“Pagi semua!” seru Nene menyapa ketiga temannya. “Pagi Nene!” sahut Dinda, Bidu, dan Lola. Nene duduk, mengambil buku pelajaran sejarah, dan membacanya. Tetapi dia tidak bisa berkonsentrasi karena percakapan Dinda, Bidu, dan Lola.

“Katanya gudang sekolah seram karena sekolah kita dekat rumah sakit,” kata Dinda. “Lapangan sekolah kita juga seram!” sahut Bidu. “Iya benar! Lapangan sekolah kita kan menghadap persis ke kamar jenazah di rumah sakit!” ujar Dinda membelalak ngeri.

“Katanya ada anak kelas 1 pernah cerita, waktu itu sore-sore sekitar jam 5, dia tidak sengaja menengok ke arah jendela kamar jenazah rumah sakit…dan ada sosok yang melambai padanya!” cerita Dinda bergidik ngeri. “Hiiiiiiii….!!!” Bidu ketakutan.

“Serem!” seru Dinda sambil merinding. “Gudang sekolah pasti dihuni hantu sama seperti yang dilihat si anak!” kata Lola.

“Bukan hantu…katanya monster! Monster yang terkena zat kimia limbah rumah sakit!” bisik Bidu antusias. “Haaaaah!!?” seru Lola dan Dinda. “Monster?” pikir Nene. Sekarang dia mulai ketakutan!

Keesokan harinya, Nene dan teman sekelasnya mendapat pelajaran olahraga. “Hari ini kita akan berlatih voli!” kata Bu Guru. “Bidu, tolong ambil bola voli di gudang sekolah ya!” ucap Bu Guru. Mendengar kata gudang, Bidu langsung pucat. “Pasti Bidu takut!” pikir Nene. Dia melirik Dinda dan Lola yang saling berpandangan satu sama lain.

Setelah lama ditunggu, Bidu tidak juga kembali. Bu Guru memutuskan untuk menyusulnya. Ternyata Bidu ditemukan pingsan di gudang sekolah! Dia langsung dibawa ke UKS dan dijemput pulang oleh kedua orangtuanya. Nene, Dinda, dan Lola saling berbisik, “Monster yang membuatnya pingsan…”

“Kita harus melawan monster jahat itu!” kata Nene penuh tekad.

“Kau benar, Nene! Dia harus merasakan pembalasan karena sudah membuat Bidu pingsan!” seru Dinda dan Lola.

Ketika istirahat tiba, Nene, Dinda, dan Lola pergi ke gudang sekolah. Alangkah kagetnya mereka menemukan anak-anak dari kelas lain juga mau melawan si monster!

“Kami sudah dengar kabar Bidu pingsan! Ayo kita serang monster itu!” kata mereka. “Monster itu berbulu cokelat kekuningan…mirip kemoceng!” tambah yang lain.

Nene dan teman-temannya masuk ke gudang dengan perlahan.

Salah satu dari mereka mencari-cari tombol lampu dan…byar! Cahaya kuning suram menerangi gudang.

Tiba-tiba Lola memekik dan menunjuk ke sesuatu yang tertutup kain putih….Nene bisa melihat bulu-bulu kuning bercampur cokelat menyembul keluar dari kain putih…

Lola memberikan sapu pada Nene. Nene mengangguk mengerti dan….BrAAAGH!

Nene memukulkan sapunya pada si monster, kemudian…Bruuuk! Si monster terjatuh, kalah! Nene dan teman-temannya terdiam memperhatikan si monster…monster itu mirip sebuah boneka besar…..

“Aduduh apa yang kalian lakukan!!?” Tiba-tiba pintu gudang terbuka, dan Pak Budun berseru sambil tergopoh-gopoh. “Ini kan hasil prakarya alumni pendahulu kalian yang dibuat untuk sandiwara sekolah!” Pak Budun mengambil ‘monster’ itu dari lantai dan menaruhnya kembali ke tempatnya semula.

“Pak…kami kira itu…eh…monster…!” kata Nene tergagap.

“Aduduh…monster apaan? Nggak ada yang namanya monster!” kata Pak Budun sambil menggaruk-garuk kepalanya. “Adanya cuma boneka kemoceng yang bagus ini…coba kalian lihat! Dibuat dari bulu ayam lho!” tambahnya.

“Terus kenapa Bidu pingsan di gudang tadi?” tanya Lola.

“Aduduh, nak Bidu belum sarapan pagi, makanya dia tidak kuat dan pingsan! Jangan khawatir, Bidu besok sudah bisa masuk!” kata Pak Budun.

“Ya ampun, selama ini kita mengira ada monster di dalam gudang sekolah! Dan dia membuat Bidu pingsan!” seru Nene.

Pak Budun terkekeh, “Aduduh…ada-ada saja!”

“Terus, soal kamar jenazah rumah sakit berhantu itu juga bohong?” tanya Dinda memelas.

“Aduduh…iya! Itu semua cuma cerita bohong, disebar buat bikin takut!” seru Pak Budun.

“Huaaaaaaaaa!” Nene dan anak-anak mengeluh.

“Naaaah, lain kali jangan mudah percaya begitu saja sama kabar yang mencurigakan… buktikan dulu benar atau tidak!” kata Pak Budun menasehati.

“Huuh, iya deeeh!” Nene tersenyum malu. “Besok kalau Bidu masuk dan tahu hal ini, pasti dia akan tertawa terbahak-bahak!” gumam Nene.

 

 

 

 

Cerita: Seruni    Ilustrasi: JFK

 

 

 

 

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *