Negeri Zing terkenal dengan penduduknya yang pandai menjadi prajurit dan petani. Namun beda dengan Guda, si yatim piatu berbadan kecil dan sakit-sakitan. Saat pelajaran bertani, ia sering jatuh pingsan. Begitu juga saat Guda belajar menjadi prajurit. Ia takut dengan suara tembakan keras dan tidak kuat berolahraga.

“Aku tidak akan pernah bisa menjadi petani ataupun menjadi prajurit!” seru Guda kesal bukan main. Guda menjadi bahan ejekan anak-anak panti asuhan yang lain. “Kau benar-benar tidak berguna!” kata mereka. Guda yang sedih lalu menghibur diri dengan membaca buku.

Guda menemukan buku tentang cara membuat robot. “Ternyata, robot  bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukan manusia. Robot juga bisa dijadikan teman!” kata Guda. Ia lalu mulai belajar dan bekerja  keras untuk membuat robot.

Suatu hari, koki istana pensiun karena usianya sudah renta. Raja negeri Zing sedih karena tak bisa makan kue buatan sang koki. Guda pun  membuat robot koki yang bisa membuat kue. Raja sangat senang dan memberikan Guda sejumlah uang untuk belajar tentang ilmu robot di negeri seberang.

Berita tentang robot buatan Guda membuat kagum teman-teman di panti asuhan yang pernah mengejeknya. “Guda, maukah kau menjadi teman kami?” tanya mereka.

Huh, kalian mau berteman denganku karena aku sudah bisa membuat robot!” pikir Guda. ”Aku harus pergi keluar negeri, jadi percuma saja berteman dengan kalian. Lagipula aku sudah punya robot sebagai teman!” jawab Guda.

Waktu berlalu. Guda kini terkenal sebagai pembuat robot paling hebat. Ia pulang ke negeri Zing yang dilanda musibah. “Terjadi serangan penyakit, Guda! Para petani dan prajurit kami menjadi lemas dan tidak bisa bekerja dengan baik. Kalau begini terus, negeri Zing akan hancur!” kata sang raja. “Aku akan menolong raja!” ucap Guda.

Guda kemudian membuat robot-robot yang diinginkan oleh raja. Robot-robot itu bekerja persis seperti para petani dan prajurit. “Robot buatanmu hebat!” seru sang raja. “Robot bahkan lebih hebat dari petani dan prajurit sesungguhnya, Raja. Mereka tidak bisa sakit!” kata Guda.

“Sekarang justru petani dan prajuritlah yang tidak berguna! Robot-robotku akhirnya mengalahkan kalian semua! pikir Guda sambil tersenyum dingin.

Suatu pagi, Guda terkejut. Langit tiba-tiba gelap. “Gerhana matahari!” serunya. Brang! Brang! Brang! Terdengar suara keras di luar rumah Guda. “Robot-robotku!” teriak Guda ketakutan. Karena gerhana matahari, robot-robot Guda menjadi rusak. Mereka menjadi jahat dan berusaha menyerang Guda.

“Tolooong!” seru Guda menjerit ketakutan. “Guda, kami akan menolongmu. Gerhana matahari ini menyembuhkan penyakit lemas kami!” kata teman-teman panti asuhan yang berhasil mengalahkan robot-robot jahat itu. Akhirnya, Guda pun selamat.

“Aku sangat menyesal, teman-teman. Aku menyimpan dendam dan tidak mau memaafkan kalian. Ternyata, robotku tidak lebih hebat! Mereka hanya meniru pekerjaan kalian dan tidak punya hati!” tangis Guda.

“Kami juga menyesal telah mengejekmu, Guda. Bisakah kita menjadi teman?” tanya teman-teman Guda. “Tentu saja!” jawab Guda. Sejak itu, Guda membuat robot bukan untuk menggantikan teman-temannya tapi untuk membantu pekerjaan mereka.

( Cerita: Seruni/ Ilustrasi: Fika )

 

 

 

 

 

 

 

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *