Kado Ulangtahun Penebar Teror (Bagian 1)

Kemarin adalah hari paling berbahagia bagi Evan. Ya, kemarin adalah hari ulangtahunnya yang ke-10. “Wah, aku baru ngeh ternyata kadonya banyak sekali ya, Bu,” ujar Evan kegirangan. “Iyalah pasti banyak, hampir semua teman kamu membawa kado kemarin,” timpal Ibu.

Semua kado ulangtahun Evan dikumpulkan di pojokan ruang tamu. Ada yang berukuran besar, ada pula yang kecil. “Ehmm.. Kira-kira apa isi kado yang besar ini, ya?” gumam Evan sambil memegang kado berukuran besar.

Kado tersebut berbentuk kotak panjang namun tidak terlalu tebal. “Bu, ini kado dari siapa, ya?” tanya Evan penasaran. “Coba lihat ada kartu ucapan atau tidak?” Ibu balik bertanya. “Justru karena tak ada, aku nanya Ibu,” jawab Evan.

Evan lantas membuka perlahan kado berukuran besar itu. Saat kertas kado terbuka sebagian, ada tulisan ‘Ouija Board’. “Permainan apa ini, ya?” bisik Evan. “Mirip papan catur,” gumamnya lagi.

Setelah bungkus kado terlepas, papan kayu nampak tua dan lusuh. Di bagian depannya, ada tulisan Yes dan No yang terpisahkan oleh tulisan Ouija Board. Persis di bawahnya ada deretan huruf dari A hingga Z. Di bawahnya lagi, deretan angka dari 1 sampai 9 dan 0 (nol). Paling bawah, ada tulisan Good Bye.

“Aku bingung cara mainnya!” keluh Evan. Ia lalu meninggalkan papan kayu itu dan mulai membuka kado lainnya. Evan lebih tertarik dengan isi kado-kado lainnya yang berupa mainan, tas, dan buku.

Malam hari saat hendak tidur, Evan tak sengaja melihat papan Ouija di ruang tamu. “Aku coba mainkan, ah,” ucap Evan. Ada selembar kertas di balik papan tua itu. Ternyata, kertas tersebut adalah petunjuk bermainnya.

“Ehmm.. Mungkin papan ini sejenis permainan sulap,” tutur Evan menduga-duga. Ia kemudian mengikuti petunjuk yang tertulis di kertas tersebut. “Aku disuruh memegang kayu kecil yang ada kacanya bernama planchette ini,” ujar Evan.

Evan lantas memegang planchette di atas papan dengan kedua tangannya. “Adakah penghuni di sini?” ujar Evan mengikuti ucapan yang tertera di kertas petunjuk. “Ehmm.. Nggak ada apa-apa, nggak seru, ah,” kata Evan sambil membiarkan papan Ouija di atas meja.

Ketika Evan mulai berdiri beranjak ke kamar, planchette terlihat bergerak sendiri secara perlahan di atas papan menuju tulisan Yes. “Lah, kok planchette itu bergerak sendiri?” tanya Evan penasaran.

Planchette itu kembali bergerak ke huruf-huruf; P, E, R, G, I, K, A, M, U. “Pergi kamu?” Evan berusaha menyusun huruf-huruf yang ditandai planchette.

Suasana makin menakutkan, saat papan Ouija terlempar dengan sendirinya ke arah dinding. Evan kaget bukan main. Ia langsung lari terbirit-birit menuju kamar.

Evan mengambil handphone-nya dan langsung menelepon Zola, sahabatnya. “Halo, Zola!” ucap Evan. “Ya, Evan. Ada apa malam-malam begini?” tanya Zola di ujung telepon. “Aku dapat kado, isinya papan Ouija. Setelah aku mainin, ada kejadian aneh!” cerita Evan sambil menahan rasa takutnya.

“Maksud kamu Ouija Board?” tanya Zola kembali. “Iya, memangnya kenapa?” Evan makin penasaran. “Itu, kan, papan permainan untuk memanggil roh!” jawab Zola.

Seketika, Evan termenung setelah mendengar jawaban sahabatnya itu. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menarik selimut dan berharap pagi cepat datang. (Bersambung)

 

Cerita: JFK    Ilustrasi: JFK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *