Orangtua mana yang ingin anak yang dikasihinya stres. Namun, disadari atau tidak, perilaku orangtua bisa membuat atau menambah stres pada anak, terutama terkait dengan akademis si kecil. Apa saja sih kira-kira tindakan orangtua yang berpotensi menimbulkan stres pada si buah hati? Simak, yuk!

  1. Terlalu Mengatur Jadwal Belajar

“Ayooo, belajar dulu…!!” ujar Mom Mira yang dibalas dengan keluhan Arlan (10 tahun). “Aku udah selesai tadi Ma,” katanya setengah merengek. Mira membantah, “Ah, mana? Mama nggak lihat. Ayo belajar lagi!” yang disambut dengan rengutan di wajah Arlan yang lalu dengan malas-malasan membuka kembali buku pelajaran.

Pernah seperti itu? Alangkah baiknya, jika anak diberikan kesempatan untuk menyampaikan kebutuhan dan pendapatnya. Di sisi lain, mungkin saja anak terlihat penurut dan melakukan apa yang Moms inginkan, namun yakinkah Moms bahwa ia menikmati aktivitasnya?

Saat anak merasa terpaksa dan tidak menikmati aktivitas belajarnya, bisa berakibat materi tidak terkuasai dengan baik. Energi terbuang sia-sia, anak bisa merasa stres karena merasa banyak belajar namun hasil belajarnya tidak terlalu baik.

  1. Terlalu Fokus Pada Hasil Akademis

Berdasarkan Survei nasional KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) terkait pengasuhan tahun 2015, sebanyak 65% orangtua peduli pada akademik anak saja. Tak hanya di Indonesia, banyak orangtua di negara lain juga berperilaku serupa. Seperti yang dibuktikan oleh hasil survei tahun 2016 di Amerika Serikat. Tercatat, sebanyak 80 persen anak di Amerika Serikat mengatakan bahwa orangtua mereka lebih peduli pada pencapaian akademis ketimbang mereka memiliki perilaku baik pada sesama. “Banyak orangtua begitu memperhatikan kebahagiaan dan kecerdasan anak dibanding hal lainnya,” jelas Rick Weissbourd, seorang ketua penelitian dari Harvard Graduate School of Education.

Bahkan, tidak jarang orangtua reaktif berkomentar, “Kok cuma dapat nilai 80? Si B aja bisa dapat nilai 100,” tanpa melihat proses dan usaha belajar yang sudah dilakukan anak. Perasaan tersudut, sedih karena mengecewakan orangtua, atau marah karena tidak dihargai, bisa muncul karena komentar tersebut. Anak menjadi tegang setiap kali ujian, karena takut hasilnya jelek.

  1. Melabel Perilaku Anak

Disadari atau tidak, beberapa orangtua memberi ‘label’ negatif pada anaknya. Contohnya saja dengan mengatakan, “Kamu malas sih, jadi nilainya jelek”. Label “malas” atau istilah-istilah negatif lain, jika disampaikan secara berulang bisa membuat anak merasa dirinya tidak mampu atau tidak berharga. Selain menjadi tidak percaya diri dan tertekan, pada beberapa kasus akan menimbulkan rasa marah karena anak merasa usaha belajarnya tidak dihargai. Perilaku marah seperti membangkang dan malas sekolah, menjadi salah satu manifestasi stres pada anak.

Kurang Mendekatkan Diri Pada Anak 

Saat ini “hiburan” yang banyak diberikan orangtua pada anak adalah bermain gadget, padahal dampak dari bermain gadget adalah fisik yang mudah lelah dan sulit konsentrasi. Anak perlu waktu bermain bebas (selain gadget) dan bersosialisasi dengan lingkungan sebagai cara melepaskan ketegangan. Dengan begitu, ia akan kembali siap saat waktu belajarnya sudah tiba.

Alangkah baiknya, sisihkan waktu Moms untuk bermain bersama anak. Selain untuk memaksimalkan perkembangannya, bermain bersama juga bisa mempererat ikatan antara orangtua dan anak.

Selain itu, tertawa dan bercanda dengan anak akan memberikan kebahagiaan tersendiri bagi orangtua. Hal ini bisa mengurangi stres yang dialami oleh orangtua, juga anak Anda. Dengan bermain bersama orangtua, rasa khawatir yang dirasakan anak (tentang apapun) bisa berkurang banyak sehingga mencegah terjadinya stres pada anak.

Foto: Ist

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *