Pandemi yang disebabkan oleh virus seperti COVID19, bukanlah pandemi virus yang pertama kali terjadi di dunia. Oleh sebab itu, penerapan kebiasaan dan budaya baru seperti pakai masker dan kebiasaan hidup sehat lainnya amatlah dibutuhkan, guna mempersiapkan diri menghadapi pandemi-pandemi yang mungkin akan terjadi di masa mendatang. Gerakan Pakai Masker (GPM) bersama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), FSGI (Federasi Serikat Guru Indonesia) dan Satgas Penanganan COVID-19 membuat webinar dengan tema “Diseminasi Protokol Kebiasaan Kesehatan pada Anak Usia Sekolah di Masa Pandemi”, yang diadakan pada Selasa, 24 November 2020. Tujuan dari kegiatan ini adalah mensosialisasikan pentingnya Adaptasi Kegiatan Baru (AKB) kepada para guru sekolah dasar dan menengah, serta PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), demi melindungi kesehatan dan keselamatan anak usia sekolah di Indonesia. Hal ini terkait adanya Surat Keputusan Bersama (SKB) dari empat kementerian tentang pemberlakuan kegiatan belajar mengajar tatap muka pada tahun ajaran 2020/2021.

Hadir sebagai narasumber dalam acara yaitu, Bapak Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI; Ibu Retno Listyarti, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI); Dr. dr. Aman B. Pulungan Sp.A(K), Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI); Bapak Sigit Pramono, Ketua Umum Gerakan Pakai Masker (GPM); dan Bapak Heru Purnomo, Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI). Webinar ini merupakan langkah awal GPM untuk memulai program kampanye publik Penyuluh untuk Penyuluh (PuP) klaster anak dan keluarga. Kegiatan ini akan dilakukan secara terus menerus dengan tujuan untuk memutus mata rantai penyebaran virus COVID-19.

Fakta mengenai pandemi akan terjadi lebih lama dari waktu yang telah kita perkirakan, serta tingginya tingkat kematian anak Indonesia akibat pandemi COVID-19, menjadikan perubahan pola perilaku baru yang lebih sehat harus dijalankan secara berkelanjutan. “Pembentukan perubahan pola perilaku yang lebih sehat pada anak, harus dimulai dari rumah maupun lingkungan sekolah, dan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan,” ungkap Bapak Sigit Pramono sebagai pembuka webinar. Bapak Sigit melihat peran strategis dari bapak ibu guru serta orangtua dalam pembentukan pola hidup baru yang lebih sehat sangat dibutuhkan. Orangtua dan guru dapat menjadi agen perubahan perilaku kebiasaan hidup baru, maupun contoh dan teladan yang baik bagi anak usia sekolah.

Sejalan dengan Bapak Sigit, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI Bapak Nadiem Makarim mengatakan bahwa keluarga merupakan lingkup pendidikan pertama dalam pembentukan karakter dan perilaku anak. Lingkungan yang sehat dimulai dari keluarga yang sehat. Oleh karena itu, langkah yang tepat untuk mengenalkan protokol kesehatan dimulai dari keluarga, sehingga hal tersebut dapat langsung diterapkan dan menjadi kebiasaan sehari-hari. Kemendikbud mendorong sosialisasi serta edukasi mengenai perubahan perilaku hidup sehat sesuai dengan protokol kesehatan saat ini, yakni 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak). Selama pandemi, disiplin kesehatan telah dijalankan oleh Kemendikbud bersama berbagai pihak. Bentuknya misalnya: adanya duta perubahan perilaku yang berasal dari kalangan mahasiswa. Selain itu, dengan melibatkan perguruan tinggi, Kemendikbud melakukan sosialisasi mengenai isu-isu kesehatan, pengendalian penyakit, khususnya edukasi kepada masyarakat mengenai perubahan perilaku. Bapak Nadiem mengatakan optimis dengan kerjasama yang dilakukan bersama berbagai pihak ini. Gotong royong kita dalam pencegahan dan penanggulangan pencegahan COVID-19 dapat menjadi semakin solid. “Mari kita gencarkan sosialisasi supaya kita semua dapat menjaga kesehatan, agar Indonesia segera pulih dan bangkit dari pandemi,” kata Bapak Nadiem.

Pentingnya perubahan kebiasan baru seperti memakai masker, juga diungkapkan oleh Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Aman B. Pulungan Sp.A(K). Apalagi, angka kasus terkonfirmasi virus ini semakin naik dari waktu ke waktu. Saat ini berdasarkan data resmi pemerintah sudah ada 512 anak yang meninggal akibat virus COVID-19. Angka ini merupakan angka yang tertinggi dibandingkan negara-negara Asia Pasifik lainnya. Dr. dr. Aman B. Pulungan Sp.A(K) mengatakan, perubahan perilaku hidup bersih sehat (PHBS) haruslah ditanamkan sejak dini. Latih anak untuk menerapkan PHBS dan protokol kesehatan secara konsisten. Mulai ajarkan anak menggunakan masker sejak usia di atas 2 tahun sesuai dengan saran dari IDAI. Masker dapat melindungi pemakai dan orang lain dari penyebaran virus COVID19. Sebuah studi menemukan pada suatu perjalanan pesawat, terdapat 1 orang yang menderita COVID-19. Namun, tidak ada orang lain yang tertular karena orang tersebut memakai masker sepanjang waktu. Ajarkan kebiasaan cuci tangan sejak anak usia MPASI (anak mulai dikenalkan Makanan Pendamping Air Susu Ibu) serta ajarkan anak dengan sabar mengenai kebiasaan menjaga jarak. Mengajarkan protokol kesehatan pada anak sejak dini dapat menjadi bagian dari stimulasi perkembangan personal sosial anak. Orangtua harus menjadi contoh perilaku memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan agar anak dapat meniru kebiasaan baik ini. Luangkan waktu untuk berdiskusi dengan anak usia sekolah & remaja, serta tetap tinggal di rumah saja untuk mencegah penularan di dalam keluarga.

Sementara itu, Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Bapak Heru Purnomo menjelaskan, sekolah mempunyai peran penting untuk melindungi warga sekolahnya. Hal ini sejalan dengan amanat undang-undang guru dosen pada pasal 39 ayat 1, yang menyebutkan bahwa pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, organisasi profesi, satuan pendidikan wajib melakukan perlindungan dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan persiapan yang matang sebelum kegiatan belajar mengajar secara tatap muka dilaksanakan. Persiapan yang dilakukan bukan hanya persiapan fisik saja, namun juga persiapan secara psikis.

Persiapan psikis ini, misalnya, berupa aturan yang mengatur sikap, maupun perilaku guru, serta sikap perilaku warga sekolah. Hal ini dilakukan untuk membangun kesadaran akan perlunya protokol kesehatan guna memutus mata rantai penyebaran virus COVID-19 di lingkungan sekolah. “Ketika daftar periksa secara fisik dan psikis menjadi ukuran dan syarat utama, dan ketika syarat utama sudah terlaksana dengan baik, artinya kita sudah menjalankan langkah-langkah utama untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19,” ungkap Bapak Heru.

(Foto : Ist)

 

 

 

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *