Liburan panjang tahun baru selesai, Ebi semangat masuk sekolah lagi. “Aku kangen  dengan Nela dan Umi! Mudah-mudahan mereka suka oleh-oleh yang kubawa,” kata Ebi. Karena Ebi dan keluarganya berlibur ke luar negeri, dia hanya bisa bertemu kedua temannya itu lewat gadget.  Tapi di sekolah, Ebi hanya melihat Umi sendirian. “Lho, dimana Nela?” tanya Ebi pada Umi. “Tidak tahu, aku lagi tidak mau ketemu Nela,” jawab Umi cemberut.  “Aduh, apa-apaan sih, pakai marahan segala!” keluh Ebi. Dia juga jadi ikut kesal, dan marahan dengan Umi.

Ebi harap Nela dan Umi mau berbaikan sendiri. Tapi ternyata tidak. Akhirnya, Ebi terpaksa mendamaikan mereka.  Sebagai permulaan, dia bertanya pada Nela. “Umi marah karena aku belum mengembalikan gelang yang  sudah lama kupinjam dari dia,” jawab Nela. “Kembaliin dong,” kata Ebi. “Dulu gelang itu kusimpan di kamarku. Aku lupa gelangnya disimpan dimana sekarang,” keluh Nela. “Aduh, Nela!” ucap Ebi terkejut. “Aku malas membereskan kamar sendiri, Bi Inem yang membereskan kamarku,” jelas Nela.

Ebi memutuskan untuk membantu Nela mencari gelang Umi. Hari Minggu, dia menginap di rumah Nela.  Nela bertanya pada Bi Inem tentang gelang Umi. “Waktu itu, Bibi membereskan gelang-gelang Non Nela, mungkin gelang Non Umi ada disitu. Bibi taruh di gudang,” jawab Bi Inem.  Ebi dan Nela terpaksa mencari di gudang.  Ebi menggaruk kepalanya, pusing melihat tumpukan barang di gudang rumah Nela. “Apa boleh buat, demi pertemanan kita, ayo cari gelang Umi,” ajak Ebi.

Waktu berlalu, tapi keduanya belum juga menemukan gelang Umi. Ketika hampir menyerah, Ebi menemukan kotak perhiasan kecil dan membukanya. Isinya gelang! “Ini gelang Umi!” seru Nela senang. “Harusnya Bi Inem yang mencarinya,” keluhnya.  “Kamu tidak boleh begitu!” seru Ebi pada Nela. Saking marahnya, Ebi berdiri dan dahinya terbentur kayu. DUK! “Aduh!” seru Ebi.  “Ebi!” seru Nela khawatir. “A..aku tidak apa-apa,” kata Ebi.

Untung Ebi tidak apa-apa, tapi dahinya sedikit biru, dan Nela menyadarinya. Umi langsung lupa kalau mereka sedang marahan.  “Ebi, dahimu kenapa?” tanya Umi khawatir. “Aku mencari ini,” Ebi membuka genggaman tangannya. “Gelangku!” seru Umi senang. Lalu Nela mengintip dari balik tembok. “Ada yang mau baikan,” kata Ebi tersenyum. “Umi, maaf, aku memang menyebalkan. Mulai tahun ini dan seterusnya, aku nggak akan jadi pemalas dan akan menghargai barang-barang yang  kupinjam dan kepunyaanku sendiri,” kata Nela. “Ini oleh-oleh tahun baru!” seru Ebi sambil menyerahkan dua gelang cantik. “Gelang!” ujar Umi dan Nela tertawa senang. “Aku juga punya yang sama. Kita jaga gelang ini baik-baik, ya!” kata Ebi. “Oke!” janji Umi dan Nela.

 

Cerita: Seruni      Ilustrasi: Agung

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *