Persahabatan Rika, Tania, Saskia, dan Murni memang sangat erat. Kemana saja mereka pergi, selalu bersama-sama. Mereka terkenal di sekolah dengan sebutan Geng Biru.

Mereka selalu terlihat kompak. Hebatnya lagi, setiap hari mereka mengikat rambut mereka dengan pita berwarna biru. Bukan itu saja, tas, sepatu, kaos kaki, dan jam tangan mereka pun seragam. Intinya, tidak ada persahabatan yang seerat dan sekompak mereka.

Namun, sikap Murni mulai aneh akhir-akhir ini. Ia sering pergi sendirian, atau bermain dengan teman-teman lain. Rika, Tania, dan Saskia merasakan perubahan temannya itu. Bahkan di luar dugaan mereka, hari ini Murni mulai tidak mengenakan pita biru untuk mengikat rambutnya.

“Murni, kenapa kamu tidak memakai pita?” tanya Rika.

“Iya, kenapa Murni?” sambung Tania. Murni menunduk diam.

“Apa pitamu hilang?” tanya Saskia. Murni menggeleng.

“Lalu, kenapa?” lanjut Saskia.

“Mulai sekarang aku tidak mau memakai pita lagi,” jawab Murni setelah didesak terus.

“Apa…?!!” ucap ketiga temannya serentak.

“Ya, mulai sekarang aku tidak akan memakainya lagi,” tandas Murni.

“Kenapa, Murni?” potong Rika.

“Aku tidak bisa membeli sepatu roda seperti kalian…,” ucap Murni.

“Oh..jadi karena itu?” ucap Tania. “Itu kan soal gampang! Kita bertiga nanti akan patungan membelikan kamu sepatu roda itu,” lanjutnya.

“Iya, tenang saja,” tambah Saskia langsung menyetujui usul Tania.

“Aku tahu, kalian bisa membelikan sepatu roda itu. Tapi, bukan karena itu saja, Tania,” kilah Murni.

“Terus, apa lagi?” tukas Rika.

“Apakah kalian tidak merasa, teman-teman lain tak pernah lagi main bersama kita?” tanya Murni kemudian.

“Memangnya kenapa?” sela Rika dengan kening agak berkerut.

“Teman-teman yang lain menganggap, bila mereka mau bermain dengan kita harus mengenakan apa-apa yang kita pakai. Seperti ikat rambut, sepatu, tas, kaos kaki, semuanya harus sama. Karena mereka tidak mampu memenuhi persyaratan tersebut, mereka enggan bermain dengan kita,” jelas Murni.

Untuk beberapa saat, Rika, Tania, dan Saskia diam.

“Apakah kalian merasakan semua itu?” ulang Murni.

“Ya!” sahut Rika perlahan. “Aku merasakannya. Kita tidak akrab lagi dengan teman-teman yang lain,” tambah Rika.

“Kalian berdua bagaimana?” tanya Murni lagi pada Saskia dan Tania. Keduanya diam, membenarkan apa yang dikatakan Rika tadi.

“Kalau begitu, sebaiknya kita tidak memakai ‘seragam’ kita lagi?” usul Tania.

“Ya, itu lebih baik!” jawab Murni cepat. “Aku yakin, tanpa semua itu kita akan tetap bersahabat, bahkan kita akan memiliki teman yang lebih banyak lagi,” lanjutnya.

Ketika mereka mulai melepas pita biru mereka, dari kejauhan Silvi yang bertubuh agak gemuk berlari menghampiri mereka.

“Hei, maukah kalian menerima aku menjadi salah satu anggota Geng Biru,” katanya agak terengah-engah. “Lihat! Aku mengenakan pita yang biasa kalian pakai,” lanjutnya sambil menunjukkan rambutnya yang diikat oleh pita biru.

Rika, Tania, Saskia, dan Murni tersenyum melihat ulah Silvi. “Tanpa pita biru itu pun, kita semua tetap sahabatmu, Sil,” kata Rika.

“Jadi, aku diterima masuk anggota kalian?” tanya Silvi.

“Tentu!” sahut Rika.

“Tapi, kenapa sekarang kalian kok tidak mengikat rambut kalian dengan pita biru?” tanya Silvi lagi. “Kalau sekarang rambut kami diikat, takut pipi kami terlihat makin gemuk seperti kamu, Silvi,” kelakar Tania sambil tertawa lalu menggandeng Silvi mengajaknya ke dalam kelas.

Rika, Saskia, dan Murni sambil tersenyum ikut masuk kelas mengikuti Silvi dan Tania. Sejak saat itu kelompok Geng Biru tak pernah lagi memakai ‘seragam’ mereka. Teman-teman pun kembali mau bermain dengan mereka.

 

Cerita: JFK    Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *