Hari Air Sedunia 2022- Pentingnya Kelestarian dan Perlindungan Siklus Air

Tahukah Moms, hari ini adalah Hari Air Sedunia, tepatnya tanggal 22 Maret. Kita tak bisa hidup tanpa air. Manfaat air luar biasa banyaknya. Tak hanya sebagai air minum dan kesehatan, air juga berperan dalam kehidupan manusia sehari-hari. Mulai dari kebutuhan domestik seperti mandi, memasak, mencuci, maupun  bidang lain seperti mengairi lahan pertanian, sumber PLTA, sarana transportasi air seperti perahu dan kapal, alat utama pemadam kebakaran, dan banyak lagi.

Apa jadinya jika bumi mengalami krisis air? Duh, tak terbayang kacaunya kehidupan. Hal ini didukung oleh data yang dikeluarkan oleh badan PBB yaitu World Meteorological Organization. Sebagian besar negara di dunia tidak siap menghadapi krisis air, seperti banjir dan kekeringan yang diperkirakan akan memburuk seiring perubahan iklim. Secara global, laporan tersebut menemukan 25% dari semua kota yang disurvei sudah mengalami kekurangan air secara berkala. Selama dua dekade terakhir, pasokan gabungan dari sumber air permukaan, air tanah, dan air yang ditemukan di dalam tanah, salju, dan es di planet ini telah menurun sampai 1 sentimeter per tahun.

Pentingnya Pelestarian Air

Itulah mengapa, kelestarian air itu menjadi tugas bersama. Apalagi, di dalam negeri sendiri, beberapa daerah di Indonesia secara nyata sudah mengalami krisis air. Ini tentu perlu mendapat perhatian semua kalangan, baik dari pemerintah, swasta dan masyarakat itu sendiri. Menyadari hal tersebut sekaligus memperingati Hari Air Sedunia, Danone-AQUA menyelenggarakan Webinar yang bertajuk “Melestarikan Ketersediaan Air Dalam Menghadapi Perubahan Iklim”, hari ini, Selasa (22/03).

Air, terutama air tanah, adalah sumber daya yang paling umum digunakan untuk mendukung kebutuhan air minum, pertanian, sistem sanitasi, dan kebutuhan industri. Apa yang kita lakukan di atas permukaan tanah sangat berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas air tanah yang ada. Oleh karena itu, aktivitas yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab adalah kunci dari kelestarian dan perlindungan siklus air yang berkelanjutan.

Dr. Ir. Muhammad Rizal, M.Sc., Direktur Bina Teknik Sumber Daya Air Kementerian PUPR dalam  sambutannya menjelaskan bahwa indeks pemakaian air di Indonesia menunjukkan, beberapa tempat seperti di Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, serta Bali dan Nusa Tenggara mempunyai status kritis sedang sampai dengan kritis berat yaitu indeks pemakaian air mencapai 50% – 100% untuk berbagai keperluan seperti domestik, Industri dan pertanian.

Hal tersebut, katanya, merupakan tantangan yang dihadapi Indonesia, sehingga Kementerian PUPR harus menjawab dengan pembangunan infrastruktur dan pengelolaan sumber daya air yang ditujukan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat. “Keterlibatan masyarakat dan badan usaha dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam pengelolaan sumber daya air dan diharapkan kinerja infrastruktur yang telah terbangun dapat terjaga dengan lebih baik,” katanya.

Tanggung Jawab Semua Pihak

Pengelolaan air secara terpadu berbasis Daerah Aliran Sungai (DAS) diperlukan untuk menjaga keseimbangan siklus air dan memastikan para pengguna air di sekitar DAS terhindar dari bencana, sehingga dapat mempertahankan mata pencahariannya. DAS yang terkelola dengan baik dapat memastikan ketersediaan air tanah tetap terjaga memenuhi kebutuhan air di daerah hilir yang kebanyakan adalah daerah permukiman perkotaan dan kawasan industri.

Tantangan lain, diutarakan Tri Agung Rooswiadji, Footprint Program Manager, WWF Indonesia terkait tercemarnya sumber air. Ini menyebabkan pengelolaan terhadap kelestarian siklus air menjadi sulit, misalnya biaya jadi meningkat untuk memproses air tanah tersebut. “Masalah utamanya adalah kita tidak mengetahui secara pasti berapa banyak ketersediaan air tanah yang ada, yang artinya kita bisa saja gagal dalam proses pemanfaatan sumber-sumber air tanah yang vital, seperti misalnya di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS). Mengeksplorasi, melindungi, serta menggunakan air tanah secara berkelanjutan akan menjadi kunci untuk bertahan dan beradaptasi terhadap perubahan iklim dan efek dari semakin meningkatnya populasi manusia,” imbuhnya.

Masalah pencemaran air tanah, juga disayangkan oleh Putu Ayu Saraswati, Puteri Indonesia Lingkungan 2020. Terkadang, katanya, perbuatan manusia itu sendiri yang mencemari sumber air, misalnya pembuangan limbah cair rumah tangga ke sungai, menggunakan pupuk dan pestisida kimia dan sebagainya. “Contoh sederhana yang bisa kita lakukan sebagai wujud nyata peran kita sebagai bagian dari masyarakat adalah secara sadar berhemat air untuk kegiatan sehari-hari, misalnya dalam menyiram tanaman, mandi, mencuci, atau menggosok gigi. Proses menggosok gigi dengan membiarkan kran air terus mengalir dapat mengakibatkan sekitar 6 liter air bersih terbuang dengan sia-sia. Akhirnya, saya menghimbau kepada seluruh elemen masyarakat untuk memikul tanggung jawab yang sama terhadap kelestarian siklus air dan ketersediaan air bagi kehidupan kita,” ujarnya.

Usaha pelestarian siklus air dan juga ketersediaan air, turut menjadi tanggung jawab industri, salah satunya Danone-AQUA. Ratih Anggraeni, Head of Climate and Water Stewardship Danone Indonesia, menyampaikan program dan inisiatif perusahaan dalam melakukan usaha-usaha pelestarian siklus air dan juga ketersediaan air. “Kami melindungi sumber daya air tanah secara menyeluruh dengan mengembalikan air ke dalam ekosistem, menggunakan air secara bertanggung jawab dan meningkatkan akses air bersih untuk masyarakat. Kami berkomitmen dalam menjaga sumber daya air untuk keberlanjutan lingkungan dan bisnis bersama masyarakat serta pemangku kepentingan. Kami menjaga kuantitas dan kualitas air di Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan menginisiasi penelitian hidrogeologi, program konservasi, dan pembentukan forum pengguna air untuk memastikan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan dalam mengelola DAS. Danone-AQUA terus berupaya mengembangkan program untuk meningkatkan akses air bersih, sanitasi, dan penyehatan lingkungan bagi masyarakat di sekitar pabrik dan wilayah operasional AQUA di Indonesia yang masih kekurangan akses air bersih. Oleh karena itu kami bermitra dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)  untuk melakukan proses validasi dari program pengelolaan sumber daya air kami,” tutupnya.

Foto: Efa

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *