. Karena sudah tidak dipakai, jadi Bunda taruh di gudang loteng,” jelas Bunda.

Mimi tidak bisa melupakan kejadian dalam tidurnya tadi sore. Ia masih saja memikirkannya. Hingga ia tertidur lagi di kasur tuanya.

“Hei, anak kecil! Kamu tetap tidur di kasur ini? Ini milikku!” ujar Noni Belanda. Ia kembali marah kepada Mimi.

“Hallo, namaku Mimi. Tadi aku bertanya pada Bunda kasur ini milik siapa. Kata Bunda, kasur ini milik Kakakku. Bukan punyamu,” jelas Mimi dengan tenang. Namun Noni Belanda tetap marah. Ia tidak mau menerima  penjelasan Mimi. Kasur tua itu pun diguncang-guncangkan dengan kencang hingga Mimi mau terjungkal.

“Bundaaaaa!!!!” teriak Mimi. Bunda yang belum tidur segera ke kamar Mimi. “Ada apa, Mimi? Kenapa kamu teriak malam-malam?” tanya Bunda heran. “Bunda, pemilik kasur tua ini menghantui Mimi,” ujar Mimi ketakutan. “Ini kasur kakak Mimi, bukan punya siapa-siapa,” jawab Bunda meyakinkan.

“Tetapi, Noni Belanda itu mengguncang-guncang kasurku hingga aku mau terjatuh, Bunda,” jelas Mimi ketakutan. Ia bersembunyi di balik tubuh Bunda. Ia melihat Noni Belanda berada di dalam cermin sebelah kasur tua itu.

“Ya sudah, besok kasur itu dikembalikan ke loteng lagi, ya?” ujar Bunda. Mimi pun mengangguk pelan. Ia benar-benar ketakutan.

“Aku malam ini tidur di kamar Bunda, ya?” pinta Mimi sambil mengikuti Bunda keluar dari kamar. Namun ekor mata Mimi tetap mencari tahu si Noni Belanda. Rasanya penasaran. Ternyata, Noni Belanda sudah terbaring di kasur tua tersebut. Ia tersenyum mengejek ke arah Mimi. Mimi pun segera menutup matanya dan memeluk Bunda erat. (Teks: Just For Kids/ Ilustrasi: Just For Kids)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *