Loreng si macan, Desis si ular, dan Putih si kelinci adalah sahabat yang tidak terpisahkan. Tiga sahabat ini tinggal di hutan Rimbun yang indah.

Pada suatu hari, seekor burung gagak datang dari hutan yang jauh. Si gagak hinggap di sebuah batu besar dan bluk! Dia terjatuh!

“Oh, tidak! Gagak, kau tidak apa-apa?” seru Putih sambil menopang tubuh gagak. “Aku lelah karena terbang jauh dari rumahku sampai ke tempat kalian, hutan Rimbun,” kata si gagak lirih.

Loreng macan memberikan  air danau yang segar untuk diminum si gagak. “Minumlah, gagak pemberani!” kata Loreng.  Si gagak minum air dan dia pulih kembali.

“Ceritakan apa yang terjadi dengan hutan tempat tinggalmu!” pinta Desis. “Manusia datang, mereka menjadikan hutan sebagai tempat tinggal mereka dan menyingkirkan kami para binatang,” tangis gagak. “Kejam sekali!” seru Loreng dan Desis. “Hati-hatilah, suatu saat nanti, manusia juga bisa mengincar hutan Rimbun!” pesan gagak.

Gagak pun kemudian tinggal di hutan Rimbun. Ia diberi nama Hitam. Hitam selalu berpesan pada semua binatang agar waspada terhadap manusia.

Pada suatu pagi yang cerah, Putih sedang bersenandung sambil melompat-lompat. Tiba-tiba, Desis merayap dari atas sebuah pohon dan mendesis keras.

“Desis! Mengapa kau marah?” tanya Putih kaget. “Manusia! Manusia sudah datang ke hutan Rimbun!” seru Desis. “Mereka satu keluarga, para manusia yang datang ke hutan kita. Ayah, Ibu, dan Anak!” geram Loreng gusar. “Aku ingin melihat mereka!” seru Putih ingin tahu. “Bodoh! Apa kau tidak ingat cerita Hitam? Jika manusia melihatmu, kau akan dijadikan santapan!” seru Desis. “Manusia juga akan menyakiti Desis hanya karena dia ular! Dan mereka pasti menangkapku untuk dijadikan tontonan!” tambah Loreng. “Aku akan berhati-hati! Tidak perlu khawatir!” seru Putih.

Putih bersembunyi di semak-semak dan mengintip manusia yang baru tiba di tepi hutan Rimbun. Si Ayah sedang mengecat rumah kayu yang baru saja dibangun. Si Ibu sedang merajut pakaian, dan si Anak asyik bermain sendiri. “Kurasa keluarga manusia ini tidak jahat!” kata Putih.

Putih melihat si Anak berlari masuk hutan. “Gawat, kalau bermain terlalu jauh di hutan, dia bisa tersesat!” ujar Putih melompat-lompat mengikuti si Anak.

Masuk jauh ke dalam hutan Rimbun, Putih tiba-tiba mendengar suara mendesis, menggeram, dan berkaok. “Itu suara Desis, Loreng, dan Hitam!” serunya khawatir.

Desis, Loreng, dan Hitam mengitari si Anak yang menangis ketakutan. “Hentikan! Kalian membuat Anak itu ketakutan!” seru Putih. “Bagus kalau begitu! Anak ini akan menceritakan pengalaman menakutkan ini kepada orangtuanya dan mereka akan segera pergi dari hutan Rimbun!” seru Hitam.  “Hutan Rimbun hanya milik kita, para binatang!” seru Desis dan Loreng.  “Jika kalian berbuat jahat pada manusia, manusia akan berbuat jahat juga pada kalian! Hitam, apa yang kau lakukan sehingga manusia marah?” tanya Putih. “Aku mencuri emas milik manusia!” kata Hitam. “Hitam! Mencuri jelas salah! Ternyata, kaulah yang pertama kali membuat masalah!” seru Desis dan Loreng kaget.

Hitam menangis malu. “Aku benar-benar menyesali perbuatanku!” katanya. “Hutan memang tempat tinggal kita, tapi bukan berarti milik kita! Manusia dan hewan bisa hidup berdampingan dengan bahagia! Sekarang saatnya untuk memulai!” kata Putih.

Putih, Desis, Loreng, dan Hitam mengantar si Anak keluar dari hutan. Ayah dan Ibu si Anak menangis gembira. Mereka sangat berterima kasih pada keempat hewan dari hutan Rimbun, “Terima kasih hewan-hewan yang baik. Kami berjanji tidak akan mengganggu kalian. Kita akan hidup berdampingan dengan damai dan saling menolong!”

 

Cerita: Seruni    Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *