Kak Seto memang terkenal. Dari anak-anak sampai dewasa, tahu semua. Tapi jangan salah, waktu menginjak usia remaja, kehidupan Pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah, 28 Agustus 1951 ini begitu berliku dan mengalami kesengsaraan yang luar biasa. Itu mulai terjadi ketika Kak Seto ditinggal Ayahnya untuk selama-lamanya. Tepatnya pada tahun 1966 saat Kak Seto berusia 15 tahun.

Demi untuk memenuhi biaya sekolah, Tong-panggilan akrab Kak Seto dalam keluarganya–bekerja sebagai pedagang asongan. Kala itu, Kak Seto juga aktif menulis untuk rubrik anak-anak di majalah. “Di situ saya mulai memakai nama Kak Seto,” ungkapnya.

Lulus SMA, Kak Seto bercita-cita masuk ke Fakultas Kedokteran. Tapi, cita-citanya kandas karena dia tidak lulus ujian masuk. Diam-diam Kak Seto memendam kekecewaan. Akhirnya, 27 Maret 1970, Kak Seto memutuskan pergi ke Jakarta.

Di Jakarta, Kak Seto jadi pengangguran, luntang-lantung tidak jelas. Kak Seto menumpang di garasi milik keluarga temannya, yang kebetulan ia kenal di kereta. Tidur beralaskan dua keset yang digabung, ia hidup sehari-hari dari penghasilan sebagai tukang batu, serta sesekali menulis di majalah anak-anak. Ia juga bekerja serabutan.

Gagal Lagi

Tahun berikutnya, Kak Seto kembali mendaftar ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Tapi, seperti halnya waktu di Surabaya, kali ini pun kegagalan kembali menyertainya.

Kak Seto kemudian mencoba melamar pekerjaan ke hotel-hotel. Namun, akhirnya ia malah menjadi tukang cuci dan tukang pel di suatu keluarga yang kebetulan mempunyai anak cacat. Kak Seto, yang juga bertugas merawat anak tersebut, harus bersedia menempati ”kamar” bekas kandang ayam yang berhadapan dengan WC. Baunya pasti minta ampun.

Bertemu Bu Kasur

Tahun 1972, Kak Seto kemudian berguru pada Bu Kasur, ibu yang begitu peduli terhadap anak-anak. Melihat penampilan Kak Seto yang santun dan sopan, Bu Kasur menerimanya dengan senang hati. Kak Seto pun menjadi asistennya.

Kak Seto juga membantu Pak Kasur, suaminya Bu Kasur yang juga memiliki kegiatan di dunia anak-anak. Dengan keyakinan penuh, Kak Seto merasa dunia anak-anak adalah pilihan hidupnya. Dia pun masuk Fakultas Psikologi Universitas Indonesia untuk menambah pengetahuannya dan lulus tahun 1981. “Sejak saat itu, saya pun memantapkan diri untuk mengabdi di dunia anak-anak,” katanya. (JFK/Nov)

 

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *