Biasanya, kapan kalian menggosok gigi dan berapa kali menggosok gigi dalam sehari, Kids? Tiga kali, dua kali, setiap kali setelah makan atau bahkan tidak menggosok gigi sama sekali? Sebenarnya, kapan sih waktu yang tepat untuk menggosok gigi dan berapa kali menggosok gigi dalam sehari?  

Agar gigi tetap sehat dan juga bersih, kita harus rutin menggosok gigi. Dokter gigi menganjurkan untuk menggosok gigi dua kali dalam sehari. Tapi, ada juga yang lebih dari dua kali, bahkan setiap kali makan makanan manis, langsung gosok gigi.
Menurut drg. Bambang Nursasongko, Sp.KG(K) dari FKG UI, gosok gigi cukup dua kali dalam sehari, yaitu pagi setengah jam setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur.
“Banyak orang yang salah tentang waktu yang tepat menggosok gigi. Kebanyakan, bangun tidur langsung gosok gigi baru kemudian sarapan. Yang benar adalah bangun tidur cukup kumur-kumur pakai air, kemudian baru sarapan. Jeda 30 menit setelah sarapan, baru gosok gigi,” terangnya saat ditemui dalam diskusi media yang diselenggarakan Sasha Halal Toothpaste di Jakarta.
Kalian pasti bertanya-tanya kenapa harus diberi jeda 30 menit dulu baru boleh menggosok gigi? Menggosok gigi langsung setelah makan memiliki efek buruk, yakni mempercepat pengeroposan gigi. Beberapa makanan yang tinggi kandungan asamnya seperti soda, jeruk, lemon, dan tomat, dapat membuat enamel gigi melunak. Jika langsung disikat, gigi pun akan lebih mudah bolong dan keropos. Memberi jeda 30 menit setelah makan memiliki efek penting, yakni menetralkan asam yang ada di mulut. Ketika asam sudah netral, risiko enamel melunak dan mengeropos ketika disikat pun berkurang, Kids.

drg. Bambang Nursangsongko Sp.KG (K) saat ditemui pada diskusi kesehatan gigi yang diadakan oleh Sasha.

Lebih lanjut, drg. Bambang menjelaskan bahwa masalah gigi berlubang menjadi salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling banyak terjadi, terutama di kota besar. Namun dibandingkan dengan orang zaman dahulu, risiko terkena karies pada masyarakat masa kini lebih meningkat. Pola makan modern turut menambah risiko gigi berlubang. Ini bisa terlihat dari tingginya angka karies di perkotaan ketimbang di desa yang masih lebih mempertahankan kebiasaan Zaman dahulu.
“Masyarakat modern seperti di perkotaan, banyak makanan olahan, juga minuman manis dan berkarbonasi. Sehingga banyak karbohidrat yang difermentasi oleh bakteri. Sedangkan masyarakat desa masih banyak mengonsumsi serat, yang membantu membersihkan gigi dari kotoran, walaupun kini, angka karies di pedesaan pun mulai meningkat, terpengaruh pola makan kota yang mulai menjalar ke desa,” ujarnya.