Hari sudah malam. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Tapi Tio, adik bungsuku yang berumur satu tahun belum tidur juga. Kulihat Mama terus membujuk Tio dengan sabar. Aku tahu, Mama pasti letih sekali.

“Sini, Ma, biar Indah gantikan menggendong Tio,” kataku sambil meraih Tio dari gendongan Mama. “Siapa tahu Tio mau tidur kalau Indah yang gendong,” kataku lagi. Mama menyerahkan Tio kepadaku. “Ya sudah… Mama juga mau makan dulu,” kata Mama kemudian.

Aku menggendong dan membawa Tio ke teras rumah. Angin malam yang dingin membuat Tio sedikit lebih tenang. “Uh… uh…” Tio menunjuk-nunjuk ke arah Timur. Ia menghentak-hentakkan tubuhnya, memaksa aku mengikuti arah hentakan tubuhnya. “Tio, ini sudah malam. Kita tidak boleh keluar,” bujukku. “Uhh…uhhh..” Tio terus saja merajuk. “Ada apa, Indah? Tio kok belum tidur?” tanya Om Didik di sebelah rumah. Tampak Om Didik mengeluarkan sepeda motornya. Rupanya hari ini Om Didik dapat giliran kerja malam. Om Didik adalah adik papaku. “Tio rewel dari tadi sore, Om,” laporku. “Papa belum pulang dari Surabaya, ya?” tanya Om Didik.

“Belum, Om..” kataku.

“Ah..Tio pasti kangen sama Papanya. Jadinya rewel..” tukas Om Didik. Lalu ia melambai dan berangkat dengan motornya.

“Tio kangen sama Papa, ya?” kataku sambil membelai kepala Tio. Lalu aku masuk ke dalam rumah. Tapi Tio tidak mau. “Iya..iya..” aku segera kembali ke teras. Mama datang setelah makan malam dengan cepat.

“Aduh, Tio kok masih belum tidur? Sini sayang..” Mama mengambil Tio dari gendonganku. “Uhh.uhhh…” Tio seperti berusaha menyampaikan sesuatu kepada Mama.

Tiba-tiba, dari jauh terdengar bunyi sepeda motor menderu-deru. Sepertinya pengemudinya ngebut sekali. “Bahaya-bahaya..” terdengar suara Om Didik di antara bunyi deru motor. “Cepat, cepat! Tanggul di sebelah Timur jebol..” seru Om Didik panik sambil menghentikan motornya di halaman rumah.

Tong..tong..tong! Terdengar kentongan dipukul di pos ronda. “Mbak, bendungan di sebelah Timur sudah jebol. Rumah-rumah di sebelah sana mulai terendam air. Wah..airnya deras sekali. Ayo, kita harus cepat berkemas. Sebentar lagi airnya pasti sampai di sini,” Om Didik memberitahu Mama.

“Ya Tuhan..” Mama ikut panik. “Indah, tolong gendong Tio! Mama harus berkemas..” Tio segera diserahkan kepadaku. Sekejap pula gang di rumahku mulai ramai. Tetangga-tetangga sibuk berkemas, membawa barang seadanya.

Segera kugendong Tio dengan kain gendongan. Jantungku berdebar ketakutan. Sebisaku kubantu Mama beres-beres. Buku-buku pelajaran dan juga baju seragamku kutata di atas selembar seprei seperti yang dilakukan Mama. Aneh, sepertinya Tio mengerti bahwa kami sedang sibuk. Ia diam saja di dalam gendonganku. “Mbak, sini barang-barang yang berat saya pindah ke tempat yang tinggi..” Om Galih adik bungsu Papaku juga datang ikut membantu. Aku dan Mama jadi agak tenang. Om Galih segera memindahkan televisi dan tape recorder ke atas lemari pajangan. “Banjir..banjir..Rumah Pak Roy sudah kemasukkan air..” orang-orang mulai berteriak. Mama, Om Galih, dan Om Didik semakin cepat berkemas.

Dua jam setelah itu, anak-anak dan para ibu serta orang-orang yang sudah tua diungsikan ke Masjid. Ketika aku, Tio, dan Mama tiba di tempat pengungsian, sudah banyak orang yang berkumpul di sana. Sebagian besar dari mereka sudah terlelap ketika banjir datang. Karena itu mereka tidak sempat lagi menyelamatkan barang-barang mereka. Baju yang ada juga hanya yang melekat di badan. “Ma, untung ada Tio yang rewel..” bisikku kepada Mama yang sedang menggendong Tio. “Mungkin Tio ingin memberitahu..tapi dia kan masih kecil dan belum bisa ngomong,” sahut Mama sambil membelai kepala Tio yang sudah terlelap.

Mungkin ini yang disebut orang-orang sebagai indera keenam. Tio hanya merasakan akan terjadi sesuatu. Ia gelisah tapi tidak tahu apa-apa. Aku bersyukur pada Tuhan. Karena keluargaku sempat menyelamatkan barang-barang yang berharga. Dan yang terpenting, nyawa kami terselamatkan.

Ilustrasi: Just For Kids Magazine

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *