Opah adalah jerapah yang tinggal di sebuah hutan belantara. Sehari-hari, ia menghabiskan waktu di sebuah padang rumput yang luas dan dikelilingi dengan pepohonan tinggi besar.

“Hei, leher panjang, hahaha..” ledek Ruru, si rusa dan kawan-kawannya. “Tubuhmu aneh, kaki panjang dan leher juga panjang, apa kamu tidak pegal?!” sindir Goti, si kambing. Goti dan Ruru pun tertawa sambil berjalan mencari rerumputan untuk dimakan.

“Tidak usah pedulikan mereka,” saran Ele, si gajah mencoba menenangkan kemarahan Opah. “Tapi aku selalu diledek terus menerus,” ujar Opah.

“Suatu hari, kamu akan bersyukur dengan bentuk tubuhmu itu, Opah,” tutur Ele dengan bijak.

Saat itu, musim hujan telah tiba. Pepohonan di hutan semakin tumbuh lebat. Sebagian besar pohon di hutan itu tumbuh tinggi menjulang. Rerumputan juga tumbuh dengan subur.

Musim itu sangat disukai oleh semua hewan di hutan. Karena akan banyak dedaunan dan rerumputan yang menjadi makanan mereka. “Ruru, ayo kita ke padang rumput di sebelah sana, aku lapar nih!” ajak Goti, si kambing. Ruru langsung bangun dari tidurnya dan menyusul Goti yang sudah berlari kencang. Keduanya tertawa sepanjang jalan.

“Hei, lihat itu si Opah dan Ele,” teriak Ruru. “Kasihan ya, mereka tak bisa bergerak lincah seperti kita,” ledek Ruru sambil berteriak kencang.

Mendengar ledekan itu, Opah merasa kesal. Niat Opah untuk menghampiri Ruru dan mengajaknya berkelahi, tak jadi dilakukan. Ele yang tubuhnya tinggi besar menghalangi langkah Opah. “Sudah, mereka pasti kena batunya,” ungkap Ele.

Ruru dan Goti pun tertawa terpingkal-pingkal di tengah padang rumput. Mereka asyik memakan rumput yang hijau.

Opah dan Ele pun melanjutkan mencari pucuk daun di pohon yang tinggi. Sesekali, mereka juga memakan rerumputan di bawah. Namun, dua sahabat itu lebih suka daun-daun yang berada di ranting pohon, karena rasanya yang menurut mereka lebih enak.

Musim hujan berganti dengan musim kemarau. Hujan yang biasanya selalu turun hampir setiap hari, kini tak lagi datang. Berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, hujan tak pernah turun membasahi hutan.

Rumput di hutan tak lagi tumbuh. Air sungai di tengah-tengah hutan yang biasa menjadi tempat berkumpul semua hewan pun mulai mengering. Permukaan tanah menjadi retak karena kandungan airnya yang semakin berkurang. Parahnya lagi, pepohonan yang biasanya tumbuh dengan dedaunan yang lebat, mulai meranggas.

Sebagian besar pohon di hutan itu hanya dihiasi dengan ranting pohon yang rapuh. Cuma di ranting pohon paling atas yang masih ditumbuhi dengan dedaunan. Itu pun hanya sedikit saja.

“Aku lapar, Ruru,” ujar Goti meringis menahan lapar. “Sama, aku juga lapar, mau bagaimana lagi semua rumput sudah tak tumbuh lagi,” jawab Ruru tak kalah laparnya. “Yang masih tersisa hanya di atas pohon yang tinggi,” kata Ruru lagi.

“Nyam..nyam..nyam,” terdengar suara mengunyah tak jauh dari tempat mereka berdiri. Opah yang tinggi sedang memakan dedaunan yang masih tersisa di bagian atas ranting pohon. Lehernya yang panjang membuat ia mudah mencapai ranting pohon itu.

Begitu juga dengan si Ele. Dengan menggunakan belalainya yang panjang, ia meraih dedaunan di pucuk pohon yang tinggi. Mereka terlihat sangat menikmati dedaunan itu. “Kita memang beruntung ya, kita masih bisa makan dedaunan di saat kemarau seperti ini,” ujar Opah tersadar. “Aku kan sudah bilang, seharusnya kita bersyukur,” timpal Ele.

Ruru dan Goti lantas berjalan perlahan-lahan menghampiri Opah dan Ele. Meski sering meledek Opah, keduanya tak mampu lagi menahan rasa lapar. “Opah, kami berdua mau meminta maaf karena sering meledek kamu,” ujar Goti dengan wajah memelas.

“Kami sudah berhari-hari tak makan, Opah,” aku Ruru. “Bolehkah kami meminta makanan?” lanjut Ruru.

Opah yang masih dendam, nampak puas dengan kondisi tubuh Ruru dan Goti yang terlihat kurus kering. “Lihat kan, kamu yang meledek leherku panjang, ternyata diselamatkan oleh leherku juga,” ujar Opah.

Tanpa berpikir panjang, Opah dan Ele langsung mencari dedaunan sisa yang masih menempel di ranting pohon. Dengan cekatan, leher Opah mencari di antara ranting-ranting pohon. Belalai Ele yang lentur pun mengambil beberapa dedaunan yang masih ada.

Keduanya lantas memberikan dedaunan kepada Ruru dan Goti. Mereka memakannya dengan lahap. “Terimakasih Opah, terimakasih Ele,” Ruru dan Goti mengucapkan berbarengan.

Meski sering dijadikan bahan ledekan, ternyata Opah tak mendendam. Justru, ia mau membantu Ruru dan Goti dengan ikhlas. “Ternyata kamu baik ya,” ujar Ruru kepada Opah. “Iya, kami salah sangka selama ini,” timpal Goti.

Beruntung, keesokan harinya hujan mulai turun dengan deras. Pepohonan dan rerumputan pun mulai tumbuh dengan subur. “Opah, ayo kita main di padang rumput yang hijau itu,” ajak Ruru kepada Opah. Akhirnya, Ruru dan Goti pun berteman baik dengan Opah dan Ele. Mereka berempat menjadi sahabat yang saling tolong menolong.

 

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *