Negara Ranta adalah kerajaan yang makmur dan kaya, berkat hasil penjualan kain. Rakyat mereka bisa menghasilkan berbagai macam kain yang indah, dan tidak ada yang bisa menandinginya di dunia. Saat ini Negara Ranta baru saja mengalami pergantian pemimpin. Raja Ranta yang terdahulu sudah tua dan menyerahkan kepemimpinannya kepada anaknya, yaitu Ina yang sekarang menjadi seorang Ratu. Dalam pemerintahannya, Ratu Ina dibantu oleh para penasihat. “Sebagai kepala negara, aku harus mengetahui semua tugas kalian,” perintah Ratu Ina.

Maka sang Ratu memulai hari sibuknya, ikut bekerja bersama para penasihatnya. Ratu Ina pergi ke seluruh Negara Ranta dan mendengarkan suara rakyat. Suatu hari Ratu Ina hendak berkunjung ke pulau terpencil yang  dikenal misterius. “Tapi selama ini tidak pernah ada yang mau berkunjung ke sana!” kata para penasihatnya. “Pulau itu ada di wilayah Negara kita tapi tidak pernah ada yang peduli. Aku sudah mencari tahu tentang pulau itu. Pulau itu ditinggali seorang penyihir. Tapi kalian tak perlu khawatir, aku akan pergi bersama seorang pertapa yang bijaksana. Dia adalah saudara kembar dari si penyihir. Ada hal yang harus aku ketahui di pulau itu,” kata Ratu Ina membulatkan tekadnya. Dari si pertapa, Ratu Ina mengetahui kalau pulau terpencil itu bernama Pulau Kebenaran.

Sampai di Pulau Kebenaran, si pertapa mengantar Ratu Ina menemui si penyihir. “Ratu, kau mencintai Negara Ranta yang kaya dan makmur berkat penghasilan kain indahnya. Nah, yang akan kutunjukkan padamu adalah kenyataan dibalik kemakmuran itu,” kata si penyihir. Si penyihir menepukkan tangannya dan di lautan luas muncul pulau-pulau lain selain Pulau Kebenaran. Tapi pulau-pulau itu tidak hijau, melainkan berwarna-warni seperti macam-macam warna kain. “Warna-warna itu adalah limbah hasil pewarnaan kain yang dibuat oleh Negara Ranta. Di masing-masing pulau yang berwarna itu hidup tumbuhan dan binatang-binatang. Raja terdahulu menyuruhku untuk menghancurkan mereka. Tapi aku tidak tega. Aku mengubah mereka semua menjadi batu agar tidak hidup menderita akibat limbah,” jelas si penyihir. Ratu Ina  iba pada tanaman dan tumbuhan di pulau itu. “Jangan hentikan hidup mereka! Aku akan melakukan apapun agar pulau-pulau itu bebas dari limbah Negara Ranta!” seru Ratu Ina. “Aku hanya bisa membuat lembaran kain dari semua limbah warna ini,” kata si penyihir. Wajah Ratu Ina berubah cerah, dia mendapat ide.

Seminggu kemudian di alun-alun istana, Ratu Ina berdiri di depan lukisan kain perca besar hasil karyanya. Rakyat yang berkumpul dan melihat lukisan itu, mengagumi keindahannya. Lalu Ratu Ina berbicara pada mereka. Dia bercerita tentang pulau-pulau yang terkena limbah dan kewajiban Negara Ranta untuk bertanggung jawab. “Rakyatku sekalian, ayo ikut aku membuat karya seni abadi, lukisan kain perca dari limbah yang kita hasilkan sebagai penghasil kain. Aku yakin lukisan ini akan  dihargai oleh negara lain dan dinilai sama dengan kain yang kita hasilkan, dan sebagai peringatan bahwa kita harus memelihara dan melindungi lingkungan hidup,” kata Ratu Ina. Rakyat bertepuk tangan setuju. Mereka pun berlomba-lomba membuat lukisan kain perca limbah terbaik. Seluruh pulau yang tercemar limbah kain, pulih kembali dan Negara Ranta kemudian dikenal sebagai negara teladan!

 

 

Cerita: Seruni             Ilustrasi: Agung

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *