Hari ini, Linda dan teman-temannya berjanji pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli alat tulis.  Tapi, salah satu temannya, Cindi, datang dengan wajah sedih. “Maaf, hari ini aku tidak bisa ikut, uangku hilang!” kata Cindi.

Linda dan teman-temannya yang lain, memutuskan untuk menunda rencana mereka. “Kita pergi sama-sama saja kalau kau sudah dapat uang saku lagi,” kata  Linda. Teman-teman yang lain setuju. “Terima kasih ya, teman-teman,” kata Cindi.

Ketika pulang sekolah, Cindi menceritakan uang hilang yang dialaminya. “Kejadiannya aneh banget, sampai sekarang orang rumah masih membicarakannya,” kata Cindi.

Uang Cindi disimpan oleh ibunya di laci kamarnya, bersama tumpukan uang milik kedua adik Cindi. “Yang hilang uang seratus ribu rupiah milikku di tumpukan ke-3. Padahal kamar Mama dan laci Mama juga dikunci, hanya Mama yang menyimpan kuncinya!” jelas Cindi. Linda dan teman-teman lain bingung mendengar cerita Cindi.

Keesokan harinya, Elda memberikan informasi kepada Linda tentang hilangnya uang Cindi. “Aku pernah dengar kalau perumahan Cindi itu dulu tempat berkumpulnya makhluk gaib,” kata Elda pada Linda. “Masa yang mencuri uang Cindi makhluk gaib, sih?” ujar Linda benar-benar tidak percaya.

Tapi, reaksi Cindi sangat berbeda dari apa yang diharapkan Linda, yang mengharapkan temannya itu tertawa. “Itu mungkin saja, dan kalian tahu? Tetanggaku juga kecurian uang dengan cara sama. Tumpukan uang tetanggaku jumlahnya ganjil, sama seperti tumpukan uangku,” kata Cindi.

“Aku punya ide. Ayo kita lakukan percobaan. Kita kumpulkan uang, tidak perlu yang nilainya besar, dan coba simpan di rumah Cindi, kita lihat apakah uang kita hilang, ” kata Linda yang merasa kesal.

Uang Linda, Cindi, dan teman-temannya, disimpan di lemari Mama Cindi. Dan hari Sabtu, Linda dan teman-temannya menginap di rumah Cindi.

Ada kejadian aneh ketika mereka berjalan menuju rumah Cindi di hari Jumat. Saat itu, sore menjelang malam. Tiba-tiba, lampu jalan di kanan kiri jalan menuju rumah Cindi mati. Dan cara mati lampu jalanan itu sangat aneh. Lampu jalanan mati secara perlahan dan bergiliran.

Cindi yang ketakutan berkata, kalau dia sempat melihat bayangan hitam. Lalu, secara serempak, lampu jalanan menyala lagi. “Kenapa hanya lampu di rumahku yang masih mati?” bisik Cindi takut.

Anak-anak itu segera berlari ke rumah Cindi. Tepat ketika mereka sampai di depan rumah, lampu jalanan menyala. Cindi, Linda, dan teman-teman yang lain, masuk ke dalam rumah.

Cindi segera minta tolong agar ibunya membuka laci yang terkunci, tempat di mana uang anak-anak itu disimpan. “Jumlahnya masih sama, uang kita aman,” kata Cindi.

Tapi, ada yang kecurian di rumah Cindi, yaitu asisten rumah tangga keluarga Cindi, Bi Inah. Mendengar ini, Cindi dan Linda merasa sedih untuk Bi Inah. Dan mereka juga merasa takut. Entah apa atau siapa yang mencuri uang, tapi dia tahu perangkap yang dibuat Linda untuknya.

Bagaimana menjelaskan lampu jalanan yang mati? Lalu apa sebenarnya yang dilihat Cindi pada saat lampu-lampu jalanan mati? Tidak ada penjelasan yang pasti.

 

 

 

Cerita: Seruni   Ilustrasi: Novi Chrisna

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *