Seperti biasa, pagi itu Rani mengayuh sepeda menuju sekolah ditemani kicauan burung dan sinar matahari yang belum begitu menyengat. Jarak dari rumah ke sekolah memerlukan waktu 45 menit untuk ditempuh. Sebenarnya, bisa saja ia naik angkutan, tapi uang sakunya lebih baik ditabung daripada untuk bayar angkutan.

Rani hidup dalam keluarga yang sederhana. Ibunya menjadi tulang punggung sejak Ayahnya meninggal karena kecelakaan motor. Meski hidup dalam kesederhanaan, Ibunya selalu mengajarkan untuk tetap bersyukur atas apa yang dimiliki. Namun, terkadang Rani juga ingin seperti teman-temannya yang serba berkecukupan.

“Hai, Ran!” sapa Nayla yang muncul dari belakang. “Eh, kamu, Nay. Tumben naik sepeda, biasanya naik angkutan?” tanya Rani. “Iya, biar sehat. Hehe,” jawab Nayla. Nayla adalah teman sekelas Rani. Walaupun tidak duduk sebangku, tapi Nayla akrab dengan Rani.

“Anak-anak, hari ini Ibu akan membagi kelompok untuk membuat makalah tentang kebersihan lingkungan. Kelompok pertama, Wira, Nayla, Keke, dan Rani,” sebut Bu Lili di depan kelas. Nayla langsung menengok Rani yang duduk di belakangnya. “Hore, kita sekelompok, Ran!” seru Nayla bersemangat. Rani hanya membalasnya dengan senyum riang.

Jam istirahat kali ini digunakan untuk mendiskusikan tugas yang diberikan Ibu Lili. “Jadi, kita mau mengerjakan tugas di rumah siapa, nih?” tanya Wira. “Di rumahku aja, Wir,” Nayla mengajukan diri. “Bagaimana yang lain?” Wira meminta persetujuan anggota lain. Keke mengangguk setuju. Rani yang belum tahu, lantas bertanya alamat rumah Nayla, yang ternyata tak jauh dari rumahnya. Ia pun akhirnya setuju, dan besok mereka akan mulai mengerjakan tugas.

Esok hari, setelah bel pulang sekolah berbunyi, Wira, Keke, Nayla, dan Rani berkumpul di gerbang sekolah. Nayla dan Rani sudah siap dengan sepedanya. “Kamu naik apa?” tanya Nayla pada Keke dan Wira. “Kita naik angkutan aja, Nay. Kalian duluan aja, nanti kita ketemu di rumahmu,” sahut Wira. Tanpa berlama-lama, Nayla dan Rani pun mulai mengayuh sepedanya agar segera sampai.

Ketika memasuki perumahan Puri Kencana, Rani agak terkejut. Ternyata, rumah di daerah itu cukup besar. Ia tak menyangka Nayla tinggal di perumahan yang terbilang mewah. Benar saja, ketika sampai di rumah Nayla, ternyata rumahnya memiliki 2 lantai dan garasi cukup besar, serta 2 mobil terparkir di dalamnya.

Nayla langsung mengajak Rani menuju taman yang ada di belakang rumah. “Kita ngerjain tugasnya di sini aja, ya, Ran,” kata Nayla. Rani masih tercengang dengan apa yang dilihat. Nayla yang setiap hari mengendarai sepeda atau naik angkutan, ternyata seorang yang berkecukupan. “Ran?” panggil Nayla. “Eh, iya, Nay. Ada apa?” Rani tak memperhatikan perkataan Nayla sebelumnya. Bi Rumi, seorang asisten rumah tangga paruh baya, datang membawa minuman dingin untuk 4 orang walaupun Wira dan Keke belum datang.

“Nay, kamu kok mau naik sepeda ke sekolah, padahal kamu bisa diantar naik mobil?” telisik Rani. “Kan waktu itu aku sudah bilang. Naik sepeda biar sehat, hahaha,” canda Nayla “Hmm, sebenarnya Mamaku yang mengajarkan agar aku tetap hidup sederhana walaupun berkecukupan. Lagipula, naik sepeda lebih asyik, daripada hanya diam di mobil,” jelasnya. Rani pun berpikir bahwa hidup sederhana bukanlah sesuatu yang perlu disesali, tapi harus disyukuri. (Cerita: Nindy/Ares/Ilustrasi: Putri)

You may also like
Latest Posts from

1 Comment

  1. setuju banget kata-katanya “hidup sederhana bukanlah sesuatu yang perlu disesali, tapi harus disyukuri”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *