Sudah kurang lebih setahun, Gina tinggal di perumahan barunya. Di daerah ini masih banyak tumbuhan hijau yang menyegarkan. Tapi yang  membuat Gina senang, semua teman-teman akrabnya di sekolah, tinggal di perumahan baru Gina. “Aku bisa bersama mereka terus!” seru Gina senang. Tapi sayang sekali. Pandemi datang, dan sekolah diliburkan. Gina tidak bisa belajar bersama teman-temannya.  Bukan hanya itu, dia juga tidak bisa keluar rumah untuk bertemu teman-temannya. “Yang benar saja!” seru Gina marah besar. Papa dan Mama menasihati Gina, tapi Gina tetap tidak mau mengerti.

Suatu hari, Gina diam-diam membuat janji bertemu dengan Dian, temannya di sekolah. “Dian, ayo kita menggambar, taman kompleks perumahan sedang sepi!” kata Gina melalui gadgetnya. “Ayo, aku bosan di rumah!” kata Dian. Gina berhasil meyakinkan Papa dan Mama bahwa dia hanya mau pergi keluar sebentar berjalan-jalan mencari udara segar. Dengan gembira, dia menunggu di taman kompleks. Tak lama kemudian gadget Gina berbunyi, rupanya Dian menelepon, memberitahu Gina bahwa dia tidak bisa keluar rumah. Gina sangat kecewa.

Dengan kesal Gina berjalan pulang sendirian. Tak terasa dia sampai di jalanan dengan tembok tinggi di kedua sisinya. Jalan itu dinamai Jalanan Kebun karena di balik tembok tinggi ada perkebunan yang ditanami dengan bermacam-macam pohon. Kalau malam, jalanan itu gelap dan sepi. Tapi saat Gina ada di jalan itu, hari masih siang. Di jalan kebun ini Gina melampiaskan kemarahannya dengan berteriak dan membanting alat gambarnya. Tiba-tiba, terdengar suara gemerisik daun dari tembok tinggi di sebelah kanan dan kiri Gina. Gina terkejut, padahal tidak ada angin. Tiba-tiba Gina merasa takut. Dia mengambil alat gambarnya dan berlari pulang.

Sampai di rumah, Gina berjalan melewati garasi mobil dan tiba-tiba alarm mobil menyala. Papa  keluar dan dengan susah payah dia berhasil mematikan alarm itu. “Kok bisa begini? Padahal tidak ada petir,” kata Papa bingung. Gina punya perasaan tak enak tapi dia tak mempedulikannya dan segera pergi ke kamar mandi untuk mandi, sesuai dengan permintaan Mama. Gina masuk ke kamar mandi yang lampunya menyala, dan tiba-tiba lampu mati. “Aduh, ada apa, sih?!” keluh Gina. Akhirnya, dia terpaksa mandi dalam keadaan gelap. Mau tidak mau, Gina memikirkan kejadian di jalanan kebun tadi. Apa semua hal aneh ini ada hubungannya?  “Tidak mungkin!” gumamnya.

Malam harinya ketika membaca di kamar, Gina merasa ada hal yang berbeda, seolah ada yang mengawasinya.  Gina menyisir rambutnya dan melihat ke cermin besar. Dan hal aneh terjadi lagi. Lampu di kamar Gina tiba-tiba meredup, lalu menyala terang sekali. Dan ketika Gina melihat ke cermin, di belakangnya ada sosok hitam! Gina menjerit ketakutan dan berlari keluar kamar. BRUK! Dia menabrak seseorang, Mamanya. “Mama! Aku takut!” seru Gina. Gina lalu menceritakan semuanya, dan minta maaf pada Mama karena berbohong. “Mama tidak bisa menjelaskan ada apa dengan jalanan kebun, tapi kamu bisa menghilangkan kejadian aneh ini. Gina tak boleh marah. Semua dirugikan dengan pandemi ini, tapi kita harus bersabar dan tidak boleh egois,” kata Mama menasihati. Gina sadar selama ini dia hanya mementingkan dirinya sendiri. Dia menelepon Dian dan meminta maaf, lalu memutuskan untuk berdoa. Dan Gina merasa kamarnya kini kembali seperti semula, nyaman dan tenang.

 

 

 

Cerita: Seruni      Ilustrasi: Novi Chrisna

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *