Gina, Ida, Badu, dan Budi adalah 4 sekawan yang sudah bersahabat sejak dari Taman Kanak-kanak. Persahabatan mereka berlanjut sampai ke Sekolah Dasar. Di antara 4 anak itu, Gina dikenal punya sifat yang keras. Apa pun yang dikatakannya, semua harus disetujui. Ida, Badu, dan Budi kadang-kadang merasa kesal dengan sifat keras Gina.

Saat masa adaptasi kebiasaan baru tiba, Gina tidak berhenti membuat Ida, Badu, dan Budi kesal. Gina terus menerus mengirimkan pesan lewat gadget, atau menelepon mereka untuk selalu berhati-hati. “Jangan lupa pakai masker! Jangan lupa cuci tangan! Kalau tidak ada air, bawa hand sanitizer! Jangan berkerumun, tetap jaga jarak! Kalau habis keluar rumah, mandi dulu!” ucap Gina selalu mengingatkan tiga sahabatnya. “Ih, Gina kamu kan bukan Mama dan Papa aku!” protes Ida. “Iya, kalau mau lihat peraturan, kan tinggal cari di internet aja,” kata Badu dan Budi.

Ida terkadang suka mengeluh pada Papa dan Mama tentang sifat Gina. Tapi, Papa dan Mama malah tertawa senang. “Justru Mama malah senang kalau kamu punya teman seperti Gina,” kata Mama. “Iya, Papa senang Gina itu anak yang disiplin dan taat peraturan, dan dia tidak segan untuk mengingatkan sahabat-sahabatnya,” tambah Papa. “Huuuh!” keluh Ida.

Bel pintu rumah berbunyi.  “Wah, pesanan makananku datang!” seru Ida senang. Tiba-tiba, gadget Ida berbunyi. Rupanya Gina! “Oh iya Ida, aku lupa bilang! Kalau pesan makanan dari luar, hangatkan lagi, ya! Dan jangan lupa mencuci uang kembaliannya!” kata Gina lalu memutus sambungan teleponnya. Mama dan Papa Ida yang mendengar hal itu tertawa senang. “Nah, Mama juga pernah menasihati kamu persis sama seperti Gina, tapi kamu tidak pernah menuruti Mama! Itu kan demi kebaikan kamu,” kata Mama sambil tersenyum geli. “Iya deh! Aku nyerah!” seru Ida sambil berjalan ke arah dapur.

Dan akhirnya sekolah mulai dibuka kembali. Jujur saja, 4 sahabat itu merasa lega karena sudah merindukan gedung sekolah dan bertemu guru-guru mereka. Tapi kemudian sesuatu terjadi. Bu Irma, guru Ilmu Pengetahuan Alam, memanggil. “Hah? Kenapa kita berempat dipanggil Bu Guru?!” seru Budi ketakutan. “Tenang, kita nggak dihukum kok. Pokoknya, ayo kita ketemu Bu Irma dulu,” kata Gina. Memang benar kata Gina, Bu Irma tersenyum senang waktu 4 sahabat itu datang. “Wah, Ibu benar-benar kagum pada kalian. Mau menggantikan tugas Pak Gugun yang sedang sakit, menyiram tanaman di sekolah!” kata Bu Irma.

Ida, Budi, dan Badu memandang Gina sambil melongo terkejut. “Lho, ada apa? Kok kalian terkejut?” tanya Bu Irma bingung. “Maaf Bu Guru…sebetulnya aku langsung bilang saja pada Ibu kalau Ida, Budi, dan Badu mau ikut membantu. Habisnya kalau aku bilang dulu, pasti mereka nggak akan mau ikut!” kata Gina. “Haduuuh! Kalah deh kita sama Gina! Dia memang nggak bisa dilawan!” seru Ida, Badu, dan Budi.

Bu Guru Irma tertawa. “Orangtua kalian semua sudah setuju, dan mereka bangga lho,” kata Bu Irma. Gina memandang bergantian ke arah Bu Irma dan ketiga sahabatnya, salah tingkah. Kini giliran Ida, Badu, dan Budi yang tertawa. “Muka Gina lucu banget! Biasanya berwajah angkuh bagai penguasa yang menakutkan,” kata Ida, Budi, dan Badu yang tidak kesal lagi dengan sifat Gina yang keras.

Ternyata, Gina adalah teman yang berharga. Dia sangat menjunjung tinggi kebaikan dan memperhatikan ketiga temannya! “Nah, kalau kalian sudah sepakat, ayo kita menyiram tanaman bersama!” kata Bu Guru Irma. “Baik, Bu!” sahut Gina, Ida, Budi, dan Badu semangat.

 

 

 

 

 

Cerita: Seruni      Ilustrasi: Agung

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *