Gerbong 123

“Tika, kamu tau cerita Gerbong 123?” Susi bertanya dengan wajah serius. “Itu kan cerita udah lama dan nggak ada itu Gerbong 123 yang berhantu,” ujar Tika ketus. “Eh, tau nggak, gerbong itu sekarang lagi ramai dibicarakan. Kemarin Tante aku, Tante Tia, dengar ibu-ibu lagi ngomongin tentang Gerbong 123. Katanya, gerbong itu akan berbau anyir kalau jalan pada malam Jumat kliwon,” ujar Susi nyerocos sementara Tika tidak peduli karena sedang sibuk membetulkan tali tasnya yang putus. Susi pun berlalu dari hadapan Tika sembari cemberut karena ceritanya dianggap angin lalu oleh Tika.

Keesokan harinya, Tika terburu-buru berangkat ke rumah Kakek-nya di daerah Casablanca. Tika pun naik kereta agar bisa cepat sampai di rumah Kakek. Kue yang dibawanya harus sampai sebelum acara tahlilan tujuh hari Paman Ugie dimulai. Sesampainya di stasiun Bojong Gede, tanpa sengaja Tika melihat nomor gerbong kereta yang akan dinaikinya, “Gerbong 123”. Deg, jantung Tika berdetak kencang. “Ada apa dengan jantungku, ah.. cerita Susi kemarin itu tidak benar,” gumam Tika seraya menepis cerita Susi yang terngiang-ngiang di otaknya. Tika pun menaiki Gerbong 123 tersebut yang kemudian membawanya hingga ke stasiun Tebet. Sampai di stasiun Tebet, Tika melanjutkannya dengan angkot menuju daerah Casablanca.

Hari sudah larut malam saat acara tahlilan tujuh hari Paman Ugie selesai. Tika bergegas pamitan pada Kakeknya. Sampai di stasiun Tebet, Tika melirik jam tangan Swatch merah miliknya. Jam tepat menunjukkan  pukul 23.00 WIB. Suasana di stasiun terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang sedang menunggu kereta. Samar-samar, Tika melihat seseorang berdiri di ujung peron dengan baju compang-camping. Tika ingin memperjelas penglihatannya yang sudah sedikit ngantuk, tetapi kereta keburu datang. Sebelum menaiki kereta, Tika melihat  tulisan “123” di gerbong yang akan dinaikinya. Jantung Tika berdetak kencang, namun ia enggan memikirkan kejadian barusan dan cepat-cepat menaiki kereta tersebut.

Tika berusaha menenangkan jantungnya yang terus berdetak kencang. Tanpa sengaja, hidungnya mencium bau aneh di kereta tersebut. Bau anyir (amis) dan semakin anyir tercium. Tika berusaha mencari sumber bau tersebut. Ada hal aneh yang membuat Tika tak habis pikir. Bau anyir sangat tajam tercium olehnya, tapi, tidak ada satu pun penumpang yang terusik oleh bau tersebut. Tika clingak clinguk sembari hidungnya mengendus mencari sumber bau anyir yang mengganggunya. Namun, sia-sia karena ia tidak menemukan sumber bau tersebut. Tika pun berusaha untuk tahan terhadap bau itu seperti penumpang kereta lainnya.  “Kenapa, Nak, kamu mencium bau anyir, ya? Itu tadi di stasiun sebelumnya, ada yang membawa ayam mentah dan jatuh ke lantai. Tapi sudah dipel oleh petugas kebersihan kereta. Mungkin baunya masih tersisa di saluran AC,” ujar seorang nenek dengan baju compang-camping menjelaskan kebingungan Tika. Tika pun sedikit lega karena cerita Susi yang sudah membuatnya takut sedari pergi sampai pulang, ternyata tidak terbukti. Namun, ketika Tika ingin berbicara kembali dengan nenek tadi, ia sudah tidak melihatnya lagi. Bau anyir semakin menusuk hidung Tika dan keringat dingin banyak keluar. Mata Tika mulai berkunang-kunang dan tak berapa lama, Tika pingsan.

“Bangun Nak, bangun…. Kamu tidak boleh pingsan disini,” ujar suara perempuan tua. Tika berusaha membuka matanya perlahan dan ia kembali melihat nenek tua yang dijumpainya dalam gerbong kereta tadi. “Saya kenapa, Nek?” tanya Tika. “Kamu tadi mau lompat dari jendela kereta, terus ditarik sama penumpang kereta dan kemudian kamu pingsan. Sekarang kamu ada di pusat kesehatan stasiun Depok Baru,” ujar nenek tua itu rinci. “Aku tidak lompat kok, aku hanya tidak tahan dengan bau anyir di kereta tadi. Jadi, ku buka jendelanya dan kepalaku ku keluarkan untuk dapat udara segar,” jelas Tika panjang lebar pada nenek tua tersebut. Nenek tua compang-camping itu hanya tersenyum dan kembali pergi. Ia pun tidak menggubris Tika yang berteriak-teriak memanggilnya.

Setelah sehat, Tika melanjutkan perjalanannya kembali dengan kereta menuju stasiun Bojong Gede. Dua orang ibu-ibu penumpang kereta di samping Tika, membicarakan tentang Gerbong 123. Tika pun antusias nguping mendengarkan obrolan mereka. “Dalam setiap tragedi di Gerbong 123, selalu ada nenek berpakaian compang-camping yang akan menolong orang yang akan celaka karena bau anyir. Nenek itu salah satu orang yang menjadi korban bau anyir tersebut. Ia tidak mau ada korban lagi karena bau anyir itu,” ujar ibu-ibu penumpang kereta. “Berarti, nenek compang-camping yang berbicara padaku di kereta dan membangunkanku saat pingsan tadi itu, nenek Gerbong 123,” gumam Tika pelan. Reflek mata Tika menoleh ke kiri ketika kereta lewat dengan kencang dan ia melihat nenek berpakaian compang-camping tersenyum ke arahnya. Tika pun membalas senyuman itu. “Terima kasih, Nek, sudah menolongku,” ucap Tika menitikkan air mata. (Teks: Just For Kids/ Ilustrasi: Fika)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *