Pandemi berpotensi menghambat perkembangan motorik, bahasa dan sosial emosional anak. Bila tidak dicermati, berdampak pada tumbuh kembang mereka ke depannya. Berdasarkan survei online yang dilakukan oleh Bebelac terhadap 1232 responden  orangtua dengan mayoritas berumur 26-35 tahun (73,3% partisipan) yang memiliki  anak usia 3-5 tahun (51%) dan 1-2 tahun (36%) yang tersebar di Indonesia, ditemukan fakta-fakta menarik.

Ya, setelah 2 tahun hidup berjarak akibat pandemi Covid-19, Indonesia memasuki masa adaptasi kembali ke normal. Perubahan rutinitas ini, diuraikan oleh Anissa Permatadhieta Ardiellaputri, Marketing Manager Bebelac, sedikit banyak menyebabkan kekhawatiran pada orangtua. Salah satunya adalah kemampuan beradaptasi anak untuk berinteraksi dengan lingkungan baru setelah selama dua tahun hidup berjarak dari orang lain dan lingkungan sekitar.

Motorik dan Sosial Emosional Anak Terhambat

“Melihat hal ini, kami berinisiatif melakukan survei terhadap orang tua di Indonesia untuk mengetahui isu dan disrupsi yang dirasakan orang tua atas tumbuh kembang si kecil selama pandemi, serta adaptasi apa yang telah dilakukan orang tua di masa transisi kebiasaan baru ini,” ucap Anissa dalam acara konferensi pers yang bertajuk “Bebelac Rayakan Hari Anak Hebat Nasional” pada hari Kamis (21/07).

Hasilnya, survei mencatat sebanyak 31,7% orangtua menjawab bahwa anak menangis setiap bertemu orang baru, sedangkan 14,8% orang tua menjawab bahwa anaknya terlambat berbicara dan 13% orangtua menjawab anak belum bisa merespons orang lain. Berbagai kendala yang mungkin dialami si kecil saat memasuki masa transisi dari pandemi ke pascapandemi di antaranya 388 dari 1232 responden orang tua (31,5%) merasa bahwa anak belum terbiasa berinteraksi dengan orang lain sebagai dampak dari situasi pandemi.

Fakta di atasi diamini oleh Nadya Pramesrani, M.Psi, Psikolog Keluarga di Rumah Dandelion. Ia menyampaikan hasil penelitian dari Community Child Health Australia pada tahun 2022. Ditemukan bahwa keterlambatan tumbuh kembang dan masalah perilaku pada anak selama pandemi kemungkinan disebabkan oleh kurangnya interaksi anak dengan teman sebaya, lalu stimulasi yang terbatas serta stres yang dialami orangtua selama pandemi berlangsung.

(kiri -kanan) Host, Nadya Pramesrani, M. Psi, Psikolog Keluarga di Rumah Dandelion, Putri Titian, Mom Influencer, Anissa Permatadhieta Ardiellaputri, Marketing Manager Bebelac dan Dr. Frieda Handayani Kawanto, Sp.A(K) Dokter Spesialis Anak-Konsultan Gastrohepatologi

Masalah Tersering Selama Pandemi

Nadya melanjutkan, ada beberapa masalah yang sering ditemui pada perilaku anak memasuki masa transisi pasca pandemi saat ini, yakni:
– Anak menjadi susah berpisah dengan orangtua, maunya menempel pada Ibu atau Ayahnya saja.
– Anak takut bertemu dengan orang baru/anggota keluarga yang lama tidak ditemui
– Aktivitas fisik anak menurun namun disertai dengan peningkatan screen time  pada gadget
– Perilaku dan suasana hati anak yang memburuk, ditandai dengan suka marah-marah, mengamuk, menangis, dan sebagainya
– Anak menjadi hiperaktif atau bergerak secara berlebihan, tidak bisa diam dan susah konsentrasi. “Dari yang normal biasanya dia bisa fokus selama 5-7 menit, sekarang hanya bisa fokus selama 2 menit, lalu langsung mengalihkan perhatian pada hal lain,” jelas Nadya.

Dengan membaiknya kondisi pandemi, Nadya menyampaikan bahwa orangtua mendapatkan kesempatan untuk mengoptimalkan anak, terutama di aspek sosial emosional dan motorik. “Dua aspek ini paling banyak mengalami keterlambatan/masalah perkembangan selama pandemi,” katanya.

Upaya Orangtua

Untuk itu, Psikolog Keluarga tersebut memberikan tips hal-hal apa yang bisa dilakukan oleh orangtua, antara lain:

  1. Berikan anak nutrisi yang tepat. “Anak yang sehat adalah anak yang gembira, dan ini bisa memengaruhi suasana hati anak menjadi lebih baik,” imbuh Nadya.
  2. Menetapkan struktur dan rutinitas baru yang sesuai dengan perubahan yang terjadi. “Dengan menerapkan struktur, anak akan lebih memahami batasan dalam berperilaku, mampu mengendalikan diri, memiliki sikap disiplin dan mandiri. Hal ini membantu anak-anak untuk merasa aman dan mempermudah mereka dalam beradaptasi,” ujarnya.
  3. Rajin memberikan stimulasi kreatif di rumah yang diberikan melalui kerja sama antar orangtua
  4. Berikan atau ciptakan suasana untuk anak bergerak aktif, setidaknya 300 menit/hari
  5. Selalu berinteraksi dua arah dengan anak untuk mengembangkan kemampuan sosial emosionalnya
  6. Ajak anak melihat sekeliling apa ada anggota keluarga yang membutuhkan bantuan dan ajarkan bagaimana cara membantunya. “Misalnya, mengajak si kecil menulis daftar belanja bulanan, mengajak anak untuk membantu ayah merapikan gudang, dan sebagainya,” saran Nadya.

Formula Baru GroGreat+

Aspek nutrisi tak kalah pentingnya dalam mengatasi hambatan motorik maupun perkembangan sosial emosional anak. Diuraikan oleh Dr. Frieda Handayani Kawanto, Sp.A(K), Dokter Spesialis Anak-Konsultan Gastrohepatologi, agar si kecil dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, orangtua perlu memastikan kesehatan pencernaan anak terjaga. “Karena pencernaan yang sehat dan kemampuan berpikir yang baik akan berpengaruh pada suasana hati anak sehingga ia siap untuk beraktivitas dan kembali bersosialisasi dengan lingkungannya,” ucap Dr. Frieda.

Nah, untuk memastikan tumbuh kembang anak terpenuhi secara optimal memasuki masa transisi kebiasaan baru ini, Bebelac susu pertumbuhan untuk anak di atas 1 tahun dari Danone Specialized Nutrition Indonesia, menghadirkan formula baru GroGreat+ yang diperkaya dengan kombinasi FOS:GOS 1:9 dan Triple A (DHA, LA, ALA) serta memiliki zat besi  dan minyak ikan  lebih tinggi.

Tak hanya memastikan kesehatan pencernaan anak terjaga, orangtua seyogianya harus membekali si kecil dengan stimulasi yang optimal untuk mengasah keterampilan motorik, bahasa dan sosial emosional agar ia memiliki keterampilan yang lengkap dan tumbuh menjadi anak hebat. Untuk itu, Bebelac menghadirkan pula program GroGreat+ Time sebagai wadah bagi para orangtua untuk mewujudkan hal tersebut.

“Dalam program ini ada kelas online mencakup kelas Happy Tummy (saluran cerna yang sehat), Happy Brain (daya pikir hebat), dan Happy Heart (hati yang gembira). Lalu, ada sesi sharing atau berbagi inspirasi bersama ahli dan juga kumpulan stimulasi seru dan kreatif yang bisa digali oleh orangtua,” jelas Anissa.

Putri Titian, Mom Influencer yang juga seorang Ibu Hebat Bebelac, berbagi kiatnya dalam mempersiapkan buah hatinya memasuki masa transisi pasca pandemi. “Sebagai ibu, aku harus memastikan bekal tumbuh kembang kedua buah hatiku terpenuhi. Agar nutrisi kedua buah hatiku terpenuhi, aku memilih Bebelac formula baru GroGreat+ untuk mendukung kesehatan pencernaan-nya. Tidak hanya nutrisi, aku juga berupaya untuk memberikan stimulasi yang sesuai untuk mereka, salah satunya dengan mengajak mereka mengikuti kelas online interaktif bersama Bebelac GroGreat+ Time sehingga tetap mendapatkan stimulasi melalui berbagai kegiatan menyenangkan yang dapat dilakukan secara online dari rumah,” tutupnya.

Foto: Efa, Ist

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *