Dongeng dari Banten (A Tale from Banten)

 

Dahulu kala, ada seorang pengembara bernama Raden Budog. Saat sedang beristirahat di bawah pohon, ia tertidur. Dalam mimpinya, ia bertemu dengan seorang gadis cantik. Sayang, saat akan memperkenalkan dirinya, ia terbangun. (In ancient times, there was a wanderer named Raden Budog. While resting under a tree, he fell asleep. In his dream, he met a beautiful girl. Unfortunately, when he was about to introduce himself, he woke up.)

Ia bertekad untuk mencari gadis dalam mimpinya. Ditemani anjing dan kuda kesayangannya, berkelanalah Raden Budog menuju arah Utara. “Aku akan mencari gadis cantik dalam mimpiku,” seru Raden Budog.  (He decided to find that girl in his dream. Accompanied by his beloved dog and horse, Raden Budog traveled towards the North. “I’ll find that beautiful girl in my dream,” said Raden Budog.)

Setelah lima hari berkelana, Raden Budog kehabisan bekal. Binatang kesayangannya pun tak sanggup lagi untuk melanjutkan perjalanan. Raden Budog akhirnya melanjutkan perjalanan seorang diri. (After having been wandered for five days, Raden Budog ran out of food. The animals were no longer able to continue the journey. Raden Budog continued his journey alone.)

Tak sengaja, ia mendengar bunyi lesung (alat penumbuk padi) yang sangat merdu dari desa seberang sungai. Ia pun bergegas menuju desa tersebut. (He unintentionally heard the sound of mortar (paddy pestle) that was very melodious from the village across the river. Then he rushed to the village.)

Di desa itu, hiduplah seorang janda bernama Nyi Siti dengan anak gadisnya yang cantik bernama Sri Poh Haci. Setiap hari, Sri Poh Haci selalu membantu ibunya mengerjakan pekerjaan rumah. Salah satunya adalah menumbuk padi dengan menggunakan lesung. (In the village, there lived a widow named Nyi Siti with her beautiful daughter named Sri Poh Haci. Sri Poh Haci helped her mother did the housework every day. One of them was to pound paddies using a mortar.)

Usai menumbuk padi, Sri Poh Haci tetap memainkan lesungnya untuk dipukul-pukul sehingga menghasilkan suara yang sangat merdu dan indah. Karena kegemaran Sri Poh Haci memukul-mukul lesung, membuat banyak gadis di kampungnya berdatangan ke rumah Sri Poh Haci untuk memukul lesung bersama.  (After she had pounded the paddies, Sri Poh Haci kept pounding the mortar that resulted in a very melodious and beautiful sound. Because of Sri Poh Haci’s hobby of pounding the mortar, many girls in the village came to her house and joined her pounding the mortars.)

Memukul lesung menjadi acara rutin setiap akan menanam padi yang diberi nama Ngagondang. Tetapi membunyikan lesung tidak boleh dilakukan pada hari Jumat karena itu merupakan hari keramat. (Pounding the mortar became a routine event whenever they wanted to plant paddies. This event is called Ngagondang. But it was prohibited to sound the mortar on Friday because that day was sacred.)

Raden Budog yang sedang beristirahat di pintu masuk kampung, kembali mendengar bunyi lesung yang mengalun merdu. Ia pun berdiri dan melangkahkan kakinya menuju ke arah sumber bunyi-bunyian itu. Dilihatnya gadis-gadis kampung sedang bermain lesung. Tapi yang lebih mempesonakan Raden Budog adalah, seorang gadis semampai yang cantik jelita. (Raden Budog who was resting at the village entrance, once again heard the melodious sound of mortar. Then he stood up and stepped toward the source of the sounds. He saw the village girls played the mortars. But Raden Budog was attracted with one tall beautiful girl.)

Gadis itu mengayunkan tangannya sekaligus memberi aba-aba pada gadis-gadis lain. Rupanya gadis itu adalah pemimpin dari kelompok itu. (The girl swung her hand, giving cues to the other girls. Apparently the girl was the leader of the group.)

Merasa ada yang memperhatikan, gadis yang ternyata adalah Sri Poh Haci, memberikan isyarat kepada gadis-gadis lainnya untuk berhenti. Gadis-gadis itu pun bergegas pulang ke rumahnya masing-masing. Begitu pula dengan Sri Poh Haci.  (Having felt that there was someone watching, the girl who turned out to be Sri Poh Haci gave signal to the other girls to stop. The girls were rushed back to their homes. And so did Sri Poh Haci.)

( Bersambung /To be continued )

 

Cerita: JFK    Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *