Laptop? iPhone? Blackberry? Android? iPad? Wah, siapa sih yang tidak senang memilikinya? Hampir semua orang bahkan anak-anak memilikinya. Namun, tidak dengan Andara. Ia begitu menginginkan handphone yang canggih seperti teman-temannya.

Setiap kali teman-teman sekelasnya saling memamerkan gadget unggulan mereka, Andara siswi kelas 5 SD itu hanya terdiam. Ia tak memiliki salah satunya. Orangtuanya yang hanya seorang pedagang kue, tidak akan mampu membelikannya. Meskipun ia merengek dan meronta-ronta.

“Ani, berapa harga handphone barumu itu?” tanya Andara suatu ketika. “Hahaha…ini bukan handphone. Ini iPad,” kata Ani. Kontan saja semua teman-temannya pun ikut tertawa. “Oh, maaf,” jawab Andara malu. “Apa harganya mahal?” tanya Andara lagi. “Tentu saja. Lebih dari satu juta. Kalau punyaku ini harganya 3 juta. Keren kan? Ini hadiah ulang tahun dari papa,” kata Ani sombong.

“Kalau Andara sih nggak mungkin bisa beli iPad,” ejek Amanda. Andara hanya dapat tercengang mendengar ejekan teman-temannya. Hatinya sedih, tersayat. Amarahnya tak dapat ditahan lagi. Tapi ia ingat kata ibunya. Orang beriman harus sabar, tidak boleh cepat marah. Dan untunglah Andara bisa menahan emosinya.

Tiba di rumah, Andara mendekati ibunya yang sedang sibuk membikin kue. “Ibu, apa suatu saat nanti aku bisa punya iPad?” tanya Andara. “Apa itu iPad, Nak?” tanya ibu kembali. “Itu lho, Bu. Bentuknya kotak, layarnya bisa disentuh dan banyak gamenya,” kata Andara semangat.

“Oh, untuk apa iPad itu? Apa kamu benar-benar membutuhkannya?” tanya ibu. Andara hanya dapat tersenyum kecut mendengar pertanyaan ibunya. “Tidak, Bu. Itu tidak penting kok. Apalagi harganya mahal. Sudahlah, lupakan saja, Bu,” kata Andara sambil pergi menuju kamar.

Sambil memandangi langit-langit kamarnya, Andara termenung. “Untuk apa aku meminta iPad? Kehidupan keluargaku jauh lebih penting dari apa pun,” pikir Andara.

Esok hari sesampainya di sekolah, ejekan pun kembali terdengar menggema di sudut kelas. “Hahaha…lihat Andara! Hanya kamu yang belum punya gadget canggih di kelas ini,” ejek Anton dan Ani.

“Sudahlah! Kasihan Andara kalau kalian ejek terus!” kata Monika, sahabat yang selalu membela Andara. “Memang kenyataan! Anak miskin seperti dia patut diejek terus!” timpal Toni. “Ya Tuhan, kuatkanlah hamba. Jangan biarkan emosi hamba memuncak,” kata Andara dalam hati. Monika pun mengajak Andara ke kantin.

“Andara, jangan dengarkan kata-kata mereka tadi ya!” kata Monika. “Tentu, Monika. Oh iya, apa benar iPad itu, harganya 3 jutaan?” tanya Andara. “Mungkin, begitu. Apa kamu benar-benar ingin iPad?” tanya Monika. “Tidak, mana mungkin aku tega membiarkan orangtuaku bekerja keras, hanya untuk sebuah iPad?” jawab Andara dengan senyum. “Tenang saja, Tuhan selalu mengabulkan keinginan hamba-Nya yang selalu sabar,” kata Monika sambil memeluk Andara.

Bel tanda pulang pun berbunyi. Andara dan Monika pulang bersama.

Saat di rumah. “Hei! Sebentar lagi Ujian Akhir Semester, semoga aku bisa membanggakan ibu dan bapak,” kata Andara dalam hati sambil melihat kalender lusuhnya.

Andara pun mulai mempertekun belajarnya. Ia ingin sekali membuat bapak dan ibu melihat dirinya dengan bangga. Hari UAS pun datang. Syukurlah, Andara menjalaninya dengan lancar. Ia selalu mengucap syukur seusai ujian.

Satu minggu pun berlalu. Pengumuman hasil UAS sudah dipajang di papan pengumuman yang sangat besar. Seluruh siswa kelas 5 mulai bergerombol melihatnya. ANDARA AZIZAH. Namanya terletak di deretan paling atas. Ia telah mendapat peringkat satu. Sungguh betapa bahagianya ia saat itu. Sujud syukur pun ia haturkan.

Sebagai hadiah, Bapak Kepala Sekolah pun memberikan sesuatu kepada Andara, dan membebaskan biaya SPP selama 6 bulan untuknya. Dan, betapa terkejutnya ia. Hadiah tersebut adalah sebuah iPad canggih terbaru. Air matanya tak dapat dibendung. Semua tercengang melihat itu, terutama Ani dan Amanda, yang sepertinya iri sekali. Jika kita bersungguh-sungguh, Tuhan pasti mengabulkan keinginan kita.

 

Cerita: JFK    Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *