“Desi, bangun! Kita sudah sampai di Pantai Kelapa!” kata Dina, saudara kembar Desi membangunkannya. Tante Ima mengajak mereka berlibur ke Pantai Kelapa. Dari jendela mobil, Desi melihat sebuah rumah besar. “Kita akan menginap di rumah besar itu ya, Tante?” tanya Desi pada Tante Ima yang sedang menyetir. “Kita akan menginap di Villa Kelapa, bukan di rumah besar itu,” jawab Tante Ima.

“Rumah besar itu milik siapa?” tanya Dina. “Tante dengar, rumah itu milik keluarga kaya. Tapi sekarang sudah tidak ditinggali lagi,” jelas Tante Ima. “Sayang, padahal rumahnya bagus,” kata Dina. “Rumah kosong pasti banyak hantunya!” seru Desi. “Ahh, masa sih ada hantunya!” timpal Dina.

Hari sudah sore ketika mereka sampai di Villa Kelapa. “Tante, kami main di pantai, ya!” pamit Dina dan Desi. “Hati-hati!” pesan Tante Ima.

Dina sedang membuat istana pasir saat Desi datang dengan wajah gembira. “Lihat, apa yang kutemukan!” kata Desi menunjukkan sebuah gelang mutiara di pergelangan tangan kanannya.

“Bagus sekali!” seru Dina. “Gelang mutiara ini kutemukan di pasir. Aku sudah bertanya pada orang-orang, siapa pemilik gelang ini, tapi tidak ada yang tahu,” jelas Desi. “Ayo, kita tunjukkan pada Tante Ima!“ ajak Dina.

“Bagus sekali mutiaranya. Sepertinya, Tante pernah lihat, dimana, ya? Oh iya, di lukisan!” kata Tante Ima. “Lukisan?” tanya Dina dan Desi penasaran. “Lukisan Sari Wingga yang digantung di ruang tamu villa ini. Kalian ingat rumah besar yang kosong itu, kan? Ternyata, rumah itu milik keluarga Wingga. Pada suatu hari, Bapak dan Ibu Wingga beserta putri tunggal mereka Sari, pergi berlibur dengan kapal pesiar. Malangnya, kapal yang mereka naiki tenggelam,” cerita Tante Ima.

Tante Ima lalu menunjukkan lukisan Sari Wingga pada Dina dan Desi. Di lukisan itu, Sari memakai gelang mutiara yang mirip dengan gelang yang ditemukan Desi. “Berarti gelang mutiara ini milik Sari Wingga,” bisik Dina. “Kok, bisa ada di pasir, ya?” tanya Desi bingung.

Malam pun tiba. Akan tetapi, Dina susah tidur. Ia takut dengan cerita Tante Ima tentang Sari Wingga. “Desi…,” panggil Dina. Tapi, Desi tidak menjawab. Rupanya ia sudah tidur. Namun, ada yang aneh dengan Desi. Ia bergerak-gerak gelisah dalam tidurnya dan bergumam tak jelas. Sepertinya, Desi bermimpi buruk!

“Bangun, Desi!” seru Dina sambil mengguncang tubuh Desi. “Tidak!” jerit Desi. “Tenanglah, Desi, kau bermimpi buruk,” kata Dina sambil memeluk Desi. “Mimpiku seram sekali. Aku berlari dalam sebuah kamar menghindari air. Apa gara-gara gelang ini, ya?” tanya Desi sambil melihat gelang mutiara di tangannya. “Aku akan tidur memakai gelang ini dan membuktikannya,” kata Dina.

Tak lama kemudian, Dina tertidur. Perlahan ia merasakan sekelilingnya menjadi dingin. “Ini di dalam air, aku harus cepat keluar! Nafasku sesak!” seru Dina dalam hati sambil menahan rasa takut.

“Dina, bangun!” seru Desi. “Kau juga mimpi buruk?” tanya Desi. “Buruk sekali, aku merasa seperti tenggelam di laut!” keluh Dina. “Kita harus mengembalikan gelang mutiara ini ke pantai,” kata Desi. Dina mengangguk setuju.

Liburan selesai, Dina dan Desi kembali ke sekolah. Mereka menceritakan gelang mutiara yang menakutkan itu pada teman-temannya. Seorang teman berkata bahwa ingatan seseorang bisa tertinggal pada benda-benda kesayangan. Apakah mimpi Dina dan Desi adalah ingatan dari Sari Wingga? Kedua anak kembar ini tak pernah tahu jawabannya.

 

 

Cerita: Seruni     Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *