“HATSYI!” Nani bersin keras begitu memasuki ruang tamu rumahnya sepulang sekolah. “Aku kok tiba-tiba bersin, sih?” keluh Nani.  Lalu Nani melihat tumpukan kain di kursi dekat jendela. Ketika Nani mendekati kain itu, dia bersin lagi. “Jadi ini yang membuatku bersin? Kain-kain tua!” seru Nani kesal. “Tante dapat kain-kain itu dari teman. Kain-kain itu kain batik, jadi sangat berharga,” kata Tante Mita, Bibi Nani. “Oh, jadi ini kain batik, ya? Aku suka batik!” seru Nani antusias. Tiba-tiba, Nani bersin lagi. “Tapi aku nggak suka kain batik tua yang berdebu, aku alergi debu,” keluh Nani. “Aduh, kasihan Nani, kain-kain batik ini Tante simpan di kamar, ya!” kata Tante Mita sambil membawa kain-kain batik tua.

Malam harinya ketika sedang tidur, Nani mendengar suara yang sangat keras dan terbangun. “Asalnya dari kamar Tante Mita!” ujar Nani segera pergi ke kamar Tante Mita yang letaknya tepat di sebelah kamar Nani. “Tante Mita! Tante Mita!” seru Nani sambil menggedor-gedor pintu kamar Tante Mita. Pintu kamar terbuka dan Tante Mita keluar dengan wajah bingung.  “Lho, ada apa, Nani?” tanya Tante Mita. “Tante tidak apa-apa? Aku dengar suara keras sekali seperti lemari jatuh!”  jawab Nani. “Tidak ada apa-apa kok, mungkin tetangga sebelah. Tidur lagi,  Nani,” kata Tante Mita mengelus rambut Nani. “I..iya, Tante,” kata Nani. Tapi Nani yakin bunyi keras itu dari kamar Tante Mita!

Tante Mita menutup pintu kamarnya, tapi tiba-tiba dia memanggil Nani. “Iya, Tante?” sahut Nani. “Apa kamu lihat kain batik Tante yang warna cokelat? Tante baru sadar kalau lemari tempat menyimpan kain-kain batik tua terbuka dan kain batik yang cokelat tidak ada,” kata Tante Mita bingung. “Waduh, aku nggak lihat, besok pagi aku bantu cari ya, Tante,” janji Nani.

Keesokannya hari Minggu dan Nani bangun pagi sekali. Dia turun ke bawah untuk minum dan terkejut melihat sebuah kain batik cokelat tergeletak di bawah tangga. “Ini pasti kain batik yang dicari Tante Mita! Kenapa bisa ada di sini?” gumam Nani bingung sambil memungut kain batik itu. “Non, aku takut sama kain batik itu!” celetuk Mbok Sumin pengurus rumah tangga keluarga Nani. Rupanya, Mbok Sumin memerhatikan Nani mengambil kain batik cokelat. “Memangnya kenapa, Mbok?” tanya Nani. “Kemarin Mbok dengar suara keras banget, seperti lemari jatuh. Mbok mau lihat ada apa, eh tiba-tiba Mbok melihat kain batik itu jatuh dari lantai atas! Padahal nggak ada siapa-siapa di atas! Mbok langsung masuk kamar lagi, nggak berani keluar!” cerita Mbok Sumin. “Aku juga dengar suara keras itu, Mbok! Asalnya dari kamar Tante Mita. Tapi Tante Mita bilang nggak dengar apa-apa, aneh kan? Tante Mita juga kehilangan batik cokelat itu!” kata Nani sambil melihat ke arah kursi tak jauh dari situ, tempat dia meletakkan kain batik cokelat. Nani melongo bingung. Kain batik itu tidak ada! “Lho, jelas-jelas aku taruh di kursi itu tadi!” seru Nani kaget. “Aduuh, Mbok takut, Non!” seru Mbok Sumin panik.

Tante Mita turun. Dia menyapa Nani dan Mbok Sumin. “Kain batik cokelat Tante sudah ketemu, terima kasih ya, Nani, Mbok Sumin, kain batiknya ditaruh lagi di dalam lemari,” kata Tante Mita ceria. Nani dan Mbok Sumin saling memandang, wajah mereka pucat pasi ketakutan. Tiba-tiba bel rumah berbunyi, membuat Nani berteriak kaget. Ternyata, yang datang teman Tante Mita yang memberikan kain-kain batik. Nani tidak menyimak percakapan mereka karena sarapan dan melihat televisi, tapi kemudian dia melihat Tante Mita menyerahkan kain batik cokelat yang menyeramkan itu pada temannya, dan temannya pulang.

Tante Mita bergabung bersama Nani di meja makan. “Kain batik cokelat itu diminta kembali sama teman Tante, tentu saja tidak jadi masalah buat Tante. Tapi cerita teman Tante tentang kain batik cokelat itu aneh. Katanya kain batik itu sudah ratusan tahun, dan jadi jimat. Bisa gawat kalau tidak dipulangkan ke rumah teman Tante karena pasti ada kejadian-kejadian aneh! Ah, bisa saja teman Tante itu kalau bercanda!” kata Tante Mita sambil senyum-senyum geli. Nani menanggapi dengan tertawa, tapi untung saja Tante Mita tidak melihat wajah Nani yang ketakutan. Mbok Sumin yang membawa jus jeruk ke meja makan memandang ke arah Nani penuh pengertian. “Ah, sudahlah! Lupakan saja kain batik cokelat itu! Toh, dia sudah kembali!” kata Nani dalam hati.

 

 

Cerita: Seruni       Ilustrasi: Novi Chrisna

 

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *