Hari ini hari Minggu. Andri merasa bosan di rumah. Ia ingin menghabiskan hari libur dengan teman-temannya. Andri segera mengambil sepeda. Ia pergi ke rumah Budi dan Ismail. Kebetulan, rumah Budi dan Ismail berdekatan dengan rumah Andri. “Siapa tahu, mereka ada di rumah,” ucap Andri.

Benar saja, ternyata, Budi dan Ismail juga sedang merasa bosan di rumah. Andri senang sekali bisa bermain dengan Budi dan Ismail. “Kita mau pergi ke mana, nih?” tanya Budi. “Aku, sih, ke mana saja mau, asalkan hari ini bersama kalian,” balas Andri tersenyum.

Mereka bertiga kemudian pergi dengan mengayuh sepedanya masing-masing. Meski tanpa tujuan, namun perjalanan mereka diselimuti canda tawa.

Setelah beberapa lama. “Kalian lelah, tidak? Sudah tahu, kita mau ke mana?” tanya Ismail. “Lelah, sih, tapi, kita lanjut saja dulu. Kita istirahat nanti saja kalau sudah benar-benar lelah,” kata Budi.

Tiba-tiba, di depan mereka, sebuah sepeda motor melaju kencang. Padahal, di ujung jalan, seorang Ibu setengah tua sedang menyeberang. Ketiganya spontan berhenti mengayuh sepeda dan kompak berteriak. “Awaaaas!” Namun, terlambat. Motor itu menyerempet Ibu tadi.

Tragisnya, pengendara sepeda motor tersebut kabur. Andri, Budi, dan Ismail segera menghampiri si Ibu yang nampak kesakitan. Luka di bagian kaki si Ibu cukup parah. Mereka bertiga khawatir dan juga bingung harus berbuat apa.

Untungnya, Ismail berpikir cepat. Ia ingat di dekat situ ada sebuah klinik. “Aku akan mencari pertolongan. Kalian berdua tunggu di sini, ya,” ucap Ismail. “Baiklah, cepat, ya, Ismail!” kata Budi dan Andri.

Tak lama, Ismail kembali dengan beberapa petugas klinik. Mereka segera membawa si Ibu ke klinik dengan mobil ambulance. Andri, Budi, dan Ismail mengikuti dengan sepeda.

“Kalian baik sekali, sudah mau menolong Ibu. Kalau tidak ada kalian, Ibu mungkin terlambat mendapat pertolongan. Nama kalian siapa? Saya Ibu Mariam,” kata si Ibu yang sudah berada di ruang perawatan. “Kami hanya menolong sebisa kami, Bu,” ucap Andri.

Tidak lama kemudian, datang seorang laki-laki dewasa. Ternyata, itu anak dari Ibu Mariam. “Ibu, Ibu tidak apa-apa?” tanya si anak yang bernama Raihan. “Ibu tidak apa-apa, untung ada mereka,” ujar si Ibu sambil melihat ke arah Andri, Budi, dan Ismail. “Terima kasih atas bantuannya,” ucap Kak Raihan. “Sama-sama, Kak,” balas Andri, Budi, dan Ismail.

Setelah mendapat perawatan dari dokter, Ibu Mariam pun diperbolehkan pulang. “Mari kita pulang, saya antar kalian ke rumah masing-masing, ya,” kata Kak Raihan. “Tapi, Kak. Kami bertiga naik sepeda,” potong Budi. “Tidak masalah. Sepeda kalian bisa ditaruh di belakang mobil,” kata Kak Raihan.

“Kita turun di depan jalan itu saja, Kak. Soalnya, rumah kita di gang sempit,” kata Andri. “Baiklah, tapi, biarkan Ibu dan Kak Raihan mampir sebentar ke rumah kalian, ya,” ucap Ibu Mariam.

“Bu, lihat, kita pulang dengan siapa,” seru Andri. Ternyata, Ibunya Budi dan Ibunya Ismail sudah menunggu di rumah Andri. “Kalian ke mana saja, seharian baru pulang?” tanya Ibunya Budi.

“Maafkan mereka, Bu. Mereka terlambat pulang ke rumah karena menolong saya dari kecelakaan. Berkat mereka bertiga, saya bisa selamat dari kecelakaan,” jelas Ibu Mariam.

Meski terkejut, Ibu dari ketiga anak itu bangga karena anak mereka telah berbuat baik meski pada orang yang tak dikenal. Sebagai tanda terima kasih, Ibu Mariam dan Kak Raihan memberikan tiket liburan gratis ke sebuah taman wisata. Andri, Ismail, dan Budi melompat kegirangan. Hari itu merupakan hari Minggu yang istimewa buat mereka bertiga.

 

 

Cerita: JFK    Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *