Tahun ini menandai 93 tahun peringatan Hari Ibu Nasional, yang menjadi tonggak kesetaraan hak bagi perempuan di tanah air. Seiring dengan waktu makna Hari Ibu di Indonesia pun meluas, tak hanya simbol penghargaan untuk perjuangan kedudukan di ranah pendidikan dan posisi di masyarakat; namun juga bagaimana seorang perempuan menjalankan kodratnya sebagai Ibu. Smile Train Indonesia, organisasi nirlaba internasional yang berfokus pada bantuan untuk anak-anak bibir sumbing; kerap menjadi saksi bagaimana teladan dan kuatnya tekad seorang Ibu mengambil peran penting dalam penanganan pasien bibir sumbing.

Berdasarkan data Smile Train, diperkirakan setiap tahunnya lebih dari 9.000 bayi di dunia terlahir dengan bibir sumbing dan/atau celah langit. Hal ini dapat menyebabkan komplikasi secara fisik seperti kesulitan untuk makan, bernapas, mendengar, dan berbicara dan tidak jarang pula menyasar psikis anak. Comprehensive Cleft Care (CCC) atau perawatan sumbing komprehensif yang dimiliki Smile Train menekankan pada urgensi penanganan sumbing sejak dini, dan dalam prakteknya memerlukan dukungan penuh dari keluarga pasien terutama sang ibu. Salah satu sosok ibu luar bisa tersebut adalah Ibu Siti Hotimah dari Bandung Jawa Barat.

“Tidak semua ibu mampu mengelola emosi dan hati ketika memiliki seorang anak yang keadaan fisiknya berbeda dengan kebanyakan orang. Ibu Siti tak hanya memiliki satu, namun 3 anak yang terlahir dengan kondisi bibir sumbing. Kami melihat langsung bagaimana kesabaran, ketelatenan dan kekuatan mentalnya benar-benar layak dijadikan panutan perempuan di manapun berada, terutama kaum ibu. Operasi gratis dan perawatan komprehensif dari Smile Train didukung oleh ibu yang hebat, membuat anak-anaknya kini tumbuh percaya diri bahkan aktif di masyarakat,” ujar Ibu Deasy Larasati, Country Manager Smile Train Indonesia.

Raja Pahlepi atau lebih akrab dipanggil Levi (18 tahun) serta adiknya Wangsa Sahid Saputra (14 tahun) dan Nazwa Sacha Zeira Hajiji (9 tahun), anak dari Ibu Siti Hotimah mendapatkan operasi sumbing melalui mitra Smile Train Indonesia di Bandung yakni Yayasan Pembina Penderita Celah Bibir dan Langit-langit (YPPCBL) sejak tahun 2003. Perawatan komprehensif yang diberikan juga mencakup konseling usai operasi, pelatihan dan wadah kreativitas yang membuat Levi dan saudaranya kini kerap tampil berkesenian di depan umum dengan sangat percaya diri.

Perbincangan dengan Ibu Siti di bawah ini semoga bisa jadi penguat para ibu bahwa perjuangan adalah keharusan dan betapa besarnya peran seorang ibu dalam membentuk pribadi anak-anaknya.

Bagaimana reaksi Ibu ketika mendapati anak-anak terlahir dengan kondisi bibir sumbing?
Ibu Siti: Saya terus terang kaget dan bingung namun tetap ikhlas dan percaya bahwa semua ini adalah titipan Tuhan. Walaupun saya tahu terdapat rintangan berat di depan saya terutama secara finansial, saya yakin akan ada jalan untuk memperbaiki kondisi anak-anak. Saya harus kuat dan tidak boleh menyerah, apalagi saya membesarkan anak-anak sendirian karena Ayahnya sudah ngga ada”

Apa tantangan terbesar yang Ibu alami membesarkan anak dengan bibir sumbing terutama sebagai single parent baik dari keluarga maupun lingkungan sekitar?
Ibu Siti: Saya sempat mengalami stres tentang kondisi ekonomi saya terutama dalam penyembuhan anak-anak saya, terutama Wangsa yang memiliki kondisi celah langit yang kompleks sehingga membutuhkan perhatian dan terapi khusus. Ia sempat tidak percaya diri dan hampir saja menutup diri dari sekitar, namun saya terus menguatkan hati anak-anak bahwa semua ini pasti ada hikmahnya. Dan ternyata benar

Bagaimana Ibu mengetahui tentang Smile Train Indonesia? Apa saja dukungan yang Ibu terima?
Ibu Siti: Saya mendapatkan informasi dari tetangga saya dan saya bersyukur bisa dipertemukan dengan Smile Train melalui Yayasan Pembina Penderita Celah Bibir dan Langit Langit. Seluruh biaya operasi ditanggung, anak-anak dan juga saya mendapat konseling yang menumbuhkan semangat dan kepercayaan diri bagi kami.

Bagaimana perawatan Comprehensive Cleft Care (CCC) dari Smile Train Indonesia mengubah hidup Ibu dan anak-anak?
Ibu Siti: Sangat besar ya perubahan hidup kami. Tantangan sebagai seorang Ibu dari anak-anak istimewa kini makin teringankan dengan bantuan perawatan sumbing yang kami dapat. Saya sangat sayang dan bangga terhadap ketiga anak saya. Levi bisa tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang lebih mandiri dan percaya diri di sekitar masyarakat, Wangsa maupun Nazwa dapat bersosialisasi bersama kawan-kawannya.

Pesan apa yang Ibu ingin sampaikan kepada keluarga di Indonesia terutama para ibu di luar sana yang memiliki anak dengan kondisi bibir sumbing dan/atau sumbing langit?
Ibu Siti: Jalankan aja dengan ikhlas dan penuh senyuman. Tantangan setiap orang pasti berbeda, janganlah saling membandingkan atau merasa lebih baik dari Ibu lain. Kita semua sama, sama-sama perempuan yang ingin memberikan apapun yang terbaik bagi anak-anak, bahkan jiwa raga pun pasti akan diserahkan oleh seorang Ibu demi kebahagiaan anaknya.

Apa pesan untuk masyarakat sekitar yang mengenal keluarga dengan kondisi bibir sumbing?
Ibu Siti: Dukunglah mereka, jangan dikucilkan apalagi dijadikan bahan lelucon. Rangkul dan kalau bisa kenalkan mereka dengan pihak-pihak yang bisa membantu, sebab bibir sumbing itu bisa diperbaiki, dan harus ditangani secepatnya.

Apa harapan Ibu untuk anak-anak ke depannya?
Ibu Siti: Sebagai orangtua saya hanya bisa berdoa dan mendukung segala cita-cita mereka, yang paling penting adalah sekarang saya harus kerja keras memupuk rasa percaya diri anak anak saya supaya lebih berani tampil dan punya prestasi. Itu aja buat saya. Dan sekali lagi saya ucapkan terima kasih Smile Train Indonesia

(Foto : Ist)

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *