Kalian hobi makan ikan, Kids? Selain nikmat, ikan juga kaya akan omega-3. Sumber protein hewani ini pun dapat membantu kalian lebih pintar, lho!

Sayangnya ternyata, 8 dari 10 anak Indonesia kekurangan asupan omega-3, Kids. Ini berdasarkan sebuah studi yang dipublikasi di British Journal of Nutrition (2016). Salah satu peneliti dalam studi tersebut, Prof. Dr. Ir. Ahmad Sulaeman, MS, Guru Besar Bidang Keamanan Pangan dan Gizi Departemen Gizi Masyarakat-Fakultas Ekologi Manusia IPB, meneliti puluhan ribu anak usia 4-12 tahun, dari 33 provinsi. “Asupan makanan dan minuman selama 24 jam direkam melalui wawancara. Dari sekian banyak makanan, kita lihat asupan sumber lemak yang signifikan,” terang Prof. Ahmad.

Dipilih 118 makanan yang dianggap paling merepresentasikan pola makan anak Indonesia. Selanjutnya, diambil contoh makanan-makanan tersebut. Dari 13 provinsi, merepresentasikan 78 persen populasi Indonesia. Sumbernya pun beragam, mulai dari pasar tradisional, kantin, supermarket, minimarket lokal, hingga penjual di pinggir jalan. Sampel-sampel ini kemudian dibuat komposit, dan diteliti kandungan asam lemaknya di lab IPB dan lab di Belanda. Setelah itu dievaluasi asupan lemak anak Indonesia berdasarkan kandungan asam lemak yang dikumpulkan dari sampel. Ditemukan bahwa 80,9 persen anak Indonesia kekurangan EPA dan DHA!

Hal ini tentu saja mengkhawatirkan, karena tumbuh kembang, termasuk kecerdasan, sangat ditentukan oleh nutrisi, stimulasi, dan faktor lingkungan dalam 1000 hari pertama kehidupan (HPK). “Selama masa ini, ada komposisi gizi yang sangat esensial untuk proses tumbuh kembang, misalnya asam lemak esensial,” ungkap Prof. Ahmad saat ditemui dalam diskusi yang diselenggarakan Forum Ngobras, Jumat 22/02 lalu.

Asam lemak adalah unsur pembentuk lemak, yang terbagi secara dua garis besar yaitu: asam lemak jenuh (saturated fatty acid), dan asam lemak tak jenuh (unsaturated fatty acid). Asam lemak tak jenuh dibagi lagi menjadi dua: asam lemak tak jenuh ganda atau PUFA (polyunsaturated fatty acid), dan asam lemak tak jenuh tunggal atau MUFA (monosaturated fatty acid). PUFA terdiri atas omega-3 dan omega-6, dan MUFA berupa omega-9. Berdasarkan penelitian Prof. Ahmad dan kolega, kekurangan asupan omega-3 banyak terjadi pada anak Indonesia. Di dalam tubuh, omega-3 (asam linolenat/ALA) diubah menjadi EPA dan DHA. “Keduanya sangat penting dalam pembentukan otak,” ujar Prof. Ahmad. Adapun omega-6 (asam linoleat/LA) diubah menjadi ARA (arachidonat).

Ditemui pada acara yang sama, dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A(K) menjelaskan lebih detil manfaat dari asam lemak esensial antara lain untuk perkembangan sel, perkembangan fungsi otak dan saraf, untuk produksi hormone-like substances, respons imun, dan reaksi radang. “Tanda-tanda desisiensi asam lemak esensial antara lain kulit dan rambut kering, kulit kasar hingga berketombe karena kulit begitu kering, mata kering,” terang dr. Bernie. Kekurangan asam lemak esensial juga berpengaruh terhadap atensi dan perilaku. “Misalnya gangguan perhatian, gangguan konsentrasi, gangguan kognitif, moody, dan mudah emosi,” imbuhnya. Sinaps-sinaps otak bisa saling tersambung dibutuhkan asam lemak esensial. Makin banyak sambungan sinaps, makin tinggi tingkat intelejensia anak.

Kalian pasti bertanya-tanya apa saja, sih, makanan yang kaya akan EPA dan DHA itu? Ya, ternyata seafood, ikan lemuru, ikan sardin, ikan lele, dan susu yang difortifikasi adalah sumber makanan yang kaya akan EPA dan DHA. Sementara tempe dan tahu kaya akan LA dan ALA, tapi tidak mengandung EPA dan DHA, lho, Kids. Nah, dengan begitu, jika kalian ingin cerdas, perbanyak makan ikan, ya…

(Foto : istimewa)

 

 

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *