Tahukah Moms dan Dads, angka kejadian hipertensi atau tekanan darah tinggi meningkat setiap tahunnya. Bukan  hanya di Indonesia, tapi juga di negara lain. Sayangnya, banyak pasien hipertensi merasa sudah sembuh ketika tekanan darahnya normal, tanpa menyadari bahaya di baliknya.

Hipertensi, menurut Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr.Erwinanto, Sp.JP(K), FIHA (Vice president of Indonesian Society of Hypertension (InaSH), adalah kondisi saat tekanan darah berada pada nilai 140/90 mmHg atau lebih. Tapi, untuk menegakkan diagnosis apakah seseorang itu hipertensi, dikatakan dr. Erwinanto, individu tersebut harus melakukan pemeriksaan tekanan darah berulang.

“Misalnya hari ini dilakukan screening, tekanan darahnya 140/90 mmHg atau lebih, belum bisa didiagnosis hipertensi. Harus dilakukan pemeriksaan lagi beberapa hari/minggu berikutnya, jika keadaan tekanan darah masih sama atau di atas itu, maka ia dikatakan hipertensi,” ujarnya pada acara diskusi media untukmeningkatkan kesadaran penanganan hipertensi, yang digelar oleh Menarini Indonesia bersama Perhimpunan Hipertensi Indonesia (Perhi) di Jakarta, pada hari Senin (24/2/20) lalu.

Kondisi hipertensi jika tidak ditangani dapat menjadi berbahaya, karena jantung dipaksa memompa darah lebih keras ke seluruh tubuh, hingga bisa mengakibatkan timbulnya berbagai penyakit, seperti gagal ginjal, stroke, dan gagal jantung.

Untuk Moms dan Dads ketahui, pasien  hipertensi di Asia-Pasifik termasuk tinggi, yakni sekitar 65 persen dari populasi dunia. Lebih dari tiga perempat peningkatan prevalensi hipertensi di Asia disebabkan oleh pertumbuhan populasi dan penuaan, gaya hidup tidak sehat.

(Ki-Ka)​ Kiri ke kanan – dr.Erwinanto, Sp.JP(K), FIHA (Vice president of Indonesian Society of Hypertension (InaSH)), Reinhard Ehrenberger (President Director of Menarini Indonesia), Professor Jinho Shin sebagai Lead Investigator dari Penelitian BENEFIT juga Chief of Cardiology at the Division of Cardiology, Department of Internal Medicine, at Hanyang University Seoul Hospital, Seoul, Korea Selatan dalam video conference pada kegiatan media talk show di Jakarta, Senin 24 Februari 2020

Sementara itu, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2018, prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai 34,1 persen. “Penderita hipertensi sekarang bukan  hanya orang lanjut usia, tapi malah sekarang ini banyakmenyerang orang dewasa muda. Usia terbanyak adalah dari 34 – 45 tahun, itu peningkatannya luar biasa,” katanya.

Pasien Harus Minum Obat Hipertensi Seumur Hidup

Berbeda dengan penyakit lain, misalnya flu, yang setelah diobati akan sembuh maka hipertensi itu seumur hidup tidak akan sembuh. “Hipertensi tidak bisa disembuhkan, tapi dikontrol. Caranya melalui obat untuk menurunkan tekanan darah dan menjalankan perilaku gaya hidup sehat. Untuk diketahui, penderita hipertensi harus minum obat teratur seumur hidup,” katanya.

Hal ini, tegasnya, perlu untuk digarisbawahi. Mengutip data dari Rikesdas, ia menjabarkan bahwa 80 persen orang yang alami hipertensi berhenti minum obat karena merasa sudah sembuh. “Begitu tekanan darahnya normal, pasien merasa sudah sembuh. Tapi tak disangka-sangka, besok-besoknya ia terkena stroke,” ujarnya panjang lebar.

Ada berbagai macam obat yang biasanya digunakan untuk hipertensi, salah satunya adalah Nebivolol yang termasuk ke dalam kelas obat yang disebut beta blocker. Obat ini bekerja dengan cara menghalangi aksi zat natural dalam tubuh seperti epinephrine pada jantung dan pembuluh darah. Efek ini dapat menurunkan detakan jantung, tekanan darah, dan kejang pada jantung.

Nebivolol Efektif Kontrol Tekanan Darah

Pada kesempatan itu, Menarini Indonesia mengungkap hasil penelitian BENEFIT.  Ini adalah penelitian observasional Nebivolol sesuai kondisi praktik dokter sehari-hari yang dilakukan terhadap 3.011 pasien hipertensi di Korea. Penelitian ini dilakukan secara terbuka, tanpa pembanding, tanpa kontrol, prospektif, dan tunggal di 66 klinik maupun rumah sakit di Korea Selatan mulai 1 Juli 2015 hingga 23 Maret 2017.

Penelitian BENEFIT yang dilakukan oleh 10  peneliti internasional (1 peneliti dari Yunani, 1 peneliti dari Italia dan 8 peneliti dari Korea) ini dibiayai oleh Menarini. Tujuan penelitian adalah mengukur manfaat setelah 24 minggu penggunaan Nebivolol sekali sehari untuk pasien hipertensi dengan berbagai komorbiditas dan lingkungan perawatan di Korea.

Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa penggunaan Nebivolol setiap hari efektif dan dapat membantu mengontrol tekanan darah dengan lebih baik.

Diungkapkan oleh Professor Jinho Shin sebagai Lead Investigator dari Penelitian BENEFIT dari Hanyang University Seoul Hospital, Seoul, Korea Selatan, terlihat terlihat penurunan yang signifikan pada rata-rata tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik pada pasien yang diobservasi selama 12 minggu dibandingkan sebelumnya. Penurunan signifikan yang sama juga terlihat pada pasien yang diobservasi selama 24 minggu dibandingkan sebelumnya.

Selain penurunan tekanan darah, terlihat pula penurunan signifikan pada denyut jantung dan denyut nadi.

Sementara dari efek samping terkait Nebivolol, Profesor Jinho  mengatakan, “Angka kejadian terkait reaksi yang tidak diharapkan terlihat rendah. Sebanyak 221 pasien dilaporkan memiliki reaksi yang tidak diharapkan dan yang paling umum adalah pusing (1,3%), sakit kepala (1,0%) dan dispnea (0,9%),” tutupnya.

Foto: Istimewa

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *