Di sekolah kalian, ada ekskul jurnalis atau wartawan cilik? Nah, kalian yang berjiwa selalu ingin tahu tentang sesuatu hal, cocok dengan profesi ini, nih.  

Teman-teman pasti sering menonton televisi ataupun melihat Ayah membaca surat kabar (koran), kan? Lewat surat kabar atau berita di televisi, kita bisa tahu peristiwa-peristiwa apa saja yang terjadi di seluruh Indonesia ataupun di luar negeri. Hebat, bukan?

Teman-teman pastinya penasaran, siapa, sih, yang membuat berita-berita tersebut?

Yang pasti itu adalah hasil dari kerja seorang jurnalis atau wartawan. Jurnalis meliput sebuah peristiwa dan kemudian menuliskannya dalam bentuk berita. Sedangkan meliput yaitu mendatangi suatu peristiwa untuk menggali lebih dalam tentang peristiwa tersebut dengan cara menyelidiki, mengamati, ataupun wawancara. Tak heran kalau jurnalis biasanya tahu lebih dulu hal-hal baru.

Jurnalis dan Berita

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), wartawan adalah orang yang pekerjaannya mencari dan menyusun berita untuk dimuat di surat kabar, majalah, radio, dan televisi. Wartawan juga disebut juru warta atau jurnalis.

Ada juga yang disebut wartawan foto, yang khusus mencari berita dalam bentuk atau media foto. Adapun wartawan cetak yaitu wartawan pencari berita untuk media cetak. Ada juga wartawan lepas, yang tidak menjadi staf tetap salah satu surat kabar, tetapi hanya menyumbangkan tulisan mewakili beberapa penerbitan pers. Bisa dibilang kerja wartawan adalah terkait dengan berita. Sedangkan berita itu sendiri adalah laporan dari peristiwa yang terjadi.

Caranya

Lalu, bagaimana, sih, caranya kita bisa menjadi seorang jurnalis? Sebenarnya tidak susah, kok. Siapa pun bisa, asal mau belajar dan terus berlatih. Dengan kata lain, tidak harus memiliki latarbelakang pendidikan di bidang jurnalis.

Namun biasanya, untuk bisa bekerja di sebuah perusahaan pers, seorang jurnalis harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh perusahaan pers tersebut. Biasanya perusahaan pers mensyaratkan harus lulusan S-1 (sarjana) dan tertarik dengan dunia jurnalistik.

Sama seperti dokter atau advokat, jurnalis juga wajib mematuhi kode etik jurnalistik seperti yang ditentukan dalam pasal 7 UU Pers. Di antaranya, harus menulis berita secara seimbang, objektif atau tidak memihak, selalu cek dan recheck, serta menulis berdasarkan fakta (kenyataan yang terjadi).

Yang pasti, selain mendapatkan uang, bekerja di dunia jurnalistik yang aktif dan dinamis ini memiliki tantangan dan kepuasan tersendiri yang tidak bisa dinilai dengan uang. Di mana ketika mampu mendapatkan berita yang bagus, berhasil menembus narasumber yang sulit, bisa bertemu dengan pejabat ataupun orang-orang terkenal lainnya, serta menyampaikan sebuah informasi, pengetahuan, dan hal-hal positif lainnya kepada masyarakat luas, itu merupakan suatu kepuasan yang tidak ternilai bagi seorang jurnalis.

Nah, siapa di antara kalian yang ingin menjadi jurnalis atau wartawan?

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *