“Evi, selamat yah! Katanya kamu pindah rumah!” kata Siska teman akrab Evi. “Hehehe, terima  kasih, Siska. Akhirnya aku punya rumah yang pas untuk tempat tinggal Wofu!”  kata Evi sambil menggenggam tangan Siska.  “Syukurlah, aku ikut senang!” seru Siska. Wofu adalah anjing peliharaan keluarga Evi. Evi sudah lama ingin pindah ke rumah besar supaya Wofu bisa bergerak leluasa, dan sekarang akhirnya keinginan Evi terpenuhi. Evi mengundang Siska ke rumah barunya. Siska berjanji akan datang hari Sabtu. “Aku kangen sama Wofu,” kata Siska. “Dia pasti senang ketemu kamu!” kata Evi tersenyum lebar.

“Wah, ternyata rumah baru Evi tusuk sate ya…” gumam Siska ketika melihat rumah baru Evi. Rumah itu besar dan indah tapi tusuk sate. Rumah tusuk sate adalah rumah yang terletak di  perempatan jalan. Menurut kepercayaan, rumah tusuk sate tidak bagus untuk ditinggali. “Ah, tapi Evi dan keluarganya baik-baik saja, kok!” kata Siska menghilangkan kekhawatirannya sambil menekan bel rumah Evi. Tidak lama kemudian, Evi keluar rumah. “Hai, Siska,” sapa Evi. Mungkin hanya perasaan Siska, tapi Evi tampak tidak bersemangat. “Evi, ada apa?” tanya Siska. “Yuk, masuk dulu, nanti aku ceritakan,” ucap Evi menggandeng tangan Siska, mengajaknya masuk rumah.

“Maaf ya, kamu nggak bisa ketemu Wofu, Papa dan Mama sedang membawanya ke dokter. Baru saja tadi, sebelum kamu datang,” kata Evi. “Aduh, Wofu sakit apa?” tanya Siska khawatir. “Dia jadi tidak bersemangat dan tidak mau makan. Aku benar-benar bingung, gejala seperti ini tidak pernah muncul!” keluh Evi. Siska memeluk Evi, menenangkannya. “Aku jadi mempercayai hal-hal yang tidak masuk akal…” kata Evi yang lalu bercerita tentang berita yang dilihatnya di majalah bekas tentang rumah barunya yang ditinggali sekarang. “Hah! Rumah ini masuk majalah?!” seru Siska terkejut. Evi mengangguk lemah. Dia menunjukkan artikel di majalah lama yang membahas tentang rumah-rumah berhantu. Siska membaca artikel itu.  Kata artikel, di rumah ini ada gudang berhantu. Masing-masing kesaksian di artikel berbeda menurut orang yang pernah masuk ke dalam gudang. “Ada yang pernah mendengar suara tawa atau tangisan, merasakan hawa dingin, dan ada pula yang pernah mencium bau busuk,” kata Siska membaca artikel itu sambil melihat pada Evi. “Aku belum pernah mengalami itu semua. Tapi beberapa hari yang lalu, Wofu terkurung di dalam gudang, dan sejak itu dia jadi sakit,” cerita Evi.

Evi mengajak Siska melihat gudang yang dimaksud. Gudang itu bangunan tersendiri yang terletak di pekarangan belakang rumah Evi. DUK-DUK-DUK! Siska dan Evi menjerit kaget. “Toloong! Buka pintunya!” terdengar suara wanita berteriak dari dalam gudang. “Mbok Siti!” seru Evi lalu berlari menuju gudang dan membukakan pintunya. “Aduh Non, makasih, ya! Mbok takut banget di dalam gudang. Sebelum terkunci, Mbok dengar ada suara tertawa. Mbok pikir itu Non Evi. Tapi terus Mbok inget Non Evi lagi sama Non Siska. Terus pintunya tiba-tiba menutup sendiri! Mbok buka nggak bisa! Pintu gudang kan kemarin baru diganti kuncinya, masa sekarang sudah rusak lagi?” keluh Mbok Siti.  Wajah Evi pucat. Siska tidak tahan melihat teman akrabnya kesusahan. Dia memberanikan dirinya masuk ke gudang angker tersebut. “Siska!” seru Evi takut. “Non Siska!” Mbok Siti juga ikut memanggil Siska. “Nggak apa-apa, tenang saja,” sahut Siska.

Gudang itu luas dan bertingkat dua serta disinari oleh lampu kuning.  Sayang sekali sinar lampu itu tak cukup untuk menyinari kegelapan di sudut-sudut gudang. “Astaga, di sini juga tidak ada jendela!” keluh Siska. Siska berjalan perlahan ke dalam gudang. Tiba-tiba, lampu mati. Dan perlahan Siska mencium bau tidak sedap…seperti bau amis. Aku tidak boleh takut, Siska membatin. Pandangan Siska tertuju ke arah sudut gelap di sebelah kirinya. Ada yang bergerak, sesuatu yang lebih pekat dari kegelapan itu sendiri. Apakah itu tipuan mata? Suasana makin mencekam, dan Siska merasa ada yang mengawasinya. Sayup-sayup terdengar suara tawa. Tidak, aku yakin itu dari luar! Pikir Siska. Dan Siska baru ingat kalau gudang ini tidak punya jendela! BRUK! Bunyi barang berat yang jatuh membuat Siska kaget. Terdengar jeritan di belakang Siska. Rupanya, Evi dan Mbok Siti ikut masuk ke dalam gudang. “Bu..bunyi apa itu?” bisik Evi. “Hanya barang jatuh. Tidak ada apa-apa disini, tenang saja. Jangan takut,” kata Siska.  Siska lalu mengajak Evi dan Mbok Siti keluar gudang.

Seminggu kemudian, Siska mendengar dua kabar dari Evi. “Wofu sudah sehat lagi!” kata Evi sangat bahagia. “Syukurlah!” seru Siska senang. “Lalu, Mama dan Papa memutuskan untuk membongkar dan menghilangkan gudang di belakang pekarangan. Mereka bilang kita tidak butuh gudang itu. Sekarang gudang itu sudah tidak ada. Dan tidak ada kejadian aneh yang dialami para pekerja sewaktu membongkar gudang,” cerita Evi. Siska lega mendengarnya. Lalu, apa sebenarnya yang dialami Wofu, Mbok Siti, dan Siska di dalam gudang? Tidak ada yang tahu. Tapi, ketakutan seseorang bisa menimbulkan hal-hal aneh, mewujudkan apa yang tak nyata menjadi nyata. karena itu…jadilah seorang pemberani!

 

 

Cerita: Seruni    Ilustrasi: Novi Chrisna

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *